Mengenang Kisah Nabi Ibrahim As

Mengenang Kisah Nabi Ibrahim As

GEMA JUMAT, 8 SEPTEMBER 2017

Khatib: Dr. H. Gamal Achyar, Lc. MA, Dosen UIN Ar-Raniry

Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang menjadi suri tauladan bagi seluruh ummat. Sebagaimana Nabi Muhammad juga menjadi suri tauladan bagi Ummat akhir zaman. Dan sebagai bukti bahwasanya nama nabi Ibrahim selalu disandingkan dengan nama Nabi Muhammad SAW. Dan kenapa dalam doa tasyahhud selalu disandingkan antara nabi Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim beserta dengan keluarga-keluarganya? Kerena ini adalah buah daripada doa para Malaikat yang senantiasa mendoakan Nabi Ibrahim dan keluarganya sebagaimana dalam fi rman-Nya dalam surat Hud ayat 73 tatkala malaikat memberikan kabar gembira dengan diberikan keturunan yang shaleh disaat usianya sudah tua, lalu mereka terheran. Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

Dalam al-Qur’an, setidaknya nama Ibrahim disebutkan dan diulang-ulang sebanyak 68 kali diantaranya 15 kali disebutkan dalam surat Al-Baqarah. Nabi Ibrahim juga seorang Nabi banyak diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan, mulaidari menghadapi orangorang penyembah berhala, berhadapan dengan Raja Namrud, seorang penguasa yang dzalim, dibakar hidup-hidup kerana keimannya kepada Allah dan puncaknya adalah ketika nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya Ismail AS. Dan Nabi Ibrahim berhasil melewati berbagai macam ujian tersebut sehingga beliau termasuk salah seorang Rasul Ulul Azmi.

Kisah Ibrahim dan Burung pipit

Ada kisah yang menarik perhatian kita, dan tentu saja akan menjadi ibrah dan pelajaran dari kisah tersebut, yang

menceritakan seekor burung pipit di zaman Nabi Ibrahim AS. Tatkala ketika Nabiyullah Ibrahim menghancurkan berhalaberhala sesembahan kaum musyrikin. Mereka langsung menuduh Ibrahim yang melakukannya dan mereka berkata “tangkap Ibrahim ahriquuhu bakar hidup-hidup”! Lalu kekasih Allah itu dibakar oleh Namrudz yang kejam.

Allahpun memerintahkan pada api agar menjadi dingin terhadap Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam surat al Anbiya 69 : Kami berfi rman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, Setelah api padam mereka tercengang melihat Ibrahim tegak ditengah tumpukan kayu yang telah jadi abu itu tanpa kurang satu apapun. Dengan tenang Ibrahimpun keluar dari tumpukan kayu bakar tersebut, diiringi pandangan pengikut Namrudz yang tercengang melihat kejadian itu. Dan sebelumnya, pada saat api membakar tubuh nabi Ibrahim, seekor burung kecil inipun berusaha melakukan sesuatu dan tidak tinggal diam. Dia angkut air dengan paruhnya

yang kecil untuk memadamkan kobaran api besar yang disulut raja yang dzalim. Berulang-balik dia mengangkut air, dan pasti, usaha itu tidak memadamkan api yang sangat besar. Perbuatan burung pipit itu diperhatikan oleh makhluk

Allah yang lain, lantas bertanyalah mereka kepada burung kecil itu, “Mengapa kamu bersusah-payah bolak-balik mengambil air, sedangkan kamu tahu api besar yang membakar Nabi Ibrahim takkan hilang dengan sedikit air yang

kamu siramkan itu?“ Lalu dijawab oleh burung kecil, “Walaupun aku tahu aku tidak akan mampu memadamkan

api tersebut, namun aku mesti berusaha untuk menegakkan kebenaran dengan segenap kemampuan yang kumiliki.”

“Allah tidak akan bertanya kepadaku apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi aku lebih takut Allah akan menanyakan apa yang aku lakukan saat melihat kezaliman di depan mataku!”

Dakwah dan Perjuangan

Jangan berdiam diri, ambil bagian dalam dakwah dan perjuangan. Besar kecil tak jadi soal. Sebab Allah yang menilai dan memandang. Sahabat Bilal bin Rabbah RA, ketika Sayyidina Abu Bakar mengumumkan akan mengumpulkan Al Quran, beliau mengambil bagian yang sering dianggap ringan dalam sejarah. Beliau pergi dan berjalan ke tempat-tempat yang jauh, membawa kabar dan pengumuman. Menyeru kepada semua kaum Muslimin yang menghafal Al Quran untuk datang ke Masjid Nabi, untuk dikumpulkan dan dibukukan. Maka jika kini kita membaca Al Quran, sungguh Sahabat Bilal RA akan mendapatkan pahala yang mengalir dari usaha yang beliau lakukan. Beliau mengambil peran dari sebuah perjalanan dan proses sejarah yang besar. Tidak tinggal diam. Sahabat Ammar bin Yassir juga punya peran yang sangat unik. Saat pembangunan Masjid Nabawi, beliau sangat semangat sekali. Diangkutnya batu di pundak kiri dan kanan. Berkalikali beliau bolak balik memanggul batu, sampai keruntuhan. Dan membuat khawatir Rasulullah dan semua sahabat yang lain. Mereka bertanya, mengapa

membawa batu tak satu-satu? mengapa harus membawa beban di kiri dan kanan? Lalu Sahabat Ammar memberikan jawaban, “Aku membawa dua. Yang satu untukku sendiri. Dan yang satu lagi, aku hadiahkan untukmu ya Rasulullah.” Allahu Akbar !

Peduli sesama Muslim

Dan sekarang, ketika kita melihat umat Islam di intimidasi, ada saudarasaudara kita yang di tindas, di dhalimi, ada saudarasaudara seiman kita di sakiti seperti yang menimpa saudara-saudara kita di Rohingya, apakah kita hanya berdiam diri?! Lalu apa yang akan kita jawab ketika Allah SWT menanyakan hal tersebut kepada kita di hari akhir nanti?! Oleh karena itu, dalam moment yang sangat mulia ini, dibulan yang mulia ini mari sama-sama kita membantu saudara-saudara kita yang di rohingnya. Kita berikan dan kita korban harta terbaik kita dijalan Allah karena itulah harta sejati kita. Apa yang kita belanjakan untuk kebutuhan kita adalah sesuatu yang hilang dan binasa, apa yang kita simpan mungkin akan kita tinggalkan dan kita wariskan kepada yang lain, tetapi apa yang kita infakkan di jalan Allah itulah harta kita nanti di akhirat. Kalau kita menginginkan menjadi orang yang kaya di akhirat nanti jadilah orang yang rajin berinfak di jalan Allah. Marilah sama-sama kita bantu saudara-saudara kita yang ada di Rohingya. Mudah-mudahan donasi kita menjadi bukti persaudaraan kita, kelak jika mereka masuk surga lebih dahulu karena kedzaliman yang mereka hadapi dengan sabar, mereka akan mencari kita dipintu syurga, dimana

saudara-saudara kami yang dulu di dunia menolong kami dengan setiap donasi dan harta mereka, InsyaAllah didunia kita menolong mereka nanti di akhirat mereka yang akan menolong kita. Mirip dengan kisah seekor burung kecil dengan Nabiyullah Ibrahim AS. Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah

akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” Riwayat Muslim.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.