Belum Ada Solusi Konkret atas Kasus Rohingya

Belum Ada Solusi Konkret atas Kasus Rohingya

GEMA JUMAT, 15 SEPTEMBER 2017

Wawanacara :

Dr. Tgk. M. Adli Abdullah, MCL  Sekretaris International Concern Group for Rohingya (ICGR)

Gelombang pengungsi kelompok etnis Rohingya telah berlangsung dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai faktor pemicu membuat para pengungsi kini terdampar di perairan Indonesia, Thailand, dan Malaysia dalam kondisi memprihatinkan. Selain persoalan diskriminasi, krisis Rohingya juga menyangkut persoalan ekonomi dan politik.

Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) mencatat, dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 120.000 orang Rohingya telah mengungsi ke luar negeri dengan menggunakan kapal. Dalam kuartal pertama tahun 2015, sebanyak 25.000 warga Rohingya meninggalkan Myanmar. Angka ini sekitar dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Di Indonesia, hingga tahun 2014 terdapat 11.000 pengungsi Rohingya. Berikut Wawancara Gema Baiturrahman, dengan Dr. Tgk. M. Adli Abdullah, MCL, Sekretaris  International Concern Group for Rohingya (ICGR).

Sejak kapan anda terlibat aktif dengan Isu Rohinggya? 

Alhamdulillah, saya aktif terlibat aktif dalam Isu Rohingya sejak 2010 lalu, dan aktif mengirimkan bantuan kepada warga Rohingya di Myanmar.

Pandangan Anda dengan Isu Rohingya saat ini?

Saya melihat, ekses konflik etnis di Rakhine State Myanmar yang belum selesai sampai hari ini, membuat banyak etnis Rohingya lari ke berbagai negara, termasuk ke Aceh (Indonesia).Padahal, dalam konteks hak asasi manusia (HAM), masalah pengungsi diatur dalam Konvensi Pengungsi 1951, protocol 1967, Konvensi tentang Status Orang Tanpa Kewarganegaraan (Statelessness) 1954 dan Konvensi 1961 tentang Pengurangan Keadaan tanpa Kewarganegaraan (The Reduction of Statelessness). Konvensi Pengungsi 1951, meliputi prinsip-prinsip untuk tidak melakukan pemulangan (non-refoulment), tidak melakukan pengusiran (non-expulsion), tidak melakukan pembedaan (non-discrimination), dan menghindari pemidanaan akibat cara masuk yang ilegal bagi para pengungsi yang tiba.

Apa pengaruh Kunjungan Menlu RI kemarin?

Saya lihat belum ada solusi konkret atas kasus melanda Rohingya ini. Etnik Rohingya adalah satu etnik yang dapat dikatakan terpenjara di wilayah mereka sendiri. Semakin berlarutnya masalah ini membuat stereotype orang Rohingya menjadi momok yang menghambat solusi atas nama kemanusiaan apa pun kemudian hari.

Apa Solusi Tawaran Anda?

Solusinya, Indonesia bisa belajar dari beberapa negara yang mempunyai kasus serupa yaitu diberi kebebasan mareka bergerak, bukan ditempatkan di tahanan imigrasi menunggu penempatan di negara ketiga yang difasilitasi oleh UNHCR atau IOM.

Di samping itu, pemerintah Indonesia harus proaktif berperan menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar baik secara bilateral maupun multilateral bersama anggota ASEAN lainnya,  menekan pemerintah Myanmar untuk melakukan dialog dan rekonsiliasi di Myanmar demi menjaga stabilitas kawasan. Maka komunitas internasional perlu menekan Pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan etnis dan genosida di sana

Harapan Anda?

Kasus ini perlu penanganan khusus. Diharapkan ASEAN dan PBB sanggup membuka jalur dialog yang efektif, untuk kasus ini agar stabilitas kawasan dalam perspektif apa pun tetap terjaga, untuk kepentingan antar-bangsa di kawasan ini.

 

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.