Hijrah Umara

Hijrah Umara

GEMA JUMAT, 22 SEPTEMBER 2017

Kemarin, Kamis (21/9) umat Islam di seluruh dunia membuka lembaran almanac baru yakni 1 Muharram 1439 H. Arti hijrah secara literal yakni meninggalkan dan berpisah. Makna hijrah yang lebih luas yakni bergerak dari arti fi sik dan non fisik. Kita bergerak dari kondisi yang kacau, tidak berdaya ke kehidupan yang lebih baik. Kita sering mendengar ucapan – bukan hadits – yakni muslim yang baik yaitu hari ini lebih baik daripada kemarin. Dalam bahasa motivator, selalu ada perubahan ke arah amarmakruf nahi mungkar setiap detik.

Setiap tahun baru Islam unat mengadakan berbagai aktivitas seromonial untuk mengingatkan generasi muda Islam untuk paham arti hijrah. Perayaan itu penting untuk menggugah semangat perubahan dan sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan khalifah. Simbol dan isinya sama penting sebagai syiar dalam berdakwah.

Apa makna hijrah bagi umat Islam dalam dunia milinenia ini? Apakah kita masih perlu hijrah fi sik atau merantau? Ya kadangkala kita harus merantau ke wilayah lain bahkan Negara untuk menambah wawasan atau rezeki sekaligus berdakwah di era teknologi.

Imam syafi ’i ulama besar memberi nasihat kepada pemuda untuk tidak takut merantau. Orang yang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang). Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).

Berlelah-lelahlah karena manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan…… Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak mengalir akan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapatkan mangsa.

Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran Sementara itu hijrah non fi sik adalah perubahan sikap setiap umat untuk melakukan perubahan dari sisi buruk ke sisi akhlaqul karimah. Setiap orang diwajibkan bertekad berhijrah sesuai dengan kondisi yang dialami setiap orang. Bagi perokok berat, hijrahnya adalah mengurangi mengisap rokok per hari hingga dua jari bebas dari bau asap rokok. Logikanya, setiap perokok yang habiskan minimal Rp 300 ribu/ bulan, maka setiap tahun perokok itu bisa berqurban seekor kambing.

Hijrah bisa juga dimaknai dari berburuk sangka buruk (suuzan) ke baik sangka (husnuzan). Apalagi bersikap benci dan iri tanpa alasan yang jelas dan logis. Pokoknya benci saja tanpa perlu argumen. Akhirnya, kita terus dalam ayunan kebencian dan permusuhan. Nah ini perlu hijrah dari permusuhan atau paling tidak menghapuskan kebencian, memaafkan dan terakhir melupakan.

Setiap tahun juga, umara mernyelenggarakan peringatan tahun Islam. Umara dalam berbagai pidato mengajak umat untuk hijrah dari hal-hal yang jelek kepada yang baik. Pada dasarnya setiap umat harus mendongkrak kadar hijrah amal atau ibadah setiap menit. Tanpa mempertanyakan atau meminta orang lain yang duluan melakukannya.

Jika umat sebagai jamaah, umara itu adalah imuen sembahyang. Umaralah yang pertama melakukan hijrah untuk melayani umat. Mereka memberi contoh dan bukti. Umara adalah khadam bagi umat. Bukan di balik uamt yang melayani umara. Sebagai pemimpin, umara yakni pemerintah atau birokrat wajib menganut mazhab Hana Fee alias malu lakukan pungl, tidak rajin meminta suap atau upeti atau jatah kepada warga sebab itu semua hukumnya haram. Jika umara istiqamah tidak mengamalkan perbuatan keji seperti maling uang rakyat, menghambat kerja warga karena tidak diberikan suap dan sebagainya, maka kondisi daerah atau Negara itu lebih cepat baik. Kata bijak menegaskan ikan duluan busuk di kepala. Bangsa atau organisasi itu baik atau buruk tergantung di jajaran manajemen. Bagaimana Anda, apa setuju untuk hijrah melakukan deposito amal untuk bekal di hari akhirat? Murizal Hamzah

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.