Musabaqah Replika Kendaraan Hias di Lamkawe

Musabaqah Replika Kendaraan Hias di Lamkawe

GEMA JUMAT, 22 SEPTEMBER 2017

Lazimnya menyaksikan festival takbir menyemarakkan hari raya menampilkan mascot seperti masjid, kubah,

menara, bedug, ketupat, unta dan lainnya yang dibuat visual mendekati sebenarnya. Bahkan maskot itu dibuat sekaligus diangkut menggunakan truk berbadan besar atau tronton.

Musabaqah takbir pada umumnya melibatkan syekh kalangan remaja atau dewasa yang fasih mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid dan menyertakan berpuluh barisan pejalan kaki.

Namun yang terjadi di Gampong Lamkawe Kecamatan Darul Imarah tergolong unik dan tidakbiasa. Sebagaimana yang disaksikan ratusan warga masyarakat setempat dan sekitarnya, Sabtu (9/9) malam lalu, semua maskot perlombaan semarak takbir Idul Adha 1438H dibuat dalam ukuran serba kecil. Kendaraan yang

dipakai sekaligus mengangkut karya dekoratif yakni replika truk. Untuk memaksimalkan mobil mainan dari plastik itu, bak truk dilepaskan dan ditarik dengan tali. Hanya beberapa peserta yang merakit sendiri, sebagian besar dikerjakan orang tua atau saudara yang lebih dewasa.

Kriteria penilaian ini lebih difokuskan pada kratifi tas, dekoratif, adab dan pakaian. Kalau pun terdengar gema takbir bersumber dari video berasal dari android dan alat rekam.

Tingkat kerapian, kerumitan, keserasian serta pemanfaatan bahan daur ulang menjadi kunci utama meraih suara tinggi. Tak heran barang bekas seperti triplek, kardus, kemasan, lempeng telur, kertas marmer, styrofoam, stik es krim, tusuk sate, tutup botol plastik dan pipa pralon mendominasi bahan utama membuat ikon miniatur. Ada yang memanfaatkan wadah tusuk gigi sebagai pengganti beduk. Sedangkan spike atau kemasan jarum suntik diubah menjadi menara, stik es krim dan tusuk sate menjadi pagar.

Kelap-kelip lampu hias menggunakan batere dan lampu emergency berwarna-warni, menambah kemeriahan festival yang konon baru pertama diadakan di Serambi Mekkah.

Start dilepas dan berakhir di halaman rumah imam meunasah dengan rute tempuh kitaran 350 meter. Namun sebegitu dekat, lomba yang diikuti 21peserta berusia 6-13 tahun ini, tiba di garis fi nish dengan lama tiga puluh menitan. “Parapeserta sulit mengendalikan laju kendaraan mini itu disebabkan faktor ketidakserasian besar dan berat maskot yang dibawa truk,” sebut salah seorang panitia Mahassabirin.

Juri mulai menilai sebelum start. Maklum karena dekorasi dari bahan rapuh dan rentan dikuatirkan mudah rusak. Benar saja, roda truk beberapa peserta ada yang terlepas sebelum melewati garis start. Bahkan kubah atau menara ada yang terguling karena perekatan kurang baik. Kejadian ini tentu saja mengundang tawa dan sorakan dari para penonton.

Seharusnya kegiatan unik ini dilaksanakan sepekan sebelumnya. Namun peserta minim yang siap berkompetisi. “Kami usulkan lomba ditunda, agar peserta lebih banyak dan lebih meriah,” ujar Ira, salah seorang pelopor festival.

Kontestan yang menyedot perhatian adalah replica tank berbahan triplek untuk body, pipa pelontar peluru dan lempeng telur sebagai roda. Demikian dengan kapal ferry. Tank dan ferry tidak saja berukuran lebih besar tapi memang rumit dan rapi seperti view asli. Duplikat Taj Mahal walau berukuran agak kecil dan sebuah masjid bercat pink tak kalah menarik peserta dan penonton.

Karena ketidaksiapan dan kurang koordinasi panitia yang dibentuk spontanitas terjadi salah penghitungan. “Penjumlahan via handphone (HP) dengan keypad sebegitu kecil mengakibatkan kesalahan fatal. Sehingga peringkat 6 besar saat diumumkan dan pembagian hadiah adalah Nomor 12, 1dan 5, 13, 10 dan 11.

Setelah acara selesai, penghitungan ulang melalui komputersisasi pemuncak secara berurut; 1. Muhtadi (No 15), 2. Farel (No 12), 3. Dayan Fata (No 5). Selanjutnya Harapan 1. Sultan Rasya (No 1), 2. Mustajib (No 13) dan 3. Nailul (No  17). Panitia menyediakan uang pembinaan bagi peringkat 1-6 dan biaya partisipasi bagi semua peserta.

Diharapkan musabaqah takbir Idul Adha dapat menjadi even rutin pada tiap tahunnya. “Kedepan, kami berupaya menyempurnakan festival ini agar lebih meriah, teratur dan hadiah juga lebih memuaskan,” tambah Mahassabirin. NA RIYA ISON

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.