Melayani para Pembaca

Melayani para Pembaca

 GEMA JUMAT, 6 OKTOBER 2017

Mahasiswa nampak antri memasuki Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Setiap harinya perpustakaan ini dipenuhi mahasiswa untuk mencari informasi, mengerjakan tugas, berisitarahat, dan sebagainya.

Saat ditemui Gema Baiturahman, Kepala Perpustakaan Unsyiah Dr Taufiq Abdul Gani berbagi pengalamannya mengenai fungsi dan pelayanan perpustakaan. Menurutnya, sebuah fungsi perpustakaan bisa diperluas. Pihak perpustakaan Unsyiah sendiri mengadakan talk show, pentas kesenian, dan dialog di sana. Suasana perpustakan menjadi lebih hidup.

Taufiq menjelaskan, fasilitas-fasiliatas di perpustakaan seyogyanya mengikuti perkembangan zaman, misalnya memiliki wifi, serta nyaman. “Tidak apa-apa kalau pendatangnya tidak membaca buku. Tapi ketika butuh bahan informasi, mereka akan datang sendirinya untuk membaca,” tambahnya.

Buku dan minat baca

Perpustakaan erat kaitannya dengan dunia literasi. Sumber bacaan di perpustakaan bisa menjadi bahan utama untuk menulis. Literasi sendiri bermakna kemampuan membaca dan menulis.

Setiap perpustakaan memiliki  kekhasan koleksi bacaannya. Perpustakaan di universitas biasanya menyediakan koleksi bacaan yang berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa. Kalau di perpustakaan publik tersedia koleksi yang lebih beragam. Perpustakaan khusus seperti di kantor disesuaikan keperluan kantor.

Terangnya lagi, pihak perpustakaan tidak bisa meningkatkan minat baca seseorang, kecuali menyediakan fasilitas kebutuhan pembaca. Diakuinya, minat baca masyarakat tergolong rendah. Padahal, dengan membaca menambah wawasan seseorang. Apalagi sekarang sudah tersedia buku elektronik yang bisa diakses melalui smart phone. Masyarakat seharusnya lebih  mudah memperoleh bacaan.

“Sebuah perpustakaan bukan hanya sumber informasi, tetapi juga untuk membangkitkan inspirasi,” ujarnya.

Ia menyarankan supaya pemerintah menyediakan perpustakaan di lokasi publik, seperti di pasar. Di sela-sela kesibukan masyarakat berbelanja, mereka bisa menyempatkan diri untuk membaca.

Soal jadwal buka-tutup perpustakaan, sarannya, tidak mengikuti jam kantor. Dampaknya, pegawai perkantoran akan kesulitan ketika ingin membaca di perpustakaan. Di sisi lain, orang tua dan anaknya terbatas bila ingin ke perpustakaan bersama-sama. “Kalau orangtuanya kerja di kantor, anaknya pergi ke sekolah, jadi kapan mereka sama-sama ke perpustakaan,” imbuhnya.

 

Melayani di Tengah Kesulitan

Suasana nyaman juga terlihat di Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman. Pengunjung yang didominasi kaum hawa sibuk membaca serta membuat tugas. Ruangannya ber-AC, tersedia wifi, kursinya empuk. Koleksi buku bacaannya mencapai sekitar 12 ribu koleksi. Tidak sedikit buku-buku langka terdapat di sana. Pegawainya gemar memberi senyuman sambil melayani pengunjung satu per satu.

Pelayanan perpustakaan Masjid Raya sudah diupayakan semaksimal. Sekilas perpustakaan ini tidak memiliki hambatan. Ketua Perpustakaan Zulfikri SIP, menjelaskan, selama ini pihak perpustakaan kesulitan biaya. Selama ini mereka mencari biaya operasional secara mandiri. Mereka mengajukan proposal, biasanya ke Kantor Gubernur Aceh, untuk memperoleh dana membeli buku. Rak dan banyak koleksi buku di sana berasal dari donatur yang berbaik hati.

“Sekitar tahun 2008, kita pernah belanja buku baru sampai Rp 10 juta dari dana kantor gubernur. Sekarang kita belanja kisarannya ratusan ribu. Tergantung dana yang ada,” paparnya.

Ia mengakui pihaknya mulai segan mengajukan proposal. Orang-orang menganggap Masjid Raya mempunyai dana yang cukup banyak untuk mendanai kebutuhan perpustakaan.

Bahkan, sampai sekarang mereka belum sanggup memperbaiki lantai di ruang belakang yang bocor. Posisinya lebih rendah dari lantai di ruang lain. Akibatnya, ketika hujan, air dari luar masuk ke dalam. Beberapa kali mereka sudah menyampaikannya ke pihak berwenang, tapi tidak respon.

Sementara itu, perpustakaan cuma memiliki satu komputer yang aktif. Sedangkan beberapa lainnya sudah rusak. Ia berharap supaya Perpustakaan Masjid Raya mendapat perhatian serius. “Walaupun demikian, pengunjun perpustakaan semakin ramai,” tuturnya. Zulfurqan

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.