Medsos Pengaruhi Kesehatan Jiwa

Medsos Pengaruhi Kesehatan Jiwa

GEMA JUMAT, 13 OKTOBER 2017

Media sosial seperti instagram, facebook, twitter, youtube, dan sebagainya berkembang sangat pesat. Hampir setiap pengguna ponsel pintar memiliki salah satu atau lebih media sosial (medsos) tersebut. Seiring perkembangannya, medsos mempunyai dampak positif dan negatif. Tergantung kepada penggunanya.

Persoalan manfaat dan kerugiaan media sosial dibahas secara menarik dalam seminar nasional bertajuk Media Sosial, Globalisasi dan Dampaknya Terhadap Dinamika Masyarakat di Hotel Grand Aceh di Hotel Grand Nanggroe Aceh (9/10) Banda Aceh. Hadir sebagai pemateri Dr Suprawoto, Dr rer med Marthoenis MSc MPH, dan Prof Dr Bachtial Aly MA.

“Orang yang baik di dunia nyata, akan bersikap baik juga di media sosial dan sebaliknya,” papar Suprawoto.

Media sosial (medsos) memiliki pengaruh yang cukup kuat. Semua orang di berbagai belahan dunia terhubung melalui media ini. Karenanya, pengguna medsos wajib memperhatikan aturan-aturannya. Di Indonesia, hukuman atas pelanggaran penggunaan medsos lumayan berat. Landasannya, efek medsos lebih berbahaya dibandingkan dunia nyata.

Ia menjelaskan, sifat media sosial abadi. Rekam jejak seseorang bisa dapat dilihat melalui postingan-postingannya di sana. “Pikir dulu sebelum upload, karena dampaknya abadi,” imbuhnya.

Medsos sangat bermanfaat sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Dewasa ini, perkembangan bisnis online di Indonesia berkembang pesat. Biaya promosi sebuah produk di medsos sangat murah, bahkan bisa gratis. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan media sosial berawal dari kemajuan teknologi.

Berdasarkan data dari World Economic Forum, tahun 2015-2020, 35 persen jenis pekerjaan di dunia akan hilang, sedangkan khusus di ASEAN sebanyak 19%. Penyebabnya mobile internet dan cloud technology. Misalnya, pemesanan tiket tidak perlu lagi menggunakan biro travel, melainkan sudah bisa secara online.

Pengaruh psikologi

Sampai sekarang, Indonesia berada di peringkat empat besar pengguna medsos. 80 persen di antaranya menggunakan facebook. Sedangkan pertumbuhan internetnya meningkat 10 persen setiap tahun.

Menurut Marthoenis, beberapa manfaat  medsos yakni, sebagai internet marketer, promosi produk, media belajar, dan lain-lain.  Sayangnya 25 dari 100 persen pengguna medsos mengalami masalah kejiwaan. “Mereka menjadikan medsos sebagai pelarian untuk mengekpresikan diri. Ini adalah salah satu gejala gangguan jiwa,” pungkasnya.

Gejala gangguan jiwa lainnya seperti, stres karena tidak diikuti kembali (follow back) di instagram atau stres sebab postingannya tidak disukai. Keinginan untuk terus terhubung ke internet. Tidak nyaman seandainya tidak bisa mengakses instagram. Selalu mengecek medsos meskipun tidak ada apa-apa di dalamnya. Selalu butuh wifi. Berharap semua orang memiliki medsos dan mengikuti dirinya.

“Medsos bisa membuat seseorang kecanduan hampir sama seperti kecanduan narkoba,” sambungnya.

Pencandu medsos cenderung kurang bergerak. Fisiknya rentan terhadap obesitas, kinerja terganggu, sosial berkurang, semangat belajar dan prestasi menurun.

Katanya, yang paling bisa mengontrol penggunaan medsos adalah penggunanya sendiri. Sedangkan bagi orang tua, seyogyanya mempelajari karakter dan masalah anaknya untuk mencegah anaknya kecanduan medsos. Pemberian penghargaan dan hukuman dapat mendorong si anak lebih hati-hati menggunakannya.

Hal senada disampaikan oleh Bachtiar Aly. Ia mengajak pengguna medsos memproteksi diri sendiri dari hal yang tidak baik. Bahkan, pengguna media sosial cenderung bersikap sombong dan iri hati. “Solidaritas mulai runtuh, terjadi perubahan perilaku dan sikap karena banyak menggunakan medsos,” terangnya.

Di medsos penyebaran informasi lumayan liar. Oleh karenanya, informasi di medos harus dicek dan ricek. Salah satu cara mengecek informasinta adalah dengan mencari sumber asli informasi tersebut. “Informasi online tidak seakurat media cetak,” sambungnya. Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.