Kaya dan Dermawan

Kaya dan Dermawan

GEMA JUMAT, 20 OKTOBER 2017

Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadits menyebutkan tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah. Dari hadits tersebut bisa dipahami bahwa manusia harus terus berusaha menggapai hidup yang lebih baik sehingga bisa menolong orang lain. Bagi orang kaya, sudah seyogyanya mendermakan hartanya supaya bermanfaat bagi orang lain.

Tgk T. Hanansyah SE AK CA CRBD .menjelaskan Islam mendidik umat bisa memanfaatkan hartanya di jalan Allah. “Orang-orang kaya yang mendermakan hartanya akan masuk ke surga,” pungkasnya.

Dalam kehidupan sekarang ada tiga golongan manusia. Pertama, orang yang terus menerus beribadah tapi lupa mencari rezeki. Kedua, sibuk mencari harta, sayangnya lalai ke masjid. Ketiga, rajin ke masjid juga rajin mencari rezeki.

Ia menjelaskan, demi memperoleh kesejahteraan, seorang muslim harus bertaubat. Dengan memohon ampun kepada Allah, maka seorang hamba akan memperoleh rahmat-Nya. Setan akan selalu menakuti manusia terhadap kemiskinan. Islam mengajarkan umatnya terus berdoa diiringi dengan usaha memperoleh kesejahteraan hidup.

“Di Aceh, pemerintah perlu mendukung kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, salah satu cara menyelesaikan masalah ekonomi Aceh adalah dengan menghilngkan riba. Riba bisa merusak tatanan ekonomi masyarakat. Ia berharap masyarakat saling bekerjama memberantas riba yang merupakan dosa besar.

Dosen Jurusan Ekonomi Islam Unimal Damanhur Abbas Lc MA menuturkan, kemiskinan bukanlah sesuatu yang baik. Kekhawatiran terbesar Rasulullah adalah ketika umat Islam lalai dengan harta yang diperoleh. “Tapi tidak dilarang memiliki harta yang banyak. Harta yaang kita miliki kita bawa ketika mati melalui sedekah, wakaf,” paparnya.

Allah tidak melarang manusia memiliki harta berlimpah. Melalui kekayaan, seorang hamba bisa menggunakannya di jalan yang diridhai-Nya. Selama harta berada di tangan yang bijak, maka akan mendatangkan kebahagiaan.

Keinginan menjadi kaya tidak akan terwujud tanpa usaha. Hampir tidak ada orang kaya mendadak. Direktur Utama PT Reubee Consultant Jamaluddin, menuturkan, berwirausaha harus digeluti sejak usia muda. Waktu yang tersedia masih lumayan panjang. Kalaupun mereka mengalami kegagalan, mereka mempunyai banyak waktu untuk berusaha lebih baik.

Peluang kerja begitu luas di Aceh. Dibutuhkan kejelian agar bisa melihat peluang tersebut. Jangan sampai orang luar yang datang ke Aceh merebut kesempatan tersebut. “Pemuda jangan asik menghabiskan waktunya di warung kopi, ayo sama-sama bergerak,” tuturnya.

Dunia kerja membutuhkan orang-orang terampil dan kreatif. Pemerintah bisa memanfaatkan posisinya untuk membina masyarakat dan mengarahkannya. Kala mereka mempunyai usaha atau mampu bekerja, pengangguran di Aceh berkurang. Seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat.

Jamaluddin mengatakan, murid-murid di lingkungan dayah juga diasah keterampilannya. Alangkah indahnya jika melihat orang-orang kaya berakidah kuat.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang berharta seperti, mendirikan lembaga pendidikan, membangun rumah dhuafa, serta membuka lapangan kerja bagi orang lain. “Orang kaya berilmu agama akan lebih diteladani,” pungkas mantan ketua KNPI Aceh itu.

Jamaluddin menyampaikan supaya tidak bermalas-malasan jika ingin menjadi orang kaya. Pagi tidak dimanfaatkan untuk tidur, melainkan bekerja. Hasil dari setiap pekerjaan dikumpulkan, diinvestasikan, walaupun sedikit. Pengeluaran kebutuhan sehari-hari disesuaikan dengan pendapatan. “Karena dari yang kecil-kecil inilah kita simpan, kemudian investasi,” imbuhnya.

Menurut Jamal, pada dasarnya orang Aceh tidak malas bekerja. Mereka hanya terbiasa dengan kondisi hidupnya dan tak ingin berusaha mendapatkan lebih. Oleh karenanya, dibutuhkan binaan pemerintah supaya para pemuda terarah bekerja sesuai kemampuannya. Pemerintah perlu membuka ruang lebih lebar untuk mendengarkan keluh kesah masyarakat dalam memperoleh pekerjaan. “Kalau angka pengurangan berkurang dengan cara seperti ini, pemerintah tidah butuh didatangi investor untuk mengurangi angka pengangguran di Aceh,” lanjutnya.

Buruknya kondisi perekonomian suatu daerah memicu munculnya permasalahan sosial, bahkan tindakan kriminal seperti pembunuhan. Selagi Aceh masih menerima dana otonomi khusu, ekonomi Aceh harus membaik. Kalau sekarang belum baik, kondisinya semakin parah setelah dana otsus tidak diberikan lagi.

Selama ini, kata Jamaluddin, kita selalu disibukkan isu politik dibandingkan isu penyelesaian masalah ekonomi. “Di media kita lihat bicara politk setiap hari, pembunuhan,” terusnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.