MENCIPTAKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAMI

MENCIPTAKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAMI

GEMA JUMAT, 20 OKTOBER 2017

Oleh: Dr. Tgk. H. Syabuddin Gade, M.Ag

Khutbah pada hari yang mulia ini mengambil tema “menciptakan model pendidikan Islami”. Menurut pemahaman khatib tema ini amat menarik dan menantang, karena “menciptakan model pendidikan Islami” merupakan bagian dari usaha atau proses membangun “hardware dan software” bagi umat Islam dengan harapan baik hidup maupun mati berada dalam ajaran Islam dan bertaqwa kepada Allah. Dasar dari usaha “menciptakan model pendidikan Islami” tidak terlepas dari perintah Allah, yang artinya;

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan memeluk Islam” (Ali Imran:102).

Ibnu Kastir menafsirkan dengan ungkapan “Hafizhu ‘ala al-islam fi hali shihhatikum wa salamatikum litamutu ‘alaihi  … “anna  man ‘asya ‘ala syai’in mata ‘alaihi wa man mata ‘ala syai’in bu’itsa ‘alaihi” (Tegakkanlah Islam ketika kamu masih sehat agar kamu mati dalam Islam… siapa saja yang menopang hidup di atas Islam niscaya ia akan mati dalam Islam dan siapa saja yang mati dalam Islam niscaya iapun akan dibangkitkan dalam Islam) (Lihat fatwa.islamweb.net/fatwa/inde, diakses 17/10/2017). Karena itu, “menciptakan model pendidikan Islami” merupakan salah satu bentuk pengamalan ajaran Islam agar umat Islam belajar dan memperoleh ilmu sebagai bekal hidup dunia dan akhiratnya melalui pendidikan yang bedasarkan atau sesuai dengan ajaran Islam.

Persoalan yang sering mengemuka dan menimbulkan tanda tanya di kalangan kita, bahkan masyarakat pada umumnya, antara lain;  Apa itu pendidikan Islami? Bagimana kurikulumnya? Bagaimana strategi dan cara mengajarnya? Bagaimana bentuk dan modelnya?  Apakah model pendidikan kita yang sudah berlaku di Indonesia, khususnya di Aceh, sudah atau belum Islami? Tepatnya, apakah SD, SMP, SMA, SMK, PT dan sejenisnya sudah atau belum Islami? Apakah model MI, MTs, MAN, PTAI dan sejenisnya sudah atau belum Islami? Apakah model dayah salafi, modern dan ma’had ‘ali (dayah manyang) sudah atau belum Islami? Apakah model pendidikan tahfiz sudah atau belum Islami? Apakah belajar di TPA/TPQ sudah atau belum Islami? Apakah pendidikan di rumah tangga (belajar mengaji dan agama di rumah baik dengan orang tua atau dengan guru private) sudah atau belum Islami?

Sesungguhnya, semua jenjang dan bentuk pendidikan tersebut sudah Islami, karena kurikulum, metode, bentuk atau modelnya tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya saja kadar standar Islaminya yang mungkin bervariasi; misalnya ada lembaga pendidikan yang muatan isinya difokuskan pada ilmu fardhu ’ain saja; ada yang uatan  ilmu fardhu ‘ain lebih banyak dari pada ilmu fardhu kifayahnya; terkadang ada juga yang sebaliknya di mana mutan ilmu fardhu kifayah lebih banyak daripada fardhu ‘ainnya; boleh jadi pula terjadi perbedaan pada penetapan standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik ataupun standar lainnya.

Hamba Allah yang mulia! Sebenarnya “menciptakan model pendidikan Islami” di Aceh bukanlah hal yang sulit sekali, bahkan mudah, yakni dengan menganalisa standar nasional pendidikan yang sudah ada untuk kemudian disepakati  standar mana yang perlu dibenahi dan diperluas secara bertahap dengan prinsip “al-muhafadzhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah” dalam rangka membangun pribadi yang bertaqwa, berakhlak mulia, berilmu pengetahuan, berketarmpilan, cinta kepada Negara dan bangsa. Justeru, yang terkesan sulit adalah pada sikap kita umat Islam sendiri dalam “mengambil keputusan” dan “melaksanakan keputusan” tentang pendidikan Islami. Mengapa sulit? Mungkin karena tidak ada kemauan keras. Mengapa tidak ada kemauan keras? Mungkin karena iman dan komitmen keislaman kita semakin lemah dan loyo.

Karena itu, hamba Allah yang mulia,  marilah kita memperkuat iman dan komitmen ke-Islaman kita di mana hidup dan mati kita demi Islam sehingga menimbulkan keasadaran dan usaha untuk mewujudkan pendidikan Islami baik terhadap diri sendiri; di institusi pendidikan formal, non-formal dan informal; di rumah tangga, masjid-mesjid, meunasah-menasah, café-café, rek-rek, warung-warung kopi, lapangan olah raga, di kantor-kantor, di mall-mall  dan di lingkungan masyarakat pada umumnya”. Usaha ini tidak seharusnya menunggu “peraturan gubernur” sebagai landasan legal-formalnya. Kita semua bisa melakukannya sesuai kemampuan dan kewenangan yang kita miliki.

Usaha pemerintah Aceh untuk membangun dan menciptakan pendidikan Islami memang belum maksimal. Kita sudah punya qanun pendidikan Aceh yang begitu Islami, tetapi belum punya “peraturan gubernur” yang mengatur secara detail tentang pendidikan Islami di Aceh, bahkan model “kurikulum pendidikan Islami-pun” masih “on going process”. Ini adalah tantangan sekaligus pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diselesaikan oleh pemerintah Aceh. Kita sebagai rakyat wajib mendukungnya.

Banyak masyarakat bertanya-tanya; apa keistimewaan kita dalam bidang pendidikan ketimbang daerah-daerah lainnya di Indonesia? Apakah nilai plus sistem pendidikan di Aceh ketimbang sistem pendidikan di daereh lainnya di Indonesia? Sadar atau tidak, kita akui atau tidak sesunguhnya sistem pendidikan di Aceh dalam praktiknya masih sama saja dengan di daereh lainnya di Indonesia. Bahkan, mutu pendidikan kita masih rendah ketimbang daerah-daerah lainnya.

Marilah kita membuka kesadaran kita untuk mewujudkan pendidikan Islami! Bukankah pendidikan Islami diperlukan untuk memudahkan umat memahami dan mengamalkan ajaran Islam sehingga hidup dan mati mereka benar-benar dalam Islam dan bertaqwa kepada Allah? Jika kita yakin dengan itu, maka do it rightnow! Jangan sibuk berteori, jangan sibuk mencari definisi pendidikan Islami; ide dan gagasan tentang pendidikan Islami sudah bertaburan; bentuk dan modelnya banyak pilihan; legal-formal tentang pendidikan Islami memang penting, tetapi jangan menunggu lahirnya “kurikulum” dan “peraturan gubernur” tentang pendidikan Islami! Segera tentukan sikap dan keputusan! Sebab, kita berpacu dengan waktu; kita sebagai orang tua punya kewenangan dan tanggungjawab besar untuk memformat  kepribadian dan kecakapan generasi Islami Aceh kini dan masa yang akan datang. Sekurang-kurangnya kita bisa memulainya terhadap diri sendiri dan anak-anak kita dalam keluarga; mari kita jadikan keluarga sebagai istitusi pendidikan Islami. Mari kita buat keputusan cerdas; segera revisi visi, misi dan kurikulum pendidikan rumah tangga! Keputusan untuk memilih ada di tangan kita (ayah-bunda).

Mari kita citakan dan wujudkan pendidikan Islami, karena pendidikan Islami akan mempermudah kita menempuh jalan taqwa kepada Allah, selamat dunia dan akhirat. In syaa Allah. Wa Allahu A’lam.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.