Jihad Sebenarnya

Jihad Sebenarnya

GEMA JUMAT, 10 NOVEMBER 2017

 

Dari segi bahasa, jihad artinya bersungguh-sungguh. Kata jihad satu rumpun dengan kata ijtihad. Bedanya, ijtihad bertujuan menentukan suatu hukum. Pada masa Nabi Muhammad, ketika kata jihad disebutkan, maknanya berperang dengan maksud menegakkan ajaran Islam. Sedangkan sekarang, makna jihad beragam seperti, mendirikan negara Islam, memberantas kemiskinan, memberantas kebodohan.

“Di negeri kita sudah tidak ada lagi peperangan ideologi antara Islam dengan non Islam,” kata Ketua Dewan Dakwah Aceh, Dr Tgk H Hasanuddin Yusuf Adan MA.

Sayangnya, dewasa ini jihad diindentikkan dengan terorisme. Hal ini bisa terjadi karena permainan politik pihak yang tidak bertanggungjawab. Ada penguasa besar di dunia yang mencoba mempelintirkan makna jihad ke arah negatif.

Indonesia, kata Hasanuddin, negara yang tengah berkembang ini rentan dimasuki pemikiran-pemikiran sekuler untuk memudarkan makna jihad yang sebenarnya. Kaum muslim diharapkan berhati-hati menghadapi hal tersebut.

Penguasa dunia mencoba membuat kesan seolah-olah Islam adalah agama teroris. Bisa dilihat dari pemberitaan-pemberitaan di media. Ketika kaum muslim membela dirinya dari penindasan orang kafir dianggap teroris. Sebaliknya, kalau non muslim melakukan tindakan kriiminal sama sekali tidak dilabelkan sebagai teroris.

Menurutnya, pemimpin-pemimpin Islam harus bergerak menghilangkan kesan teroris dari makna jihad. Mereka perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahkan pada level internasional mengenai makna jihad seutuhnya.

Sementara itu, masyarakat sudah mencoba mengembalikan makna jihad. Meskipun demikian, jika pemerintah tidak mendukungnya, usaha mereka akan sia-sia. “Penguasa tidak boleh mementingkan bagaimanca cara mempertahankan jabatannya, melainkan memikirkan masalah umat,” pungkas Hasanuddin.

Ketua BKM Masjid Jami’ Darussalam, Prof Dr Mustanir Yahya MSc, mengatakan, jihad bermakna mengeluarkan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Kesungguhan tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bersungguh-sungguh dalam ibadah, bekerja, berdakwah, dan sebagainyaIa menegaskan jihad bukan hanya dalam konteks peperangan. “Itu pemahaman jihad sebenarnya,” katanya.

Orang yang tidak mengerti makna jihad akan mengaitkannya dengan aksi terorisme. Kaum muslim bertugas meroposisi makna jihad. Apalagi jihad bukanlah kata yang baru muncul. Ada juga pihak-pihak yang mempelintirkan makna jihad. Seolah-olah jihad padat stigma negatif.

Semangat beribadah

Terkadang, semangat seseorang dalam beribadah bisa luntur. Penyebabnya tidak ditopang oleh pemahaman agama yang baik. Orang yang menemukan kenikmatan beribadah, semangat itu akan terus dipompa dengan baik. Sehingga, rasa gelisah akan menghinggapi kalau ritual ibadahnya berkurang. Sementara itu, orang yang tidak memahami hikmah beribadah dengan baik, dirinya kurang bersemangat memperbanyak ibadahnya.

Allah membalas setiap amal ibadah yang dikerjakan hamba-Nya. Balasan tersebut lebih besar dari perkiraan manusia. Balasan Allah tersebut luput dari pandangan banyak manusia. Andai kata orang bisa langsung melihat balasan Allah, ia tidak akan pernah meninggalkan ibadahnya, baik yang wajib maupun sunat.

Mustanir memberikan tamsilan ketika seseorang tahu ada emas di balik sebuah gunung. Ia akan bersungguh-sungguh dengan sekuat tenaganya meraih emas tersebut. Sama halnya jika ia paham balasan Allah atas amalan kebaikan hamba-Nya.  “Nah, coba lihat orang yang bersungguh-sungguh mencari emas di Gunung Ujeun, tengah malam mereka masih mau bekerja,” tambahnya Guru Besar Unsyiah ini.

“Mereka melakukan berbagai upaya untuk memperoleh emas tersebut. Karena dia tahu di sana terdapat emas,” kata Mustanir.

Sekali lagi ia mengingatkan bahwa ibadah merupakan perintah Allah yang diajarkan melalui Nabi Muhammad saw. Di samping itu, semangat beribadah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Orang yang dikelilingi orang saleh lebih hidup semangatnya. Dengan kata lain, orang tersebut memiliki sosok teladan dalam beribadah.

Allah telah menjanjikan balasan terhadap perbuatan kebaikan dan kejahatan. Orang yang beribadah ditempatkan bersa golongan orang-orang yang akan memperoleh kenikmatan. Sedangkan, orang yang meninggalkan kewajiban berbidah, ditambah melakukan perbuatan tercela, dibalas dengan azab pedih.Zulfurqan

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.