Semangat Malahayati

Semangat Malahayati

GEMA JUMAT, 10 NOVEMBER 2017
Oleh Murizal Hamzah

Kemarin, 9 November, Presiden Joko  Widodo menyerahkan gelar  Pahlawan Nasional Tahun 2017 yang diterima ahli waris TGK H Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari NTB, Laksamana Malahayati dari Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepri, dan Lafran Pane dari DI Yogyakarta.

Empat pahlawan ini pernah memimpin dan berjuang dengan mengangkat senjata atau perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.  Tidak pernah menyerah kepada musuh dalam perjuangan, mengabdi dan berjuang sepanjang hidupnya bahkan melebihi tugas yang diembannya, melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara, hingga pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Menteri Sosial Khofifah mengatakan dengan penganugerahan ini, jumlah Pahlawan Nasional menjadi 173 jiwa yang terdiri dari 160 laki-laki dan 13 perempuan.  Empat tokoh yang mendapat gelar ini adalah muslim dan bagian dari merawat sejarah. Kita bisa belajar semangat dan istiqamah melawan kaphe-kaphe  atau mencerdaskan anak bangsa.

Sebut saja Malahayati (Keumala Hayati) yang lahir pada 1550 dan syahid pada 1615 dimakamkan di Krueng Raya, Aceh Besar. Malahayati adalah laksamana perempuan pertama di dunia. Perempuan cerdas  ini memiliki 2.000 pasukan Inong Balee (janda prajurit Aceh)  yang mahir menembak meriam, menunggang kuda serta bertempur di laut.

Tahun 1606, Malahayati bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) mengalahkan armada laut Portugis.  Oh ya, Laksamana Malahayati adalah lulusan jurusan angkatan laut di Mahad Baitul Makdis, akademi militer kerajaan Aceh yang dibangun atas bantuan pemerintahan Usmaniyah Turki di bawah Sultan Selim II. Di sinilah, Malahayati bertemu calon suaminya yang sama-sama belajar di sana.

Setelah suaminya gugur dalam pertempuran, Malahayati memohon kepada Sultan Aceh Sultan Al Mukammil untuk membentuk armada yang semua prajuritnya janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Kelak yang masih gadis juga masuk menjadi marinir Inong Balee dengan kekuatan 100 kapal perang

Sultan setuju dan mengangkat Laksamana Malahayati sebagai Panglima Armada Inong Balee (Armada Perempuan Janda). Markasnya di Teluk Lamreh Krueng Raya. Bentengnya bernama Kuto Inong Balee di perbukitan tinggi temboknya tiga meter dengan lubang-lubang meriam mengarah ke laut.

Menelisik sejarah Tanoh Endatu, tidak ada masalah perempuan atau pria memimpin dengan catatan memiliki kemampuan intelektual dan adab.  Aceh memiliki segudang pejuang perempuan yang merupakan hasil didikan di rumah masing-masing yang bersandi Islam.

Ya semangat Laksamana Malahayati, Tjot Njak Dien, Cut Meutia dan lain-lain dalam berjihad mengusir kaum penjajah mesti bergemuruh. fisik bisa sudah menyatu dengan tanah. namun semangat berjihad mesti selalu ada. Jika dulu lawannya fisik kaum kolonial, kini musuh umat Islam antara lain kemiskinan, kebodohan dan sebagainya.

Dulu berjihad dengan menghunus rencong, kini jihad dakwah dan harta. Jika dulu bisa, sekarang pun harus bisa. Bukan generasi yang mengagungkan masa lalu yang miskin prestasi masa kini apalagi masa depan. Dan juga bukan generasi yang melupakan sejarah. Masa lalu penting, namun masa kini dan masa depan lebih penting. Maka kaca spion mobil lebih kecil daripada kaca depan mobil. Hidup ke depan dan masa lalu (sejarah) menjadi cermin dan pelajaran untuk masa kini dan depan.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.