Orang yang Penuh Akal Versi Al-Quran

Orang yang Penuh Akal Versi Al-Quran

GEMA JUMAT, 10 NOVEMBER 2017

Khutbah Dr. H. Badrul Munir, Lc, MA, Dosen Fakultas  Syariah UIN Ar-Raniry dan LIPIA Banda Aceh

Apabila seseorang selalu berzikir baik bentuk umum dan khusus, tetapi melakukan sebuah tindakan dan kebijakan yang merugikan agama, negara, masyarakat dan lingkungannya, maka orang tersebut belum layak diberikan titel dan dijuluki Ulul al Bab. Sebaliknya, jika ia selalu berpikir untuk melakukan sebuah kegiatan yang membawa kemaslahatan dan berdampak positif bagi agama dan negaranya, tetapi saat bersamaan, dia tidak konsisten berzikir, maka orang tersebut juga belum naik kelas ke posisi dan taraf Ulul al Bab.

Kalau kita membaca, menghayati dan memahami al Quran al Karim, maka kita temukan dalam sejumlah ayat, Allah memberikan beberapa gelar bagi orang yang beriman dan beramal saleh, antara lain dengan sebutan Muttaqun, Mukminun, Muhsinun, Ulun Nuha dan gelar-gelar lainnya.

Namun kalau kita kembali membaca al Quran ayat per ayat secara mendalam, maka ada lagi sebuah gelar khusus yang diberikan bagi orang yang selalu beriman dan konsisten melaksanakan amalan saleh. Gelar ini diulang di dalam al Quran sebanyak 16 kali pada 16 ayat. Bahkan Allah menegaskan, tidak ada orang yang benar-benar beribadah kepada Allah dan konsisten dengan amalan saleh, hingga meninggal dunia serta mengambil pelajaran dari ayat-ayat dan kebesaran Allah dari penciptaan bumi dan langit, kecuali orang yang mendapatkan gelar khusus ini.

Maka apakah sebutan gelar khusus tersebut dan ciri-ciri atau kharakteristik khusus, sehingga seseorang layak mendapatkan gelar dimaksud?

Mari kita baca, hayati dan pahami serta kontemplasi kembali firman Allah dalam Surah Ali Imran, ayat 190-192: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi Ulul al Bab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran : 190-191)

Titel Ulul al Bab

Ayat di atas menyebutkan titel khusus tersebut yang langsung diberikan dan dikukuhkan oleh Allah yaitu Ulul al Bab beserta ciri-cirinya. Ulul artinya orang-orang yang mempunyai, sedangkan al Bab adalah jama’ dari lubbun yang berarti inti. Berarti Ulul al Bab adalah orang yang mempunyai inti dari segala sesuatu yang sangat penting. Bagi manusia, hingga membedakannya dengan hewan, yaitu akal untuk berpikir secara cerdas. Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya (2/184), bahwa Ulul al Bab adalah: “Orang-orang yang mempunyai akal sempurna, penuh dan cerdas yang bisa mengetahui hakekat sesuatu secara jelas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ulul al Bab adalah gelar bagi orang yang telah penuh, matang dan cerdas akalnya, kemudian hasil telahaan akalnya tersebut dijadikan sebagai pelajaran dan bekal dalam menghadapi kehidupan di dunia dan kehidupan masa depan di akhirat.

Kalau kita lihat definisi orang yang berakal dan cerdas menurut versi manusia, adakalanya seseorang disebut pintar, jika mampu memecahkan suatu masalah yang orang lain tidak dapat memecahkan masalah tersebut atau ia memecahkan sebuah masalah dengan solusi yang lebih kreatif. Terkadang juga disebut orang pintar, apabila seseorang mempunyai inovasi baru atau terobosan baru, yang mana belum ditemukan oleh orang-orang sebelumnya, terutama penemuan-penemuan spektakuler di bidang teknologi, kedokteran, politik, ekonomi, sosial dan berbagai penemuan revolusioner lainnya.

Siapa saja yang dapat dianugerahkan gelar paling terhormat Ulul al Bab, maka menurut versi al Quran tidak semua orang dapat mencapai taraf Ulul al Bab, kecuali telah terpatri dan terpenuhi pada dirinya dua ciri dan sifat utama, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran, ayat 191.

Ciri pertama Ulul Al Bab: Selalu Berzikir

Ciri pertama Ulul al Bab sebagaimana dijelaskan oleh al Quran, Ayat 191, Surah Ali Imran yaitu orang-orang yang selalu berzikir dan mengingat Allah, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.

Berzikir atau mengingat Allah dapat diartikan dalam bentuk umum dan bentuk khusus. Bentuk umum berupa mengingat Allah dalam segala situasi baik dengan lisan maupun hatinya dengan menghadirkan pengawasan/muraqabah Allah ketika melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan berzikir atau mengingat Allah dalam bentuk khusus dapat diartikan dengan selalu beribadah kepada Allah sesuai syariah dalam bentuk Shalat 5 Waktu dan Sunat lainnya, membaca Al Quran, berdoa, beristighfar, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil dan membaca zikir yang matsur dari Al Quran dan Hadis.

Yang menjadi pointers penting bagi kita, Ulul al Bab tidak hanya berzikir dan mengingat Allah ketika berdiri, saat sehat, waktu luang, di dalam masjid, kantor, dalam keadaan senang penuh kenikmatan, ketika kaya, dan sedang punya jabatan dan kekuasaan. Tetapi seseorang yang membawa titel Ulul al-Bab, hatinya, anggota tubuhnya dan lisannya selalu basah berzikir dan mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik ketika duduk dan berbaring, waktu sakit, waktu sibuk, di luar masjid, di rumah, saat tengah malam gelap gulita, ketika ditimpa musibah dan cobaan, saat miskin serta ketika tidak punya jabatan dan kekuasaan.

Jadi bukan manusia Ulul al Bab, kalau hanya mengingat Allah, bersujud, bersimbah dan bersimpuh di hadapan Allah, ketika tidak punya jabatan atau kekuasaan, ataupun ketika jatuh sakit ataupun ditimpa musibah dan berkurangnya kenikmatan duniawi.

Ciri kedua Ulul Al Bab: Selalu Berpikir

Sifat kedua yang harus dimiliki oleh pemakai gelar Ulul Al Bab yaitu sebagaimana disebutkan di Ali Imran Ayat 191: “… dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Berpikir secara umum berarti setiap tindakan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu serta merenungi apa saja yang ada dalam kehidupan dunia ini. Sedangkan berfikir secara khusus adalah sebuah upaya berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan, apakah langkah atau tindakan-tindakan yang akan dilakukan akan membawa kemaslahatan dan efek positif bagi agamanya, dirinya, keluarganya, lingkungannya dan masyarakat serta bagi negaranya?

Apabila seseorang selalu berzikir baik bentuk umum dan khusus, tetapi melakukan sebuah tindakan dan kebijakan yang merugikan agama, negara, masyarakat dan lingkungannya, maka orang tersebut belum layak diberikan titel dan dijuluki Ulul al Bab. Sebaliknya, jika ia selalu berpikir untuk melakukan sebuah kegiatan yang membawa kemaslahatan dan berdampak positif bagi agama dan negaranya, tetapi saat bersamaan, dia tidak konsisten berzikir, maka orang tersebut juga belum naik kelas ke posisi dan taraf Ulul al Bab.

Ulul al Bab adalah manusia yang selalu berzikir dan berpikir, sehingga tumbuh dalam hati mereka rasa takut kepada Allah, rasa takut kepada adzab-Nya, rasa takut kepada api nerakadan mereka akan senantiasa berdoa: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Demikian disampaikan, semoga kita termasuk orang-orang yang berhak dan layak menyandang gelar Ulul al-Bab, titel terhormat yang diulang-ulang dalam al Quran al Karim, yang langsung dianugerahkan dan dikukuhkan oleh Maha Kuasa dan Maha Pencipta Langit Bumi.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.