Belajar dari Lebah

Belajar dari Lebah

 

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Oleh H. Basri A. Bakar

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang

terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)

Lebah yang dalam bahasa Aceh disebut “unoe” merupakan hewan bersayap bertubuh kecil sebangsa lalat. Namun gaya hidup dan tabiat keduanya sangat berbeda. Kalau lalat hidupnya di tempat-tempat kotor dan memakan

kotoran yang busuk dan mengeluarkan bakteri, maka lebah sebaliknya suka di tempat yang bersih, memakan yang bersih dan mengeluarkan madu yang berguna bagi manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Begitu mulianya kehidupan lebah, sampai ada salah satu surat dalam Al Quran yang bernama An Nahl (lebah). Lebah tidak memiliki pengetahuan apapun tentang dunia kesehatan. Tetapi, yang dilakukannya didasarkan naluri binatang yang dianugerahkan Allah, yang bisa membuat manusia tercengang. Bentuk sarangnya hexagonal atau segi enam sama sisi yang dibangun secara bergotong royong, semuanya telah memberikan teladan yang baik kepada manusia.

Salah satu pelajaran dari lebah adalah binatang ini hanya mengambil makanan dari tempat yang bersih, yang halal dan thayyib. Allah berfirman : “….kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)”. (QS. An Nahl: 69)

Dengan demikian kita harus mencontoh lebah dari sisi kehalalan yang dimakannya. Hendaknya kita menjadi keluarga islami yang hidup dari barang-barang yang halal dan jauh dari ketidak jelasan sumber maisyahnya. Halal dalam memperolehnya dan halal pula dalam membelanjakannya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.