Generasi Qurani Modal Pembangunan

Generasi Qurani Modal Pembangunan

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Penghafal kitab suci Al-Qur’an berperan strategis di masyarakat. Mereka menjadi imam masjid dan mushalla baik di kota besar maupun pedalaman. Mereka menjadi pendakwah yang hidup bersama masyarakat di seluruh Indonesia.

Penghafal Al-Qur’an kerap memiliki kemampuan membaca kitab suci tersebut dengan menggunakan lagu yang indah didengar. Kemampuan seperti ini menarik perhatian masyarakat luas.

Sebagai umat Islam kita sangat menghormati mereka karena dinilai menguasai ilmu-ilmu keislaman. Penghafal Al-Qur’an akhirnya dicintai dan disayangi. Apa yang mereka katakan menjadi rujukan masyarakat.

Karena di tangan mereka Islam didakwahkan sebagai agama yang toleran. Islam mereka dakwahkan sebagai solusi konflik sosial misalkan. Ketika ada bentrokan antar kelompok di kampung, maka merekalah yang hadir untuk mendamaikan masyarakat.

Selain itu, mereka juga dituntut untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang cinta Al-Qur’an. Mereka mengajarkan anak-anak mengaji. Setelah pintar mengaji, mereka kemudian mengajarkan anak-anak untuk mampu mengamalkan Al-Qur’an.

Dalam proses menghafal Al-Qur’an, hendaknya setiap orang memanfaatkan usia-usia yang berharga, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sholeh terdahulu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya, mereka lakukan sejak usia dini, sehingga banyak dari tokoh ulama yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia sebelum akil baligh, Imam Syafi’i misalnya- telah hafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, begitupun Ibnu Sina, alim dibidang kedokteran.

Adapun usia dini sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Abdurrahman Abdul Kholik ialah usia anak-anak dari lima tahun sampai kira-kira usia dua puluh tiga tahun. Pada usia ini, kekuatan hafalan manusia sangat bagus. Bahkan ia merupakan tahun-tahun emas untuk menghafal, karena pada usia anak-anak mempunyai otak yang masih bersih dari berbagai kotoran.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Imam Hafidz Suyuti dengan komentarnya, ” Anak-anak diajari Al-Qur’an merupakan hal yang asasi dalam Islam agar mereka tumbuh berdasarkan fitrahnya yang suci, dan agar cahaya hikmah masuk kedalam hati mereka sebelum hawa nafsu bercokol di hati mereka dan sebelum hati mereka digelapi dengan kabut-kabut kemaksiatan dan kesesatan.”

Ibnu Khaldun pun berkomentar, “ Mengajari anak-anak Al-Qur’an merupakan syiar dari syiar-syiar agama yang harus dijadikan pegangan oleh semua pemeluk agama Islam. Mereka juga berkewajiban mendirikan sekolah Al-Qur’an di seluruh Dunia. Marwidin Mustafa

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.