MARI AKHIRI DUKA ROHINGYA

MARI AKHIRI DUKA ROHINGYA

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Oleh: Akhyar

KTT ke-31 Asean di Filipina baru-baru ini juga gagal menyuarakan tentang tragedi kemananusian terhadap etnis Muslim Rohingya,bahkan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi melobi para pemimpin dunia untuk tidak ada penyebutan nama Rohingya dalam pidato kepala negara KTT, akhirnya para peserta KTT hanya menyebutkan “perlu adanya bantuan kemanusian ntuk komunitas yang terkena dampak  di bagian utara Rakhine”. Seolah-olah tidak terjadi apapun padahal upaya genosida terhadap muslim Rohingya sedang berlangsung.Subhanallah…

Kengerian  kemanusian tengah di pamerkan oleh pemerintah Myanmar kepada dunia terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Fortify Rights berdasarkan keterangan saksi dari desa Chut Pyin. Rathedaung, memaparkan bahwa tentara Myanmar memenggal kepala anak-anak dan membakar hidup-hidup warga Muslim Rohingya (Republika.co.id 3/9/17).

Biksu Wirathu sebagai tokoh sentral genosida kaum muslim Rohingya telah salah besar melihat Islam dan kaum muslimin lewat Khotbah yang di liput oleh media international telah terang-terangan menyatakan anti-Islam, musuh Islam dan pembenci Islam, Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tapi anda tidak bisa tidur di samping anjing gila, kata Wirathu seperti dikutif The New York Time, 21 Juni 2013, yang di maksud anjing gila oleh Wirathu adalah Muslim Rohingya. Padahal, Islam adalah Agama rahmatan lil ‘alamin dan Muslim adalah pencinta perdamaian.

Allah mengutus para Nabi dan Rasul-Nya membawa misi agung bagi seluruh manusia. Misi Agung diutusnya Rasul adalah untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus peringatan. Rasulullah menyampaikan kabar gembira kepada manusia yang rela tunduk kepada apa yang telah diperintahkan oleh Allah lewat lisan Rasul-Nya. Sebaliknya seorang Rasul akan memberikan peringatan kepada manusia akan ancaman Allah bagi manusia yang ingkar kepada-Nya.

Oleh karena itu, seorang Muslim yang meneladani Rasulnya harus menentukan sikap yang tegas terhadap berbagai kemungkaran, kezaliman, penjajahan, dan kebiadaban yang terjadi di Myanmar. Seorang muslim harus menunaikan amanah dakwah dalam mencegah segala bentuk perilaku yang menyimpang.

Rasulullah sendiri telah bersabda dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, “ Barang siapa di antara kalian melihat perkara mungkar, maka cegahlah dengan tangannya (kekuasaan), apabila tidak mampu, cegahlah dengan lisan, dan apabila tidak mampu juga, bencilah dengan hati yang demikian itu selemah-lemahnya iman”.

Dalam pandangan Islam, keimanan mewakili sebuah kebajikan, kefakiran mewakili  kemungkaran dan kemunafikan mewakili kemungkaran dalam bentuk yang lain. Dalam menyikapi kemungkaran seorang muslim selalu berupaya mencegahnya, sementara seorang munafik lebih memilih diam saat dihadapkan kepada kemungkaran. Orang munafiq biasanya berada di tengah-tengah antara ke imanan dan kemungkaran. Sikap diam ini biasanya disebut dengan sikap netral.

Sikap munafik yang berposisi sebagai netral dengan sikap diam terhadap kemungkaran sangat dilarang dalam Islam. Sebab, seorang Muslim harus dalam sikap yang jelas terhadap kemungkaran, yakni mencegahnya. Sikap diam berarti tidak memiliki sikap yang jelas.

Terhadap sikap diam karena jiwa kemunafikan ini Rasulullah mengancam dengan menyebutnya sebagai kaum munafik, sebab, sikap netral cenderung tidak mau mengambil resiko dan hanya ingin aman untuk dirinya sendiri. Sementara, misalnya agamanya dihina, Rasulnya dilecehkan bahkan kaum Muslimin dianiaya.Maka, sikap diam terhadap semua itu adalah sikap tercela.

Abu Ali Ad Daqaq Rahimahullah mengatakan “ Ungkapan ini menegaskan makna bahwa diam terhadap kabatilan dan tidak membela kebenaran adalah sebuah kebisuan”. Sementara setan adalah gambaran kejahatan.Setan bisu maknanya diam sebagai sikap tercela.

Karena itu, seorang Muslim harus mengambil sikap yang jelas, yakni membela kebenaran dan mencegah kemungkaran sebagaimana sikap para Nabi dan Rasul agar tidak disebut sebagai orang Munafik  atau setan bisu. Untuk mengakhiri kezaliman rezim Myanmar, bagi seorang Muslim, berdoa dan bersuaralah,dan mengeluarkan infaq terbaik kita agar  jangan jadi setan bisu. Wassalam.

Akhyar (Wakil Ketua Bidang Agama dpd knpi Aceh periode 2017-2020/ketum bkprmi)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.