Pentingnya Pendidikan Agama dalam Keluarga

Pentingnya Pendidikan Agama dalam Keluarga

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Oleh. Tgk. H. Syarifuddin, MA, Ph.D

Keluarga merupakan unit terkecil dari lembaga sosial dalam kehidupan masyarakat. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak merupakan ujung tombak dari sebuah bangsa dan negara. Dari keluargalah, calon generasi-generasi penerus bangsa dan agama tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya.

Karena pentingnya institusi keluarga, Islam memerintahkan kepada umatnya agar para ayah dan ibu dapat membekali anak-anak mereka dengan pendidikan agama. Hal tersebut sangat penting karena pendidikan agama akan membentuk karakter anak-anak menjadi muslim yang patuh dan tunduk pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya. Selain itu juga, dengan bekal pendidikan agama, anak-anak akan terlindungi dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Dengan bahasa lain, pendidikan agama akan menjadi benteng pertahanan iman bagi calon generasi bangsa dan agama ke depan.

Dalam sebuah ayat al-Qur’an yang terdapat dalam surat al-Tahrim:6, Allah SWT berfirman:

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…

Ayat tersebut di atas merupakan perintah Allah kepada orang-orang yang beriman supaya menjaga diri mereka sendiri dan kemudian anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya dari siksaan api neraka.

Di tengah-tengah persoalan bangsa yang sangat kompleks dan rumit seperti saat ini, seperti persoalan narkoba, korupsi, kenakalan remaja, pergaulan bebas, globalisasi, kehidupan hedonis, dan lain sebagainya, yang telah membingungkan kita dari mana kita mulai untuk melakukan perbaikan dan perubahan, maka ayat di atas merupakan kunci jawaban terhadap persoalan-persoalan tersebut.

Perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini harus dimulai dari diri kita sendiri, lalu baru anggota keluarganya. Oleh karena itu, tiap-tiap individu muslim berkewajiban untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan kemudian atas keluarganya dan begitu juga seterusnya hingga ke institusi yang paling besar juga bertanggung jawab atas anggotanya.

Hal tersebut sebagaimana yang ditegaskan oleh Hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” 

Hadis di atas menegaskan bahwa tiap-tiap individu memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan jabatan yang dimilikinya. Mulai dari individu masing-masing, kemudian pemimpin keluarga, pemimpin negara, hingga jabatan yang terendah sekalipun, yaitu seorang pembantu, juga memiliki tanggung jawab.

Khatib ingin menggaris bawahi Hadis di atas pada persoalan:

Hadis ini menerangkan bahwa seorang laki-laki yang sudah berumah tangga memiliki tugas dan tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Begitu juga seorang perempuan yang sudah menikah, ia memiliki tanggung jawab terhadap suami dan anak-anaknya.

Adapun hubungan antara ayat al-Qur’an di atas dengan Hadis Nabi ini adalah bahwa para suami dan istri memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab penuh terhadap anak-anak mereka agar mereka menjadi seorang muslim yang taat. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan membekali mereka dengan pendidikan agama. Tanpa dibekali dengan pendidikan agama dalam keluarga, mustahil seorang anak akan bisa menjadi penurut bagi kedua orang tuanya. Tanpa pendidikan agama, kehidupan anak-anak bagaikan kapal dalam lautan yang tidak memiliki kompas untuk memandu mereka menuju ke sebuah tujuan. Mereka akan terombang ambing dan tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Tanpa pendidikan agama, anak-anak pun akan hidup secara liar, tanpa kontrol dan gersang dari nilai-nilai spiritualitas. Tanpa pendidikan agama, manusia akan terjerumus ke dalam api neraka!

 

Menjadi orang tua dalam sebuah keluarga itu amanah yang sangat berat. Oleh karena itu, jangan pernah salah dalam mendidik anak-anak! Perbaiki hubungan kita selaku orang tua dengan anak-anak! Perbaiki komunikasi kita dengan anak-anak! Sesibuk apapun kegiatan kita untuk mencari nafkah di dunia ini, kita harus kontrol  aktivitas anak-anak kita! Orang tua harus peka terhadap setiap perubahan pada diri anak-anak mereka! Mana tahu mereka mengalami sebuah masalah dalam hidupnya dan permasalahan tersebut luput dari perhatian kita, maka itu menjadi pintu masuk bagi diri mereka untuk melakukan berbagai kejahatan, sebagai pelampiasan dari masalah yang mereka hadapi.

Kita sebagai orang tua tidak boleh lengah dan lalai terhadap anak-anak kita dalam keluarga. Bekali mereka dengan pendidikan agama sejak usia dini. Insyallah, anak-anak yang sudah terbiasa dengan nilai-nilai keagamaan dalam keluarganya, mereka akan menjadi penerus bangsa dan agama di masa yang akan datang. Namun, apabila kita selaku orang tua gagal mendidik anak-anak kita dengan pendidikan agama, maka hal tersebut kita telah mewariskan generasi yang bermasalah, baik terhadap bangsa dan agama. Hal tersebut sudah diperingatkan Allah dalam al-Qur’an yang berbunyi:

 

Ayat ini memperingat kita agar senantiasa risau atau takut jikalau kita meninggalkan generasi yang lemah di masa depan. Lemah di sini bisa ditafsirkan dengan berbagai penafsiran, baik lemah secara iman, akhlak, pendidikan, ekonomi, sains dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, membekali pendidikan agama bagi anak-anak merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua. Apabila kita lemah atau tidak mampu melakukan kewajiban tersebut, wakilkan kepada para guru yang ada di pesantren-pesantren, karena di pesantren anak-anak kita akan dibekali dengan pendidikan agama selama 24 jam.

Khatib Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar Raniry Banda Aceh

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.