Serius Kembangkan Pendidikan Hafiz

Serius Kembangkan Pendidikan Hafiz

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Di antara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Alquran tidak diamalkan serta menghormati kepada penguasa yang adil.” (H.R. Abu Daud).

Allah senantiasa memuliakan para hafiz. Para ahli Quran mendapatkan tempat yang sangat mulia di surga. Rasulullah sendiri sangat memuliakan mereka. Alangkah indahnya ketika Aceh sudah mulai bertaburan para hafiz. Artinya, masyarakat Aceh dikelilingi oleh orang-orang yang dimuliakan Allah serta dicintai Rasul-Nya.

Kondisi Aceh pelan-pelan sudah menuju ke arah sana. Jumlah hafiz di Aceh meningkat setiap tahunnya. Apalagi, menurut Kepala UPTD PPQ Dinas Syariat Islam Aceh Ridwan Johan, Pemerintah Aceh mendukung penuh pengembangan pendidikan bagi para hafiz. Buktinya, pemerintah sudah menganggarkan anggaran untuk pendidikan pada 2018.

500 Hafiz per Tahun

Kata Ridwan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mendukung perekrutan 500 hafiz dari kabupaten/kota. Mereka akan dibiayai menjalani pendidikan selama setahun dengan cara diasramakan. Tenaga pengajarnya merupakan para hafiz asal Aceh. Usai menjalani pendidikan, mereka akan ditempatkan di 289 kecamatan di Aceh. Meskipun demikian, angka 500 masih belum mencukupi kebutuhan. Sebab, rencananya setiap kecamatan akan ditempatkan dua hafiz.

Diharapkan, setelah itu mereka tidak hanya vakum, melainkan mengembangkan ilmu di daerah masing-masing. Misalnya, menjadi imam.

Para hafiz sudah dicintai masyarakat Malaysia, Kuala Lumpur. Setiap Ramadhan mereka meminta para hafiz Aceh bertandang ke sana untuk menjadi imam salat tarawih. Pada Ramadhan beberapa bulan lalu, dua hafiz asal Aceh diundang ke Kelantan, Malaysia, untuk mengimami salat tarawih. Namanya Muhammad Iqbal (22) dan Nurul Fajri (24).

Jumlah para hafiz di Aceh sudah mencapai ribuan. Semua itu sudah termasuk hafiz lima juz hingga 30 juz.  Sementara itu, jumlah hafiz 30 juz masih terbatas, berbilang ratusan. Ke depan ia berharap supaya jumlah hafiz 30 juz meningkat dan bisa dikirim keluar negeri jika ada permintaan.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Bustami Usman mengungkapkan perkembangan pendidikan hafizul quran di Aceh luar biasa. Sekarang, hampir seluruh kabupaten/kota terdapat lembaga pendidikan hafizul quran. Perkembangan tersebut beriringan dengan jumlah hafiz, baik lima juz, 10 juz, hingga 30 juz. Ia mengakui belum mengetahui secara pasti berapa jumlah hafiz di Aceh. “Dengan meningkatnya jumlah tersebut, diharapkan, orang Aceh semakin mahir membaca Alquran serta mengamalkannya,” kata Bustami.

Ia menambahkan, lembaga tahfiz tersebut namanya berbeda-beda. Ada yang menamakan Madrasah Ulumul Quran (MUQ), Sekolah Tahfizh Quran. Kehadirannya membuat pelaksanaan perlombaan hafiz di Aceh semakin meriah. Kabupaten/kota sudah mempunyai perwakilan untuk mengikuti pentas seperti itu. Pemerintah kabupaten/kota tidak perlu lagi menyewa para hafiz dari kabupaten/kota lain.

Berbekal hafalannya, para hafiz memiliki peluang kuliah di luar negeri seperti Mesir, Maroko, Sudan.  Mereka relatif mudah diterima di perguruan tinggi di daerah. Perguruan tinggi sudah mulai membuka jalur masuk kepada para hafiz. “Para imam yang ada sekarang di kabupaten/kota diangkat dari para hafiz,” tuturnya.

Ia mengatakan, Allah memuliakan orang-orang yang mampu menghafal dan mengamalkan kandungannya. Oleh karenanya, menghafal harus digalakkan kepada anak-anak sejak dini. Ingatan mereka masih lebih kuat dibandingkan orang dewasa. Anak-anak yang hafiz senantiasa menjadi kebanggaan orangtuanya dan lingkungannya. Apalagi perangai para hafiz jauh dari tindakan tercela.

“Kita berharap kemampuan orang Aceh terus mengalami peningkatan. Alangkah sedihnya kita mendengarkan 50 persen mahasiswa di perguruan tinggi tidak mampu membaca Alquran,” terusnya. Zulfurqan

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.