Yunus dan Paus

Yunus dan Paus

GEMA JUMAT, 17 NOVEMBER 2017

Oleh  Murizal Hamzah

10 paus jenis sperma terdampat di Pantai Ujong Kareung, Aceh Besar, Senin (13/11/2017). Dari 10 paus itu, 4 dinyatakan mati. Warga bersama petugas sudah menarik mereka kembali ke laut lepas. Namun ada yang kembali ke pantai karena rekan-rekannya masih di pantai. Makhluk ini setia kawan. Pergi bersama-sama dan hidup berkelompok.  Tahun lalu, seekor paus ditemukan mati di pantai Alue Naga, Banda Aceh, Kamis (4/8/).

Mengapa paus terdampar ke pantai? Peneliti menyebutkan paus terlempar ke pantai karena sakit atau terluka karena diburu atau kalah berkelahi sesama paus. Paus yang kalah mencari wilayah lain sehingga terseret ke pantai. Ketinggalan atau terpisah dari kelompok, sistem navigasi paus terganggu karena  gejala alam seperti gempa yang berpusat di laut. Paus punya insting jika akan terjadi sesuatu yang berbahaya, dia segera menyingkir ke tempat aman serta oksigen yang menipis.

Berita paus terdampat di Aceh mengingatkan kita pada kisah Nabi Yunus AS atau dalam bahasa Inggris dilakap Jonah, Ibrani:Yonah, Latin: Ionas yang hidup sekitar 820-750 Sebelum Masehi. Narasi ini termaktub dalam Quran dan Injil. Dalam Quran disebutkan Yunus mendapat perintah mengajak penduduk Ninawa di Mosul, Irak yang menyembah berhala untuk kembali pada Allah.   Kaum Ninawa sangat keras kepala, menyembah berhala dan suka melakukan kejahatan. Mereka menolak ajakan beriman kepada Allah. Bahkan mengolok dan menghina Nabi Yunus. Turunlah wahyu yang menyatakan Allah akan menurunkan azab apabila penduduk wilayah itu tak beriman. Dakwah Nabi Yunus diabaikan hanya 2 warga yang mengikuti dakwahnya yakni  Rubil yang alim dan bijaksana dan Tanukh yang sederhana dan tenang.

Nabi Yunus marah dan pergi dari berdakwah. Warga menyadari kesalahan dan yakin azab segera turun. Mereka ramai-ramai bertobat sehingga azab batal. Padahal Allah belum mengizinkan Yunus meninggalkan warga.  Yunus mengembala hingga tiba di pantai dan naik kapal. Badai  besar membuat kapal nyaris tenggelam. Agar kapal selamat, barang dibuang ke laut dan disusul penumpang yang diundi. Hasilnya, 3 kali diundi, nama yang muncul tetap Yunus dan dia pun cebur ke samudera.

Saat itulah, Allah mengirim ikan Nun (paus) untuk menelan Yunus tanpa mengunyah-kunyah badan atau meremukkan tulangnya. Selama 40 hari di perut ikan, Yunus berzikir dan memohon ampun kepada Allah. Semua kisah itu terekam di al-Quran. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “ Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

Doa Yunus dalam ayat itu hingga kini diamalkan yakni “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya).

Allah memerintahkan paus memuntahkan Yunus ke pantai dan menumbuhkan pohon labu, agar Yunus yang kurus dapat makan buahnya untuk segar. Setelah Nabi Yunus pulih, Allah SWT memerintahkan kembali ke kaum Ninawa.

Sudah menjadi kewajiban bahwa dakwah harus disampaikan dengan sabar serta memperhatikan situasi pendengar/warga. umat belum menerima dakwah karena belum paham tentang isi dakwah itu. Fenomena 10 paus terdampar di pantai Aceh adalah fenonema alam yang bisa ditelusuri secara ilmiah dan logika. Selebihnya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.