Bagaimana Menjadi Hakim MTQ Tingkat Provinsi?

Bagaimana Menjadi Hakim MTQ Tingkat Provinsi?

GEMA JUMAT, 24 NOVEMBER 2017

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXXIII Provinsi Aceh dilaksanakan 18-25 November di Aceh Timur. Irwandi Yusuf, selaku Gubernur Aceh membuka acara tersebut. Irwandi ditemani oleh Bupati Aceh Timur H Hasballah bin HM Thaib, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar, dan Kadis Syariat Islam Aceh Dr Munawar MA.

Pelaksanaan MTQ sendiri merupakan upaya untuk mematri kandungan Alquran kepada masyarakat. Segala aturan dalam kehidupan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki terdapat di dalamnya. Di MTQ, terdapat berbagai macam cabang perlombaan, seperti tilawah dan hafiz. Setiap macama perlombaan tersebut memiliki hakim yang berkompeten menilai kemampuan setiap pesertanya. Nah, bagaimana caranya menjadi hakim MTQ di tingkat provinsi?

Hakim memiliki posisi penting dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).  Orang yang menjadi hakim sudah sepatutnya memiliki segudang pengalaman mengenai suatu bidang tertentu. Dua cabang penting di MTQ seperti tilawah dan hafiz.

Ketua Dewan Hakim Tahfizh Golongan  10, 20, 30 juz, Drs. H. Amin Chuzaini, MA menjelaskan, hakim memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab tersebut tidak hanya kepada masyarakat, melainkan juga kepada Allah. Ditinjau dari segi strukturalnya, hakim juga bertanggung jawab kepada Ketua LPTQ.

Seorang hakim hafiz harus teliti, cermat, jujur, adil, objektif, sehat, dan bisa menjaga rahasia. Ilmu yang dikuasai harus sesuai dan diutamakan mampu menghafal AlQuran. “Seorang yang tidak bisa menjaga rahasia, belum bisa dikatakan mampu menjadi seorang hakim,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi untuk menjadi hakim MTQ pada tingkat provinsi seperti pernah mengikuti pelatihan dewan hakim tingkat provinsi, sesuai bidangnya, minimal pernah menjadi hakim tingkat kabupaten, diusul oleh LPTQ kabupaten/kota masing-masing. Namun demikian, setiap yang diusul belum tentu otomatis menjadi hakim. Yang paling penting adalah mempunyai kemampuan atau ilmu yang sesuai dengan bidangnya.

Menurut Amin, hal-hal yg terlarang bagi hakim tahfizh adalah sama dengan larangan yang berlaku bagi hakim di cabang yang lain. “Yang paling penting senantiasa berusaha menjauhi perbuatan maksiat. Menerima dan menjanjikan sesuatu yg bukan pada tempatnya,” tambahnya.

Ada lima hal yang perlu dipenuhi untuk menjadi hakim hafiz yang baik. Hakim sebaiknya senantiasa selalu mengulang dan melancarkan hafalan. Selalu memperbaiki bacaan/hafalan di hadapan guru. Sering menguji hafalan dengan cara banyak dites. Menjauhi segala bentuk maksiat. Terakhir adalah menjaga akhlak.

H Hamli Yunus SAg, Hakim Tilawah tingkat provinsi menjelaskan, orang yang menjadi hakim tilawah harus pernah memenangkan cabang perlombaan berkaitan. Para calon hakim diminta mengikuti serangkaian tes. Mereka juga diharuskan mengikuti Bimtek Dewan Hakim. Sampai sekarang, pada cabang tilawah, jumlah hakimnya mencapai 12 orang. Masing-masing memiliki tugas tertentu.

“Selama ini tidak ada batas waktu seseorang menjadi hakim, kecuali sudah uzur. Tapi di provinsi, setahu saya tidak ada batas waktunya,” pungkasnya Kasi Pemberdayaan Wakaf ini.

Para hakim senantiasa berpartisipasi pada berbagai kegiatan, meskipun tidak ada acara MTQ formal. Misalnya, ada MTQ Korpri, MTQ Keluarga, dan sebagainya. Rata-rata, para anggota dewan hakim hakim bekerja sebagai guru di daerah tempatnya tinggal.

Selama pelaksanaan MTQ, para hakim tidak boleh berhubungan dengan para peserta kendatipun dengan muridnya. Hal ini bertujuan menjauhkan stigma negatif dari peserta lain. Ketika menilai penampilan peserta, para hakim dilarang membawa alat komunikasi. Selain itu, hakim dituntut memiliki akhlak mulia, amanah, disipilin, kejujuran. Zulfurqan

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.