Banda Aceh Intoleransi?

Banda Aceh Intoleransi?

GEMA JUMAT, 24 NOVEMBER 2017 

Oleh Murizal Hamzah

Kabar ini tidak menyenangkan bagi rakyat Aceh. Survei yang dipublikasikan menyudutkan umat Islam dari aspek pemberitaan. Publikasi ini memberi gambaran seutuhnya tentang Aceh. namun hal itu telah dimaklumatkan dan terulang dalam beberap tahun.  Apa pasal?

Sebuah lembaga di Jakarta yakni  Setara Institute menguak hasil kajian dan indeks terhadap 94 kota di Indonesia dalam hal praktik toleransi pada 16 November lalu. Hasilnya, Jakarta peringkat pertama kota dengan toleransi yang rendah.  Denga kata lain, Jakarta adalah  kota nomor 1 yang tidak toleransi. Dalam pemeringkatan Indeks Kota Toleran 2017, Jakarta turun dari peringkat 65 ke 94 atau mendapat skor terendah, yakni 2,30 persen dalam hal intoleransi dan politisasi identitas keagamaan di Jakarta menjelang, saat, dan setelah Pilkada 2017.

Peneliti menggunakan skala Likert dengan rentang nilai 1-7. Pembobotan skor dilakukan dengan kombinasi pengukuran melalui regulasi pemerintahan kota, tindakan pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama yang dilakukan dalam rentan selama November 2016-Oktober 2017.  Peneliti menggunakan  indikator pelanggaran kebebasan beragama dan beribadah (KBB) tercatat sedikitnya ada 24 peristiwa pelanggaran KBB dalam setahun terakhir.

Kota lain yang mendapat indeks terendah atau tidak intoleransi setelah Jakarta yakni Banda Aceh, Bogor, Cilegon, Depok, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Mataram. Tahun 2015, Setara Institute merilis 94 kota toleran di Indonesia. Kota Banda Aceh berada di posisi 92 dari 94 kota

Benarkah Jakarta kota paling tidak toleransi? Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Salahudin Uno membantahnya.  Menurut data yang terbaru yang dia miliki jauh lebih komprehensif, dilengkapi kegiatan yang akan dilakukan agar lebih memperkuat hubungan antar warga.

Setara menetapkan 3 indikator  utama untuk mengetahui sebuah kota toleransi atau tidak tingkat kebebasan beragama/derajat toleransi. Pertama, pengistimewaan pemerintah terhadap kelompok-kelompok agama tertentu. Kedua, peraturan yang membatasi kebebasan beragama. Ketiga, regulasi sosial yang membatasi kebebasan beragama.

Bagaiamana dengan Kota Banda Aceh? Kita tidak membaca penjelasan wali kota Banda Aceh.  Kita sering mendengar kabar di luar Aceh bahwa Tanoh Endatu tidak aman, tidak toleransi,  penduduknya kasar dan sebagainya. stigma negatif lebih sering dimunculkan daripada sisi positif.

Sisi-sisi negatif yang berkembang di luar Bumi Laksamana Keumalahayati itu buyar ketika pelancong atau tamu mendarat di Tanah Rencong. Mereka menjumpa rumah ibadah non Islam di Banda Aceh dan kota-kota lain. Kehidupan  beragama di Serambi Mekkah berlangsung harmonis dan saling menghormati. Banyak yang tidak percaya jarak antara Gereja Hati Kudus dengan Masjid Raya Baiturrahman hanya sekitar 100 meter selebar Sungai Krueng Aceh. umat Islam di Tanoh Rencong menganut firman Quran tidak ada paksaaan dalam beragama dan silakan beribadah menurut kepercayaan masing-masing. “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”  (QS Al Kafirun: 6)

Perilaku umat Islam yang ramah, mengembalikan barang tercecer kepada pemiliknya, tidak menipu turis  dan sifat amar makruf nahi munkar adalah sama saja dengan berdakwah inilah wajah Islam yang asli.  Termasuk di dalamnya perkara sanitasi atau bab Thaharah (kebersihan atau kesucian).

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.