PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW

PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW

GEMA JUMAT, 24 NOVEMBER 2017

 

Oleh: Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA

Rektor UIN Ar-Raniry

Sebuah nikmat  yang  sangat  besar  dan  tiada  tara,  bahwa  hari  ini  kita dipertemukan Allah Azza wa jalla dalam keadaan Islam dan Iman. Sebagaimana kita yakini, bahwa Nabi Muhammad saw, adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah swt kepada segenap umat manusia di alam jagat raya ini. Nabi yang mu’jizatnya Al Qur’an, imamnya Al Qur’an, akhlaqnya Al Qur’an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur’an Beliau diutus dengan tugas menyampaikan risalah Islam sekaligus sebagai rahmatan lil’alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta) yang penuh dengan contoh teladan utama.

Risalah Muhammad SAW, tidaklah berakhir pada rumus-rumus kaidah filsafat yang universil dan abstrak, yang dilepaskan mengapung di awang-awang untuk di lihat dan dikagum-kagumi atau dalil-dalil theologi untuk dikunyah-kunyah sambil duduk manis.

Tujuan risalah adalah untuk “menghidupkan kesempurnaan “ manusia sehingga benar-benar hidup!. Risalah Muhammad SAW membina pribadi sebagai “social being‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu. Hidupnya berisikan amal yang shalih, pancaran iman; keduan kakinya terpancang di bumi , jiwanya menjangkau langit.

Dewasa ini kita selalu dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis multi dimensional. Begitu parah krisis yang dihadapi, sehingga susah mengambil benang merahnya sisi mana yang lebih dominan dan mana yang harus didahulukan, bahkan belum ditemukan solusi yang jitu dalam penyelesaiannya, akhirnya bangsa ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.

Artinya:  Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah. (QS. Al-Maidah: 55)

Artinya:  Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya,   Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maidah: 56)

Padahal kalau kita berkaca kepada krisis yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya, justru dengan mudah beliau menyelesaikannya, nyaris penyelesaiannya tanpa kekerasan dan pemaksaan, justru hanya dengan penerapan akhlakul karimah sebagai andalannya. Strategi yang dilakukan oleh Rasulullah, sesuai dengan sabdanya ‘Ibda’ Binafsik yang artinya “Mulailah dari diri anda“.

Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya, salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut.

Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Dimulai dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tersebut akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan.

Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan dalam memilih sebuah kebijakan akan berujung pada kegagalan suatu program atau bahkan kehancuran sebuah negara dan bangsa.

Melihat akan keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin, sudah saatnya kita menteladaninya karena beliau adalah contoh teladan terbaik dan tipologi ideal paling prima. Hal ini digambarkan oleh al-Quran surat Al-Ahzab: 21 yang berbunyi:

ôArtinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. AL-Ahzab: 21)

Ada beberapa prinsip kepemimpinan Rasulullah Saw yang dapat kita cerdasi dalam kesempatan yang sangat terbatas ini:

Pertama, Nabi lebih mengutamakan fungsi sebagai landasan memilih orang, bukan hanya melihat sisi perfomence (penampilannya) saja. Hal ini dapat kita perhatikan dalam pemilihan kepemimpinan setelah Nabi Saw.

Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq, Umar ibnu Khattab, Ustman ibnu Affan dan Ali ibnu Abi Thalib adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad saw, yaitu:

Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin. Kedua, Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai.

Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak.

Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Kedua, Nabi Muhammad Saw lebih mengutamakan asas kemamfaatan dari pada unsur kesia-siaan. Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain.

Ketiga, Rasulullah Saw lebih mengutamakan dan mendahulukan hal-hal yang mendesak dari pada yang bias di tunda. Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya.

Keempat, Nabi Saw lebih mementingkan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah.

Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan: Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi.

Kelima, Nabi Muhammad Saw lebih memilih jalan tersulit untuk dirinya dan termudah untuk ummatnya. Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya.

Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma.

Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar.

Keenam, Rasulullah Saw lebih mengutamakan tujuah ukhrawi dari pada duniawi. Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama dari pada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran.

“Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.”

Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka.

Pemimpin yang abadi cara berpikir dan pengaruhnya akan terus berjalan sampai akhir zaman. Inilah dasar yang telah diletakkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban baru, yang sesuai dengan fitrah manusia.

Kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan Rasul saw. yang mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Umar ibn al-Khattab. Seseorang dari Mesir datang ke Madinah ingin bertemu dan mengadukan persoalan kepada khalifah Umar ra. Orang tersebut benar-benar terkejut ketika menjumpai sang khalifah duduk dengan santai di bawah sebatang kurma.

Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul SAW. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable). Meski tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata “akan datang suatu masa”, lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini, setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat dalam realitas nyata.

Selaku umat Islam, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti, mencontoh dan menteladani semua perilaku terpuji rasulullah yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Akhlakul karimah tersebut dapat kita temui dalam berbagai literatur baik berupa sirah nabawiyah, riwayat-riwayat sahabat beliau, maupun firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an yang Rasulullah selalu memulainya dari diri beliau sendiri.

Sebagai Orang tua ketika menyuruh anaknya untuk tidak merokok atau mengkonsumsi narkoba maka seharusnya kita memulai diri berkomitmen untuk tidak melakukan hal yang sama (merokok dan mengkonsumsi narkoba). Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Asshaf : 2.

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang  tidak kamu kerjakan? (QS Ash-Shaf: 2)

Diakhir khutbah ini marilah kita pertanyakan kembali: sudahkah kita menjadi orang yang dapat digolongkan sebagai pengikut Rasulullah Saw atau belum, atau bahkan bertentangan dengan sifat dan sikap kepemimpinan Rasulullah Saw?

Inilah yang mungkin patut untuk kita renungkan masing-masing. Siapapun kita dan apapun profesi atau pekerjaan kita, masih terbuka bagi kita untuk merubah pola pikir dan pola tindak kita untuk mencoba mengikuti jejak para pengikut Rasulullah Saw. yang telah mendahului kita. Demikian uraian khutbah ini dengan harapan agar kita senantiasa tergugah dengan sentuhan ayat-ayat Allah Swt. dan berusaha merubah pola hidup kita, menjadi sosok yang mau mengikuti sifat dan sikap kepemimpinan Rasulullah Saw.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.