Muhammad Nabi Teladan Umat

Muhammad Nabi Teladan Umat

GEMA JUMAT, 01 DESEMBER 2017

Oleh : Tgk. H. Mutiara Fahmi Razali, Lc. MA

(Khatib Dosen Fiqh Siyasah Prrodi Hukum Tata Negara (Siyasah) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar Raniry Banda Aceh serta Pengajar Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar)

Sembilan Hari menjelang Rasulullah SAW wafat, turun ayat terakhir dari Alquran yaitu ayat ke 281 dari surat Al Baqarah sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Jarir at Tabari dalam kitab Tafsirnya dari Ibnu Abbas RA :

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).

Setelah turunnya ayat tersebut, dalam keadaan sakit Rasulullah Saw mengajak para sahabatnya berziarah ke pemakaman Uhud. Disana beliau berdoa kepada para syuhada Uhud. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW menangis. Para sahabat heran dan bertanya apa gerangan.  Nabi saw menjawab “Aku sangat merindukan para saudaraku seiman.”

Para sahabat heran dan bertanya lagi “Bukankah kami saudaramu seiman?” Nabi menjawab “Bukan. Kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku seiman adalah suatu kaum yang datang setelahku, mereka beriman kepadaku namun tidak pernah melihatku.”

Para sahabat kembali bertanya “bagaimana kamu dapat mengenali mereka ?”

Rasulullah menjawab “Apa pendapat kalian jika seseorang mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi dan kakinya, apakah ia akan mengenali kudanya tersebut ditengah-tengah sekumpulan kuda yang berwarna hitam legam? Tentu wahai rasulullah” jawab mereka.

Rasul kembali bersabda “mereka (saudaraku seiman) juga akan datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudhu. Sementara aku telah lebih dulu mendahului mereka di telaga (al kautsar/al haudh).

Jika kita mengaku sebagai umat dan pengikut nabi Muhammad saw maka kitalah orang yang telah dirindu rasulullah saw itu sejak 1439 tahun lalu. Namun bertepatan dengan hari lahirnya baginda saw pada tahun 1439 H ini apakah kita juga merindukannya sebagaimana beliau menangisi kita? Apakah kita telah mensuri-tauladi perilakunya? Apakah kita telah mengamalkan ajaran-ajarannya?  Atau pertanyaan yang lebih penting, apakah kita akan dikenal oleh rasulullah saw kelak sebagai umatnya?

Pertanyaan demi pertanyaan yang wajib kita renungi jawabannya dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi SAW yang kebetulan jatuh bertepatan dengan hari jumat 1 Desember 2017 ini.

Para ulama mengatakan, unsur utama dari mensuri-teladi perilaku rasulullah saw adalah  mencintainya dengan sepenuh hati. Cinta menurut Al Qadhi ‘Iyadh adalah “Kecendrungan seseorang insan terhadap apa yang ia senangi, dan selalu mengindahkannya.” Sementara kecintaan kepada Nabi artinya “Kecendrungan hati seorang muslim kepada rasulullah saw yang berwujud prioritasnya kepada nabi melebihi kasih sayangnya kepada jiwa, harta, ayah, anaknya, serta sekalian manusia.”

Allah berfirman dalam at-Taubah: 24:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Terkait hal ini rasulullah saw juga menegaskan sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

Demi Zat yang jiwaku berada pada-Nya, tidak beriman seseorang diantara kamu hingga aku lebih dicintainya melebihi dari cintanya kepada orangtua dan anaknya.

Unsur Kedua dari mensuri-tedalani rasulullah SAW adalah mentaatinya dengan sepenuh jiwa. Firman Allah dalam Ali Imran: 31

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ketaatan tidak akan datang tanpa ada pengenalan dan kecintaan. Itu sebabnya mengenalkan rasulullah kepada setiap generasi Islam adalah kewajiban setiap orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya, pemimpin kepada rakyatnya. Pada posisi dan tujuan inilah urgensi peringatan Maulid nabi besar SAW perlu kita selenggarakan.

Dalam sebagian literatur disebutkan bahwa peringatan Maulid mula dilaksanakan oleh penguasa Daulah Fatimiyah di Mesir (969-1171). Namun juga ada yang meriwayatkan bahwa ketika Umat Islam berada dalam kemundurun akibat perang salib, dan Baitul Maqdis dikuasi oleh tentara Romawi, Salahuddin al Ayyubi meminta kepada Khalifah An Nashir di Baghdad agar mengeluarkan suatu kebijkan kepada seluruh umat Islam untuk kembali membaca sejarah Nabi saw. Khalifah menyetujuinya. Maka mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi.

Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang bertujuan menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ibadah, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan syiar maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam tersebut, hanya berselang tiga tahun dari kebijakan itu, Baitul Maqdis kembali ke tangan kaum Muslimin pada tahun 1187 dengan semangat yang dikobarkan melalui berbagai syair dan qasidah tentang sirah Rasulullah SAW. yang dibacakan di setiap kampung dan negeri.

Kalau saja kegiatan-kegiatan sejenis bisa kita lakukan hari ini dalam rangka memperingati hari lahir rasulullah tentu semangat keislaman geenerasi muda Islam akan terus berkobar, kepedulian terhadap masalah keumatan dan kekinian akan terus meningkat. Dan Sungguh apa yang terjadi di timur tengah, Palestina, Rohingya dan lain tempat tidak akan terjadi jika ada kesadaran, kepedulian dari para pemimpin dan umat Islam sebagaimana  semangat yang pernah dikobarkan Salahuddin melalui peringatan maulid rasul saw.

Namun kenyataannya, peringatan yang kita lakukan selama ini masih kental dengan seremonial semata.  Syi’ar Kegiatan maulid rasul perlu terus diupgrade/ditingkatkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat pengisian jiwa, penulisan sejarah dengan bahasa yang mudah, sayembar penulisan syair Likee Aceh, pelatihan sejarah Islam bagi generasi muda dan kegiatan lainnya yang mampu merecharge memori keislaman kita serta memperkuat identitas generasi Islam. Penguatan kurikulum sirah nabawiyah dan sejarah Islam di sekolah-sekolah seharusnya juga dapat menjadi enrty point bagi penguatan syari’at Islam di Aceh.

Perbincangan mengenai sosok dan ajaran nabi Muhammad tidak pernah akan pernah habis meskipun selalu diperingati sepanjang tahun. Kemuliaan dan kekaguman terhadap kepribadian Nabi Muhammad saw tidak hanya diapresiasi oleh orang Muslim saja tapi juga oleh penulis non-Muslim.

Michael H. Hart misalnya, menobatkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok di urutan yang pertama dalam bukunya “100 tokoh manusia yang paling berpengaruh di dunia”. George Bernard Shaw menyatakan bahwa Muhammad merupakan sosok pribadi yang agung, sang penyelamat kemanusiaan. Lebih daripada itu, ia sangat meyakini bahwa apabila Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, maka Muhammad akan berhasil mengatasi segala permasalahan dan ia mampu membawa kedamaian serta kebahagiaan yang dibutuhkan oleh dunia.

Lamar Tine (seorang sejarahwan terkemuka) menyatakan, jika kita lihat dari ukuran kejeniusan seorang manusia, maka siapa lagi kalau bukan Muhammad. Sementara Thomas Carlyle menyatakan kekagumannya terhadap Muhammad, karena Muhammad dengan sendirinya mampu mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah sang pencipta dunia.

Begitu pula sejarawan William Montgomery Watt yang menyatakan, tidak ada figur yang hebat sebagaimana digambarkan “sangat buruk” di Barat selain Muhammad. Orang yang menganggap Muhammad sebagai seorang penipu adalah orang yang hanya memberikan masalah dan bukan jawaban.

Namun tiada pujian melebihi pujian yang diberikan oleh Allah sang Penciptanya sendiri. Allah telah memilih dari sekian banyak manusia 125.000 nabi. Dari angka itu Allah memilih 25 rasul yang wajib di imani. Dari 25 dipilh lima rasul ulul azmi. Dari Lima dipilih Satu rasul yang teristimewa yaitu al Mustafa Muhammad SAW.

Allah swt juga memuji nabi kita Muhammad SAW dalam Al Quran berkali-kali di banyak tempat. Allah memuji akalnya maka Ia berfirman:

 

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (An Najmu: 2).

Allah SWT memuji nabi kita Muhammad saw pada penglihatannya maka Ia berfirman:

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (An Najmu: 17).

Allah swt memuji nabi kita Muhammad saw pada dadanya maka Ia berfirman:

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (Al Insyirah:1),

Allah swt memuji nabi kita Muhammad saw pada dzikirnya maka Ia berfirman:وَرَ “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (Al-Insyirah: 4),

Allah swt memuji nabi kita Muhammad saw pada kejujurannya maka Ia berfirman: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. (An Najmu :3),

Allah swt memuji nabi kita Muhammad saw pada gurunya maka Ia berfirman: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (An Najmu :3),

Allah swt memuji nabi kita Muhammad saw pada kelembutannya maka Ia berfirman: “Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At Taubah 128),

Dan sebagai pamungkas, Allah swt memuji keseluruhan sifat yang ada pada nabi kita Muhammad saw, maka Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Al Qalam:4).

Karena kemulian rasulullah yang sedemikian rupa, kita disuruh mensuri-tauladaninya dalam segala aspek kehidupan. Allah swt berfirman dalam surat al Ahzab 21:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Sepatutnya kita mengenal kehidupan nabi kita, ibadahnya, akhlaknya, fisiknya. Bagaimana bentuk wajahnya, gaya rambutnya, tutur katanya, jenggotnya, pakaiannya, cara makan dan minumnya, cara jalannya, cara tidurnya kehidupan keluarganya, cara berdagangnya, pergaulannya dengan muslim dan non muslim, cara memimpinnya, cara berperangnya, cara berdamainya, seluruh kehidupan baginda adalah Qudwah bagi kita umatnya.

Jika para sejarawan mengatakan “sejarah selalu berulang,” maka pemahaman yang baik akan sirah nabawiyah membuat generasi Islam dapat menghadapi berbagai masalah kekinian dengan metode dan sikap yang pernah diajarkan rasulullah saw. serta dipraktekkan para sahabat. Meski secara teknis antara zaman rasul dengan kita sangat jauh berbeda, namun masalah yang dihadapi dan cara kita menilai masalah bisa saja ada kesamaan.

(Dan hari-hari itu kami gilirkan antara manusia)

Kita meneladani Rasulullah saw karena Allah menyuruh demikian. Bahkan mencintai dan mentaati nabi Muhammad saw merupakan tolak ukur kecintaan kita pada Allah swt. Allah berfirman:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al Imran:31)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.(An Nisa: 80)

Al Fadhal bin Ziyad mengatakan bahwa dalam al Quran ketaatan kepada rasul disebut 33 kali. Ketaatan kepada rasul juga menjadi sebab bagi masuknya umat ini ke syurga Allah. Nabi bersabda sebagaimana hadis shahih riwayat Bukhari:

Semua umatku masuk syurga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: “:Siapa yang enggan?” Rasul menjawab”Barang siapa yang taat kepadaku akan masuk syurga, dan barang siapa yang maksiat kepadaku sungguh ia telah enggan.”(HR. Bukhari)

Dalam hadis shahih lainnya juga dijelaskan bagaimana keistimewaan nabi Muhammad pada hari kiamat sebagai satu-satunya rasul yang dapat memberi syafa’at kepada umatnya.

Manusia di hari kiamat berkumpul, setiap umat mengikuti nabinya masing2, mereka berkata,” Wahai fulan! Berilah syafaat! wahai fulan ! Berilah syafaat “Ini terjadi sampai syafaat itu di berikan oleh Nabi Muhammad. Itulah saat Allah mengangkat Nabi dengan Al-maqam Al-Maĥmud. (HR. Bukhari)

Sementara itu, dalam shahih Muslim disebutkan bahwa syurga tidak terbuka kecuali nabi Muhammad telah memasukinya.

Pada hari kiamat nanti aku akan mendatangi pintu surga dan aku akan minta dibukakannya, malaikat Penjaga pintu surga itu berkata: “Siapa kamu?”, maka Aku (Nabi) menjawab: “Aku adalah Muhammad”, akhirnya Malaikat berkata: Karenamu lah aku diperintahkan, aku tidak akan membukakan pintu ini kepada seseorang sebelum Engkau memasukinnya (HR. Muslim).

Meski demikian agungnya nabi Muhammad saw, namun kedudukan beliau tidak pernah melebihi manusia biasa yang diwahyukan kepadanya. Muhammad bukan Tuhan dan bukan pula Anak Tuhan.

Allah mewanti-wanti nabi Muhammad dan umat Islam agar tidak terjerumus kepada apa yang dilakukan oleh umat terdahulu hingga menuhankan para nabi seperti umat nabi Isa As.  Allah berfirman dalam al Kahfi 110:

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(Al Kahfi: 110)

Saudaraku seiman. Kemulian yang kita yang kita peroleh didunia maupun akhirat pada dasarnya adalah karena kita dimuliakan Allah dengan menjadi umat nabi Muhammad saw. Untuk mendapatkan kemuliaan itu kita dituntut agar tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun. Mentaati Allah dan rasulNya, mengikuti sunnah-sunnahnya, dan selalu berselawat kepada rasulullah saw. Semoga kita kelak akan mendapatkan syafa’atnya, menjadi saudara seiman yang dirindukan rasulullah saw, dan yang terpenting kelak kita dikenali oleh Rasulullah saw sebagai umatnya disisi telaga al Kautsar sebagaimana janji yang beliau sampaikan dalam pidato terakhirnya menjelang ajal menjemput:

“Wahai sekalian manusia, sepertinya kalian mengkhawatirkanku.” Mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.”

Rasulullah saw bersabda “Wahai manusia, dunia bukanlah pertemuan kalian denganku akan tetapi pertemuan kalian denganku adalah di telaga. Demi Allah, seolah-olah diriku melihatnya dari tempat ini. Wahai manusia, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah dunia. Kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga berlomba-lomba padanya. Maka ia membinasakan kalian seperti ia telah membinasakan mereka.”

Ya Allah kumpulkanlah kami bersama kekasih kami rasulullah, dibawah naungan payung liwa’ul hamdi sayyidina Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam pada hari dimana tiada naungan kecuali naunganMu..

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.