Pendidikan Karakter Rasulullah SAW

Pendidikan Karakter Rasulullah SAW

 

GEMA JUMAT, 01 DESEMBER 2017

Allah swt berfi rman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)

bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21). Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR Baihaqi).

Berdasarkan penjelasan ayat dan hadits di atas, dengan tegas menjelaskan tentang bagaimana agungnya akhlak Nabi Muhammad yang dipuji oleh Allah secara langsung dan Rasulullah menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam Kitab Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafi yyurahman Al-Mubarakfuri dijelaskan, Rasulullah Saw mulai

mendidik karakter jahiliyah masyarakat Arab waktu itu dengan meluruskan ideology atau keyakinannya. Rasulullah meluruskan kemusyrikan mereka dengan paradigma tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya ada satu tuhan yang berhak

disembah dan menjadi tujuan hidup seluruh manusia di muka bumi. Karakter tauhid inilah yang menjadi landasan pendidikan karakter yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam seluruh ajaran-ajarannya.

Syari‘at atau aturan serta undang-undang tidak serta-merta diterapkan oleh Rasulullah Saw. Undangundang atau sistem yang tidak dilandasi oleh ideology atau paradigma yang lurus pasti tidak efektif. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw baru mendirikan suatu komunitas setelah beliau mampu mendidik generasi Muhajirin dan Anshar yang berkarakter di Madinah.

Metode pendidikan karakter Rasullullah adalah metode terbaik di dunia. Beliau sebagai tuntunan tak hanya mampu memberikan pelajaran atau pemahaman tentang bagaimana beribadah dan bertaqwa kepada Allah Swt. Namun, juga

menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagi setiap pengikutnya.

Contoh pertama Rasulullah Saw hidup bersama dengan Khadijah. Bagaimana Rasulullah mendidik Khadijah dengan lemat lembut, kasih sayang dan tidak pernah sekalipun menyakiti hati Khadijah, begitu juga sebaliknya Khadijah. Sehingga begitu Khadijah wafat, Rasulullah merasa sangat kehilangan seorang istri yang shalihah.

Selanjutnya, putri Nabi Muhammad, Fatimah Az-Zahra yang tidak pernah terlepas dari didikan Nabi Muhammad Saw mulai dari hal-hal yang paling sederhana hingga yang rumit sekalipun. Rasulullah senantiasa bersabar mengajari putrinya, Fatimah. Mulai dari cara duduk, berdiri, berjalan, bertutur kata, sopan santun, beribadah, sampai cara bersosialisasi dengan orang lain.

Alhasil, Rasulullah Saw mendidik putrinya untuk berkarakter mulia. Tidak hanya berkarakter kepada Allah dan Rasul-Nya, namun diajarkan pula bagaimana memiliki karakter yang baik kepada semua makhluk. Tidak hanya manusia, bahkan kepada hewan sekalipun, Rasulullah mengajari untuk berkarakter mulia.

Nabi Muhammad Saw tidak hanya menjaga dan memelihara putrinya, namun cucunya, Sayyidina Hasan dan Husain pun senantiasa dirawat dan dijaga sebagaimana putrinya tersayang. Sejak pertama kali Hasan dan Husain dilahirkan, Nabi Muhammad mengumandangkan adzan di telinga kanan keduanya. Dari sini, beliau mengajarkan ummatnya, bahwa betapa pentingnya pedidikan anak bahkan sejak pertama dilahirkan. Dengan mengumandangkan adzan di telinga kanan sang anak, berarti mengajarkan pada kalimatullah. Sehingga yang pertama kali didengar adalah asma Allah.

Contoh berikutnya, Rasulullah memperlakukan sahabatnya dengan lemah lembut, kasih sayang, hidup sederhana, berlaku zuhud serta saling tolong menolong. Sahabat juga mengenal Rasulullah secara baik yaitu para sahabat mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan Rasulullah, serta para sahabat tidak ragu-ragu atas kebenaran yang Rasulullah sampaikan.

Bisa kita ambil sepenggal kisah Rasulullah Saw ketika perang Badar tengah berkecamuk, saat itu pasukan Rasulullah berjumlah hanya 300 orang. Sementara unta yang ada hanya 100 ekor, sehingga 1 ekor unta harus digunakan bertiga. Baginda Rasululllah Saw yang saat itu adalah seorang panglima perang, rela bergantian dengan 2 sahabat lainnya. Kadang Nabi Rasulullah Saw di atas unta, kadang di bawah untuk menuntun unta. Rasulullah Saw bukan hanya membimbing, tapi juga memberi contoh yang baik atas apa yang ia sampaikan.

Baginda Rasullulah Saw memberikan contoh kepribadian yang baik semasa hidupnya untuk para sahabat dan pengikutnya, sehingga para sahabat paham benar sifat atau karakter yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, mau tidak mau para sahabat pun berkelakuan layaknya Rasullulah Saw, sebab ia telah memberikan pendidikan karakter yang langsung menyentuh diri setiap pengikutnya. Wallahu a‘lam.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.