Rafli Kande : Aceh adalah Pusat Dakwah Asia Tenggara

Rafli Kande : Aceh adalah Pusat Dakwah Asia Tenggara

GEMA JUMAT, 01 DESEMBER 2017

Banda Aceh (Gema)

Kedatangan tamu 980 jamaah zikir ke Aceh dengan menumpang kapal pesiar Costa Victoria yang berangkat dari Singapura merupakan sebuah moment bersejarah bagi Aceh di masa kini. Peristiwa ini seakan menghadirkan kembali suasana masa lalu manakala Aceh masih menjadi pusat penyiaran dan pengembangan da’wah islam di Asia Tenggara.

Penyataan tersebut disampaikan anggota komite III DPD RI, Rafli Kande Kepada Media, Senin (27/11) malam.

Ia menambahkan, Berangkat dan kembali lewat jalur laut Singapura-Aceh, Aceh-Singapura, dalam rangka berkunjung ke tempat-tempat hang berkaitan keagamaan dan sejarah di Aceh.

“Ini merupakan sesuatu yang memiliki nilai lebih, dan hakikatnya sangat istimewa,” ujar Rafli.

Rafli menjelaskan, dikatakan istimewa karena, pertama,  kunjungan seperti ini memang benar-benar padu dengan semangat kepariwisataan yang dibangun oleh Aceh, yakni wisata islami. Kedua, menempuh perjalanan laut, dan mengamati berbagai keadaan sebagaimana yang pernah diamati oleh orang-orang dulu dalam pelayaran laut mereka-baik itu untuk pergi ke tanah suci, untuk menimba ilmu di Aceh, ataupun untuk tujuan lainnya-ini semua seperti menampilkan kembali memori-memori yang sudah sangat lama terpendam di bumi serambi Mekkah.

“Peristiwa ini melahirkan kembali kenangan-kenangan lama dalam kenyataan hari ini. Ini sungguh sesuatu yang luar biasa,” kata Rafli.

Menurutnya, momentum seperti ini adalah sesuatu yang sangat langka terjadi, dan merupakan sebuah kehormatan yang sangat tinggi nilainya.

“Kita sangat menyambut kunjungan ini dengan penuh suka cita, serta mengapreasiasinya dengan rasa terima kasih yang mendalam, sambil berharap momen seperti ini dapat terus berulang di masa-masa mendatang,” harapnya.

Rafli meminta kepada pemerintah Aceh untuk menyuguhkan nilai-nilai budaya islami kepada tamu-tamu manca negara yang berkunjungbke Sabang tersebut.

“Sungguh, tamu-tamu itu akan menyesal bila melihat suasana sabang seperti bali atau tempat wisata convensional lainnya di dunia. Mereka butuh cita rasa penyejuk bathin, bukan suguhan yang miskin cita rasa,” pungkasnya. (marmus/rel)

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.