Ekonomi Aceh Meresahkan

Ekonomi Aceh Meresahkan

GEMA JUMAT, 08 DESEMBER 2017 

Entah mengapa perekonomian Aceh belum menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Perputaran uangnya masih sangat bergantung kepada anggaran pemerintah, baik itu APBA, APBK, maupun APBN. Perindustrian yang diharapkan mampu memperbaiki ekonomi Aceh pun belum berkembang dengan baik. Setelah PT Arun dan PT KKA, belum ada industri besar lainnya.

Begitulah pernyataan Rektor Unsyiah Prof Ir Samsul Rizal MEng saat ditemui Gema Baiturrahman. Ia menjelaskan, sudah seharusnya Aceh bisa mandiri secara ekonomi. Selama ini, perekonomian Aceh. Pemerintah perlu bekerja keras untuk menarik investor masuk ke Aceh. Investor yang masuk masih umumnya di bidang perkebunan, terutama kopi.

“Untuk memajukan ekonomi, pemerintah bisa mengandalkan kondisi alam sebagai objek pariwisata,” tuturnya.

Seperti diketahui, Aceh menyimpan berbagai sumber kekayaan alam yang indah, laut misalnya. Salah satunya laut di kawasan Sabang. Baru-baru ini sudah dilaksanakan Sail Sabang. Kapal-kapal mewah beserta turis mendatangi lokasi ini. Kata Samsul, mengapa tidak, event sebesar itu benar-benar dimanfaatkan oleh pemerintah guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, pemerintah terkesan kurang siap menyelenggarakannya.

Pariwisata islami juga berpotensi besar berkembang. Menurut Samsul, belum ada fasilitas-fasilitas yang mencerminkan pariwisata di Aceh sudah sesuai syariat. Soal produk, pemerintah mesti menjamin kehalalannya. Kemudian lingkungan yang bersih dan aman perlu diperhatikan. Oleh karenanya, untuk menyukseskan hal tersebut, alangkah baiknya pemerintah mengajak masyarakat berkontribusi. “Yang paling cepat cara menurunkan angka kemiskinan adalah melalui industri pariwisata, itu salah satunya,” pungkasnya.

Laut Aceh kaya dengan perikanan. Sayangnya, kapal-kapal para nelayan belum moderen. Teknologi perikanan perlu ditingkatkan. Harapannya, ikan hasil tangkapan nelayan bisa dijaga kualitasnya dengan memanfaatkan teknologi tersebut. Misalnya melengkapi kapal ikan dengan pendingin.

Di sisi lain, ia melihat pemerintah belum sinergis dalam pembangunan daerahnya. Ia mencontohkan pembangunan hotel Sabang di Banda Aceh. Jadi, manfaat pembangunan hotel ini akan dirasakan untuk kawasan Banda Aceh, bukan di Sabang.

Ia menambahkan, sampai tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Aceh di bawah lima persen. Inilah yang mengakibatkan kemiskinan stagnan. Dalam lima tahun terakhir, penurunan angka kemiskinan hanya sekitar 1,5 persen, angka yang sangat miris. Kalau perekonomian berkembang lima persen, artinya setiap tahun angka kemiskinan berkurang satu persen. Sebenarnya, perkembangan ekonomi Aceh bisa meningkat tujuh persen dalam lima tahun. Caranya dengan membangkitkan perindustrian besar, mengundang para investor, dan bekerja para pengusaha.

“Pemerintah harus memberikan kemudahan dalam berinvestasi, misalnya mengenai sistem birokrasi,” lanjutnya.

Samsul juga mengharapkan para sarjana turut ambil bagian membangkitkan perekonomian Aceh. Seyogyanya mereka mampu membuka lapangan kerja baru, bukan malah mencari kerja. Apalagi dengan berkembangnya teknologi baru, mereka bisa menciptakan star up teknologi informasi. Produk-produk karya tangan orang Aceh pun sudah bisa dijual sekaligus dipromosikan online. Agar produk tersebut memuaskan pelanggannya, maka kualitas sangat penting dijaga.

“Apa yang kita perbuat sebelumnya kita nikmati hari ini. Apa yang kita perbuat hari ini kita nikmati ke depan. Kalau sekarang kita tidak berbuat apa-apa, apa yang akan kita dinikmati 20 mendatang oleh anak cucu kita,” lanjutnya.

Hal senada dituturkan oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA. Perekonomian Aceh masih sangat bergantung kepada anggaran pemerintah. “Kalau anggaran belum cair, ekonomi lesu. Pada saat ujung tahun seperti ini, anggaran sudah cair, ekonomi baru hidup. Tapi bagaimana pada awal tahun berikutnya, itu lesu lagi,” ungkap Farid.

Ia menjelaskan, perkembangan ekonomi Aceh bersifat musiman. Enam bulan pertama lesu, tapi baru menggeliat enam bulan berikutnya. Pada enam bulan pertama, daya beli masyarakat rendah. Ketika daya beli masyarakat rendah, imbasnya kepada para pedagang. Meskipun produk mereka banyak, sayangnya minim pembeli.

Seharusnya, seluruh roda perekonomian di Aceh berjalan dengan baik. Perekonomian Aceh tidak perlu lagi bergantung pada anggaran pemerintah. Jika kondisi perekonomian seperti ini terus menerus, yang paling disayangkan adalah masyarakat. Bila ke depan tidak ada lagi anggaran pemerintah, kondisi perekonomian akan sangat buruk.

“Akan sulit bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi tidak baik untuk meningkatkan kesejahteraannya, baik itu kesehatan dan pendidikan,” pungkasnya. Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.