Kehidupan Rasul dalam Hadits

Kehidupan Rasul dalam Hadits

GEMA JUMAT, 08 DESEMBER 2017

Oleh Dr Tgk H Salman Abdul Muthalib, MA

Allah telah menjadikan kita sebagai umatnya agar kita menjadi hamba-hamba yang selalu tunduk dan patuh pada-Nya. Pernyataan ini ditegaskan dalam Alquran surat al-Zariyat ayat 56:

“Tidak kami ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menghambakan dirinya padaKu.”

Dalam proses penghambaan diri kita kepada Allah, kita diminta untuk melakukan ajaran-ajaran yang telah Dia tetapkan, baik melalui Alquran maupun lisan Rasulnya. Untuk menjembatani antara kita dengan Allah, Allah telah mengutus seorang Rasul sebagai penyampai pesan-pesannya, sehingga kita dapat memahami dengan baik apa yang harus kita kerjakan dan apa yang boleh kita tinggalkan, tanpa Rasul, umat manusia tidak akan memahami ajaran Allah, dan di sisi lainpun Allah berjanji tidak akan menghukum hamba-hambanya kecuali setelah Ia mengutus Rasul sebagai pembawa ajaran dan pemberi peringatan, firman Allah:

“Kami tidak akan mengazab -suatu kaum- sebelum Kami mengutus seorang rasul (untuk membimbing dan mengarahkan mereka).”

Untuk itu, sepatutnya kita harus mengenal siapa Rasul itu, sehingga dia dipilih Allah menjadi utusannya di bumi ini dalam membimbing umat manusia.

Muhammad saw. adalah nama yang paling terkenal di segala penjuru langit dan bumi, namun di balik kemasyhuran namanya, sulit bagi kita untuk menjangkau keagungan dan kemuliaannya. Kita hanya mampu mengambil penggalan demi penggalan kemuliaannya melalui kabar dari Penciptanya, Allah swt, dari orang-orang terdekat dengannya atau dari lisan Muhammad saw. itu sendiri.

Rasulullah saw. telah lama meningalkan kita, tetapi sejarah kehidupannya masih terlintas dalam pikiran kita, sejarah kehidupan beliau mulai dari lahir sampai wafat terekam dalam lembaran-lembaran sejarah Islam. Sebagiannya diabadikan dalam Alquran, sebagian lagi terekam dalam hadis-hadis, dan ada juga yang tercatat dalam sirah nabawiyyah.

Muhammad, meskipun ketika terlahir ke bumi ini, tidak sempat bertemu ayahnya, karena ayahnya telah wafat sebelum ia dilahirkan, lalu dibesarkan di perkampungan yang jauh dari ibunya, ketika dia berumur 5 tahun baru kembali dipertemukan dengan ibunya, setelah ibunya (Aminah) membawa putranya menziarahi makam ayahnya, beberapa bulan kemudian ibunya juga meninggal. Meskipun tidak sempat dididik kedua orang tuanya, tetapi Muhammad tetap menjadi anak yang baik, karena Tuhan sendiri telah mendidiknya, sesuai dengan pernyataan Rasul dalam sebuah hadis:

“Tuhanku telah mendidikku, dan itulah sebaik-baik didikan.”

Hadis ini menegaskan bahwa dari awal Rasulullah saw telah berada dalam penjagaan Allah swt. Jadi jangan pernah kita mengatakan bahwa beliau “pernah melakukan dosa” karena kata-kata ini secara tidak langsung akan “menyalahkan” Zat yang Mendidiknya selama ini, yaitu Allah swt.

Rasul yang bereperilaku yang baik, akhlaknya yang mulia, sehingga Allah mengangkatnya sebagai utusan di bumki ini dan Allah meminta kita untuk menjadikannya sebagai qudwah, teladan dalam keseharian kita. Keteladanan Rasul telah diakui, bahkan sebelum dia diangkat menjadi Rasulpun telah memperlihatkan akhlaknya yang mulia, yang membuat orang Arab sebelum Islam melengketkan kata-kata al-Amin untuk Muhammad, ketika terjadi sengketa antara orang-orang Arab, dalam persoalan batu hajar aswad misalnya, ketika itu Muhammad diminta untuk menjadi penengah. Kemuliaannya, keteladanannya, bukan pada kejeniusan yang dia miliki, bukan pada kepakaran intelektual pada diri Muhammad, tetapi akhlak mulialah yang membuat dia tersanjung dan disanjung oleh kawan dan lawan.

Pekan lalu kita telah memperingati hari kelahiran Rasul, sebuah momentum untuk mengenang beliau, mengingat kembali perjuangan beliau, akhlaknya, muamalahnya dengan para sahabat, tujuannya agar kita juga harus meniru dan meneladani perilaku Rasul. Meskipun sejarah perayaan maulid menurut salah satu pendapat, pertama sekali dilakukan umat Islam pada abad ke 12 yang dipelopori oleh Salahuddin al-Ayyubi, sebagai upaya untuk mempersatukan umat Islam pada saat itu dalam menghadapi pasukan salib, tidak salahnya juga perayaan maulid sekarang, kita lakukan untuk mengenang beliau selanjutnya mengikuti ajaran-ajarannya.

Rasulullah memiliki akhlak mulia seperti, sifat pemaaf, penyayang, penyabar, tawadhu, jujur dan sebagainya. Beliau juga sangat menganjurkan agar kaum muslimin berakhlak mulia, sebagaimana sabdanya :

 “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan balaslah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah masyarakat dengan akhlak yang baik.” (HR. Turmuzi).

Aisyah (Istri Rasul) ketika ditanya oleh seorang sahabat tentang bagaimana akhlak Rasulullah, Aisyah berkata: “Bukankah engkau sering membaca Al-Qur’an?,” sahabat tersebut menjawab: “Ya”, lalu Aisyah berkata: “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”  (H.R. Muslim).

Rasul seorang yang rendah hati

Nabi Muhammad, satu sisi dia sebagai Rasul yang menjelaskan persoalan agama untuk seluruh umat manusia, di sisi lain Dia juga sebagai manusia biasa yang selalu bermuamalah dengan para sahabat. Meskipun Muhammad telah diangkat sebagai Rasul, kemuliaan tinggi yang diberikan Allah tidak membuatnya menjadi sosok yang sombong, pribadi yang angkuh. Sebaliknya segala tidak tanduk kehidupannya dalam keseharian, selalu dihiasi dengan akhlak yang mulia. Hal ini dapat dipahami dari sebuah sabda Rasul:

“Janganlah kalian berlebihan memuji-ku sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu panggillah aku Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.”

Dalam hadis lain Nabi pernah berkata: “Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang untuk makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya. ”

Kerendahan hati seorang Rasul Muhammad juga dapat kita lihat pekerjaan dia sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, meskipun sebagi seorang Rasul, tapi ia tetap memposisikan dirinya sebagai seornag ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Aisyah pernah ditanya: “Apakah yang dikerjakan Rasulullah di rumahnya ? Aisyah  menjawab: “Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.”

Terkait dengan persoalan masuk surga, Nabi juga pernah bersabda:

”Sesungguhnya tidaklah seseorang akan masuk ke dalam surga hanya karena amalnya.”Mereka berkata, “Tidak juga Engkau wahai Rasulullah? Nabi menjawab, “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari)

Rasul seorang utusan Tuhan yang ma’shum, tidak berdosa, dijamin akan masuk Surga, tetapi ketika mendidik dan mengajarkan para sahabatnya ia tidak mau sombong, tidak anggkuh bahwa dia pasti akan masuk Surga karena amal salehnya, tetapi beliau tetap menyertakan karena ampunan dan rahmat dari Allahlah seseorang akan dapat masuk Surga.

Ada kisah menarik lainnya, diriwayatkan bahwa suatu ketika salah seorang sahabat terlambat datang ke Majelis Nabi. Karena terlambat, sehingga sahabat ini tidak mendapatkan tempat duduk, kemudian ia minta izin untuk mendapat tempat, akan tetapi para sahabat yang lain tak mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasulullah memanggilnya untuk duduk di dekatnya. Tidak berhenti sampai di situ, Rasulullah melipat sorbannya kemudian diberikan kepada sahabat tersebut untuk dijadikan tampat duduk.

Jadilah sahabat tersebut berlinangan air mata menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, akan tetapi dia mencium sorban Nabi. Lihatlah bagaimana Nabi menghargai sampai-sampai sahabatnya menangis karena terharu.

Rasul sosok Pemaaf dan sangat mengontrol emosi

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah:

“Rasulullah saw. tidak pernah memukul wanita, pembantu, tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, kecuali tatkala beliau berjihad fi sabilillah.”

Pada suatu, ketika Nabi Muhammad beserta sahabatnya berada di mesjid, tiba-tiba datang seorang Arab badui yang kencing di mesjid, kemudi para sahabat marah melihatnya dan ingin memukulnya, tetapi Nabi berkata: jangan sakiti dia, lalu Rasul memanggil orang tersebut dan menjelaskan kepada dia bahwa masjid ini tempat yang tidak boleh ada kotoran, tidak boleh buang air besar dan kencing. Masjida adalah tempat seseorang membaca Alquran, berzikir, melakukan salat, kemudia Nabi meminta setimba air lalu mensucikan masjid.

Rasulullah saw. bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.

Rasul juga seorang yang sangat peka terhadap situasi yang ada di sekelilingnya, dalam sebuah hadis:

“Ketika sedang salat, beliau mendengar suara tangisan bayi, lalu beliau membaca surat yang pendek dengan suara yang kecil.”

Inilah beberapa hadis Nabi, yang kebanyakannya adalah hadis fi’liyyah (pekerjaan atau perilaku Nabi yang direkam oleh sahabat) tentang akhlak Rasul dalam keseharian. Semoga hadis-hadis ini juga dapat menginspirasikan kita untuk mengikuti tidak tanduk Rasul dalam keseharian dan juga sebagai manifestasi kecintaan kita kepada Allah swt., karena Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31:

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.