Mencegah Paham Radikal

Mencegah Paham Radikal

GEMA JUMAT, 08 DESEMBER 2017

Akhir-akhir ini, radikalisme menjadi salah satu isu yang hangat diperbincangkan. Paham radikalisme menjerat masyarakat dianggap mampu menghancurkan tatanan sosial dan keamanan. Seperti halnya peristiwa bom Bali. Pelakunya dipastikan termakan pemikiran radikalis sehingga sanggup membuat nyawa orang melayang.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Bustami Usman menjelaskan radikalisme akan mudah seseorang apabila sedikitnya pemahaman pengetahuan agama. Dayah, sebuah lembaga pendidikan yang konsisten menyebarkan pengetahuan agama dinilai mampu mencegah radikalisme. Sejauh ini, para ulama kharismatik Aceh telah menyusun kurikulum pendidikan dayah yang sesuai. Diharapkan kurikulum tersebut menjadi rujukan yang baik.

“Kalau pembelajaran di dayah sesuai dengan kurikulum, makan akan sangat bermanfaat dalam pembinaan santri dayah,” paparnya dalam sebuah diskusi publik bertajuk Peran Perguruan Tinggi dan Dayah Dalam Upaya Pencegahan Paham Radikal di Aceh. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula MPR Fakultas Pertanian Unsyiah di Darussalam.

Bustami mengklaim, dari data dayah-dayah yang terdaftar di dinasnya, tidak ada satupun yang dimasuki paham radikal. Ia menegaskan, radikalisme tidak boleh terjadi. Indonesia memiliki ideologi Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati. Pancasila berhasil mempersatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia. Kendatipun Indonesia diprediksi terpecah seperti Uni Soviet, tapi kenayataannya tidak demikian. Indonesia masih mampu bersatu.

Khususnya di Aceh, dua organisasi menyesatkan pernah berkiparah yakni Millata Abraham dan Gafatar. Keduanya difatwa menyesatkan karena melenceng dari ajaran Islam. Mayoritas anggota di dalamnya merupakan mahasiswa pintar di perguruan tinggi. Tidak sedikit di antara mereka memiliki nilai akademik tinggi. Dikhawatirkan, kedua organisasi akan bergerak lagi dengan menggunakan nama berbeda. Oleh karenanya, lingkungan kampus perlu diawasi.

Fungsi dayah

Turut hadir dalam diskusi publik tersebut berbagai sumber lainnya, seperti Baharuddin dari ISKADA, dan Sahlan Dari BAdan Pendidikan Dayah.

Sahlan menyebutkan, Aceh identik dengan hadirnya dayah. Kondisi Aceh bisa memburuk apabila dayah sudah tidak lagi. Bahkan dayah dianggap mampu memperbaiki perekonomian Aceh karena berfungsi menciptakan generasi unggulan di Aceh. Ia turut menyampaikan, untuk menghasilkan generasi seperti itu, pendidikannya harus merujuk kepada kurikulum yang sudah diatur bersama. Kurikulum itu sepatutnya memiliki standar nasional.

Untuk mengoptimalkan fungsinya, tenaga pengajar di dayah harus diperhatikan serius. Membaiknya ekonomi berdampak pada tingkat kefokusan mereka mengajar. Mereka dapat pula menyediakan seluruh waktunya demi dayah. Di samping itu, pembangunan prasarana dan saran patut diprioritaskan juga. Menurut Sahlan, dayah semakin berkembang infrastrukturnya.

“Dayah harus berpacu menjawab tantangan global,” pungkasnya.

Baharuddin menjelaskan, paham radikalisme tidak muncul begitu saja. Ada strudara yang sudah menyusun skenario dibaliknya. Agar radikalisme benar-benar bisa dipahami masyarakat, pemerintah harus memberikan definisi secara jelas tentang radikalisme, terorisme. Definisi tersebut dinilai sangat penting.

Paham radikal berkembang di perguruan tinggi. Makanya, riset-riset tentang isu radikalisme perlu dilakukan. Semua itu bertujuan supaya mudah mencari akar masalah mengapa radikalisme bisa masuk. “Setelahnya baru bisa dicarikan solusi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, ada beberapa cara lain mencegah masuknya paham radikal. Caranya dengan membudayakan budaya akademik. Dalam dunia pendidikan, referensi dan diskusi kelompok sangat penting. Sedangkan di lingkungan kemasyarakatan, pencegahan paham radikal bisa dilakukan dengan gotong royong dan menjaga kearifan lokal masing-masing. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.