Seminar Internasional (Keci) Barus bukan Titik Nol Masuknya Islam

Seminar Internasional (Keci) Barus bukan Titik Nol Masuknya Islam

 

GEMA JUMAT, 08 DESEMBER 2017

Penetapan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Maret 2017 sebagai Titik Nol Islam di Indonesia menimbulkan kontroversi di kalangan sejarawan. Menurut sejumlah sejarawan, tidak ada bukti kuat bahwa Barus, merupakan awalnya masuknya Islam di nusantara. Di Aceh, beberapa kali sudah diselenggarakan seminar dengan menghadirkan pemateri mumpuni. Semuanya setuju bahwa Aceh-lah awal masuknya Islam, bukan Barus.

Dr phil Ichwan Azhari, sejarawan dari Universitas Negeri Medan, mempertanyakan latar belakang menetapkan Barus sebagai titik awalnya. “Kunjungan tiba-tiba Presiden Jokowi untuk meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara merupakan bagian dari politik hitoriografi yang tanpa arah,” ujarnya dalam Seminar Internasional Masuknya Islam ke Nusantara di Aula Asrama Haji, Banda Aceh.

Ia menambahkan, ada kepentingan politik yang terdapat kepetingan politik historiografi dan pembelajarannya di sekolah. Pertama kalinya Barus diajukan sebagai lokasi awalnya masuk Islam ke nusantara oleh sejarawan Medan, Dada Meuraxa dalam seminar Masuknya Islam ke Indonesia pada 17-20 Maret 1963 di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Tapi gagasannya ini ditolak oleh forum seminar tersebut karena dinilai lemah. Sejak saat itu tidak ada forum ilmiah yang berani menyimpulkan bahwa Barus lokasi awal masuknya Islam.

Pada 1962, data mengenai ketuaan Islam di Barus disampaikan oleh Dada Meuraxa dan Panitia Badan Pemelihara Makam-Makam Tua (PBPMT) di Barus Mudik. Mereka melaporkan temuan batu Nisan di Barus kepada panitia seminar Masuknya Islam ke Indonesia. Data tersebut mengenai perkiraan masuknya Islam ke Barus pada 1 hijriah atau 7 masehi, yakni masa awal kenabian Rasulullah Muhammad saw. Asumsi mereka didasarkan pada temuan batu nisan di Bukit Mahligai Rukunuddin yang wafat pada 13 Shafar 48 H (672 M).  Kemudian, asumsi tersebut dibantah oleh Thawalib Lubis dengan memperlihatkan bahwa di batu nisan tidak ada angka 48 H, melainkan 802 H (1397 M). Pada 2006, ahli epigrafi, menyatakan, di batu nisan tersebut tertulis atas nama Rukn al-Din yang wafat pada Shafar 800 H (1397 M).

“Dari data tersebut, maka terbantahlah asumsi Dada Meuraxa dan PBPMT. Sayangnya, asumsi tersebut telah menjadi keyakinan kuat bagi beberapa kelompok masyarakat di Islam di Sumatera Utara, terutama di Tapanuli Tengah” terangnya.

Dr Tgk H Ajidar Matsyah Lc MA, menjelaskan, sebelum pergeseran titik nol masuknya Islam, para sejarawan sepakat Aceh merupakan pusat peradaban Islam tertua di Asia Tenggara. Islam di Aceh sudah berusia sekitar 1.214, terhitung sejak dideklarasikannya Kerajaan Islam di Peureulak pada 225 H. Tiga teori masuknya Islam ke Aceh ada tiga yakni datang langsung dari Arab, melalui Gujarat (Hindia), dan melalui Cina. Sedikitnya terdapat sekitar delapan kerajaan Islam pernah muncul di Aceh beserta ratusan raja-rajanya.

“Hampir semua sejarawan sepakat Aceh adalah pusat peradaban Islam tertua di nusantara. Aceh adalah gate way Islam ke nusantara,” pungkasnya.

Ia menuturkan, temuan bukti-bukti sejarah di kawasan Barus seperti makam Syekh Mahmud, makam Mahligai, dan lainnya tidak menguatkan Barus titik nol masuknya Islam. Jika Syekh Mahmud disebutkan sampai ke Barus pada era 10 tahun Rasulullah menyampaikan dakwah di Mekkah, hal itu tidak mungkin sama sekali. Rasulullah pada saat itu belum berdakwah keluar Mekkah. Kalau dibenarkan Syekh Mahmud sebagai pembawa Islam pertama ke Barus era 10 tahun Rasulullah di Mekkah, maka dipastikan bahwa Syekh Mahmud adalah sahabat Rasulullah.

Kemudian, jika temuan makam Tuhar Amsuri (602 H) di Barus dikatakan lebih tua atau lebih awal dari makam Malikussaleh di Pasai (696 H, diriwayat lain pada 659 H), maka perlu ditinjau kembali. Kerajaan Pasai didirkan oleh Maharaja Mahmud Syah (Meurah Giri) pada 433-470 H/1042-1078 M, sebagai dinasti pertama. Sementara itu, Sultan Malik al-Saleh (Meurah Silo) memerintah pada 659-688 H/1261-1289 M adalaj dinasti kedua di Kerajaan Pasai. Dengan demikian, Pasai lebih tua dari Barus.

Kalau Syekh Rukunuddin dijadikan bukti sejarah, tentu akan ditemukan peninggalan sejarah seperti naskah, kitab, dan pengaruh lainnya. Sayangnya tidak ditemukan hal-hal seperti itu. “Kalau memang Syekh Rukunuddin dan pengikutnya sebagai pelopor Islam pertama di Nusantara, tentu pengaruh keislaman di Barus dan sekitarnya sangat kuat,” sambung Ajidar.

Di sisi lain, andai Tuanku Raja Ibrahim Syah disebut sebagai raja pertama Barus, sedangkan istilah “Tuanku” justru menunjukkan Barus tidak lebih tua dari Kerajaan Peureulak dan Pasai. Istilah “Tuanku” baru muncul di era Pasai atau Kerajaan Melayu Melaka. “Kita berharap pemerintah, dalam hal ini kementrian mereposisi Aceh sebagai titik nol masuknya Islam ke nusantara,” tutupnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.