Menjauhkan Diri dari Azab Allah SWT

Menjauhkan Diri dari Azab Allah SWT

GEMA JUMAT, 15 DESEMBER 2017

Oleh Tgk Rusli Daud, SH.I

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini adalah sebagai pembawa kabar gembira (Basyira) dan juga pembawa kabar takut (nazira). Allah berfirman dalam Al quran yang artinya “Sesungguhnya Kami  teah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (kabar takut), dan kamu tidak diminta (pertanggungan  jawab) tentang penghunni penghuni neraka”(Al Baqarah: 119). Menurut Imam Jalaluddin dalam kitabnya Tafsir Jalalain, Pengertian kabar gembira adalah Allah akan memberikan Syurga kepada orang yang  menerima ajaran Nabi Muhammad, sedangkan maksud kabar takut adalah Allah akan memberikan azab kepada orang  yang  tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

Azab adalah suatu peringatan akan kemurkaan Allah pada makhluknya yaitu manusia yang telah melanggar perintah Allah, mengerjakan perbuatan yang dilarang serta meninggalkan perbuatan yang diperintah, dibalasnya dengan teguran, baik berupa bencana alam maupun lainnya. Dalam al Qur an banyak sekali ayat ayat yang memberikan informasi kepada manusia tentang azab azab Allah, diantaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam surat al anfal yang artinya: Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya.(al-Anfal 8:25).

Azab Allah itu sangat pedih. Jika azab itu diturunkan pada suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat tersebut, baik orang shalih maupun thalih (keji). Dalam ayat ini, Allah memperingatkan kaum Mukmin agar mereka senantiasa membentengi diri mereka dari siksa tersebut dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul serta menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran. Ayat di atas sebagai peringatan lain yang amat besar bagi kaum Mukmin, agar mereka tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul, serta tidak meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru manusia kepada kebaikan dan mengajak mereka untuk menjauhi kemungkaran).

Sebab, jika mereka meninggalkannya, maka kemungkaran akan menyebar dan kerusakan akan meluas. Bila kondisi sudah demikian, maka azab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat, baik yang shaleh maupun yang thalih, yang berbuat kebajikan maupun yang berbuat kejelekan, baik yang adil maupun yang zhalim. Dan jika Allah menurunkan siksa, maka siksa-Nya sangat pedih, tidak seorang pun yang kuat menahan siksa tersebut. Untuk itu, hendaknya kaum Mukmin menjauhinya dengan cara melaksanakan ketaatan.

Sebagai seorang Mukmin, kita harus punya keyakinan, bahwa azab yang ditimpakan Allah kepada manusia tidaklah terbatas pada azab di hari akhirat, yaitu alam kubur, padang mahsyar, shirathal mustaqim dan neraka, juga bukan hanya pada bencana alam seperti banjir, gempa dan angin kencang, tapi azab Allah juga berupa kehidupan yang sempit berupa bencana-bencana dalam bidang ekonomi, sosial dan politik seperti yang hingga kini masih melilit diri kita bangsa Indonesia. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Thaha 20:124). Azab Allah juga berupa musibah-musibah dalam bentuk lain seperti kecelakaan kereta api, jatuhnya pesawat, banjir, gempa dll.

Akibat Dosa

Berbicara azab maka sangat berkaitan (identik) dengan dosa, sebagaimana berbicara fahala maka identik dengan ibadah. Dosa tidak terlepas dengan perbuatan maksiat. Segala bencana dan musibah yang terjadi di dunia ini sebabnya adalah hasil perbuatan maksiat, dosa dan kemungkaran yang dilakukan oleh manusia. Sesungguhnya Allah kuasa memberi hukuman terus di dunia dan jika Allah menghendaki, Dia mengampunkan dosa-dosa tersebut. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan dengan tanganmu sendiri (daripada perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa), dan Allah memaafkan sebahagian besar daripada dosa-dosa kamu”. (al Syura42:30)

Allah menerangkan bahwa azab atau bencana-bencana yang menimpa manusia seperti penyakit, bencana alam dan bermacam lagi itu adalah sebahagian daripada balasan dan hukuman bagi umat manusia yang melakukan dosa, maksiat dan kemungkaran di dunia ini. Allah menjadikan dosa-dosa itu sebagai sebab yang menghasilkan akibat-akibat yang menimpa hamba-Nya yang berdosa. Apabila terdapat orang yang melakukan maksiat di suatu tempat, maka Allah menurunkan azab atau bala bencana di kawasan tersebut. Karena perbuatan dosa oleh segelintir manusia, maka manusia lainnya juga turut menanggung kesusahan sama.

 

Enam Cara Menjauh dari Azab

Maka satu satunya jalan untuk menjauhkan diri kita dari azab azab Allah, baik azab duniawi maupun ukhrawi adalah dengan jalan kita menjauhkan diri kita dari perbuatan dosa dan maksiat. Secara terperinci ada beberapa langkah atau cara untuk menjauhkan diri kita dari azab Allah, di antaranya adalah, pertama, do’a.

Dalam sebuah hadis nabi menyebutkan, “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.” Kedua, kesungguhan takwa. Kekuatan takwa melahirkan banyak solusi serta mendatangkan kebahagiaan. Allah menyatakan dalam Al Quran  “Barang siapa yang bertakwa, maka Allah jadikan ada jalan keluar baginya.” ( at-Thalaq 65:2). Ketiga, restu dan ridha orang tua. Nabi mengatakan dalam sebuah hadis  “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hasan. at-Tirmidzi : 1899,  HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani).

Keempat, sedekah. Orang-orang yang beriman sangat sadar terhadap kekuatan sedekah sebagai ikhtiar menolak bala, kesulitan, dan berbagai macam penyakit. Nabi mengatakan, “Sungguh, sedekah dapat memadamkan panasnya kubur orang yang bersedekah, dan sungguh orang mukmin akan bernaung pada hari kiamat dengan payungan sedekahnya“ (HR Thabrani). “Sedekah dapat mencegah 70 macam bencana, yang paling ringan adalah penyakit kusta dan supak“ (HR Thabrani). ”Bersegeralah kalian untuk mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana tak dapat melewati sedekah“ (HR Thabrani). ‘’Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah“ (HR Baihaqi).

Kelima, perbanyak istighfar. “Kami tidak akan menurunkan azab bencana selama mereka masih beristighfar (al-Anfal 8: 33). Keenam, silaturahim, lalu selalu berzikir dan membaca shalawat. “Petir menyambar kafir juga mukmin, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berzikir.”

Sudah sepatutnya kepedulian untuk menolak maksiat dan kemungkaran guna menjauhi azab kita jadikan kebiasaan hidup dan menjadi bagian dari gaya hidup kita. Usaha-usaha kita dalam menolak maksiat dan kemungkaran dengan segala cara dan media menunjukan kualitas keimanan kita. Tidak peduli dan mendiamkannya dengan diiringi perasaan benci saja berarti iman yang kita miliki adalah selemah-lemahnya iman, apalagi tidak peduli dan mendiamkannya tanpa diiringi perasaan benci (biasa-biasa saja) atau malah menyukainya, bisa-bisa di dalam hati kita sama sekali tidak ada iman sama sekali. Na’udzubillah min dzalik..

 

Khatib Pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh, Lamjamee, Banda Aceh .

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.