Nol-Kan Kas Masjid

Nol-Kan Kas Masjid

GEMA JUMAT, 15 DESEMBER 2017
Oleh Murizal Hamzah

Apa Jumat tadi Anda menyimak pengumuman saldo masjid? Berapa sisa kas masjid? Apakah puluhan juta uang tersimpan manis di bank konvesional atau bank syariah? Bagi sebagian pengurus masjid, ada kepuasan jika saldo masjid yang dipublikasi setiap Jumat meningkat dan terus bertambah dari Jumat ke Jumat. Apakah kas masjid dari sumbangan jamaah halal digunakan untuk kemakmuran umat?

Bertahun-tahun kas masjid disimpan di bank tanpa disentuh untuk kegiatan sosial. Setiap Jumat, saldo di rekening masjid melonjak yang bersumber dari infaq jamaah. Jika ada pertanyaan, apakah uang umat di kotak amal itu boleh digunakan untuk penguatan ekonomi atau pendidikan  jamaah?

Seorang pengurus masjid di Yogyakarta berseru:
“Kita berupaya keras agar setiap pengumuman saat Shalat Jumat, saldo infak harus nol.”

Jika sebuah masjid memiliki kas puluhan juta setelah dipotong operasional masjid dan gaji khadam, selayaknya masjid ini perlu ditambah fasilitas pustaka atau tempat bermain yang mencerdaskan anak-anak. Di Aceh  belum banyak masjid yang ada  pustaka. Padahal melalui membaca, jendela ilmu pengetahuan terbuka.

Lebih baik warga membaca di pustaka masjid daripada berleha-leha di kedai kopi.  Umat yang membaca di pustaka masjid dapat shalat berjamaah. Kita percaya, jamaah tidak keberatan jika infaqnya untuk merawat pustaka. Salah satu faktor kemajuan Islam karena keberadaan pustaka dengan buku-buku bermutu. Mengajak umat ke pustaka lebih banyak kuras energi daripada mengajak ke kedai kupi. Dampak lain jika kas masjid nol yakni jamaah berlomba-lomba lagi mengisi uang ke kotak amal atan mentransfer ke rekening masjid.

Dengan saldo masjid yang jutaan, pengurus masjid bisa membangun klinik kesehatan atau tempat bermain anak-anak. Masjid dan halaman layak menjadi tempat bermain-main anak-anak sejak dini. Mereka harus diakrabkan dengan Rumah Allah agar hatinya terpikat dengan masjid di mana saja dan kapan saja. Kegembiraan anak-anak berlompat-lompat di seputaran masjid itulah yang kelak mengisi shaf-shaf shalat. Ironis memang jika masjid digembok di luar waktu shalat karena tidak ada aktivitas pendidikan atau ekonomi.

Di beberapa tempat, kita menyaksikan sejak awal masjid dirancang ada aula atau ruangan pertemuan untuk disksui, seminar bahkan resepsi perkawinan. Dari hasil penyewaan itu, kas masjid terisi. Termasuk sewa halaman masjid untuk parkir mobil. Sekedar info, sewa parkir 1 mobil Rp 500 ribu/bulan. Dengan manajemen masjid yang profesional dan terbuka, aktivitas masjid semakin banyak yang pada ujungnya semakin mendekatkan umat ke masjid dan taat beribadah.

Sebuah daerah akan bangga punya masjid yang mewah dan indah. Pada waktu bersamaan, warga di sekitar masjid wajib diperhatikan agar kesehatan, pendidikan, dan ekonomi keumatan terjamin.  Umat perlu memakmurkan masjid dan masjid juga perlu memakmurkan jamaah melalui pengelolaan uang umat yang dhimpun dari recehan atau lembaran-lembaran yang dimasukkan ke kotak amal yang didorong dari satu jamaah ke jamaah lain.

Sebutan nolkan saldo masjid agar uang umat di masjid dapat berputar kembali ke umat yang membutuhkan. Jamaah akan bahagia dan merasa pahala shadaqah sudah dicatat ketika masjid memaklumatkan infaq sudah dibangun pustaka, membiaya khitanan kaum dhuafa dan lain-lain. Prinsip nolkan kas masjid ini sudah diterapkan di Yogyakarta dan jamaah terus mengisi kotak amal karena langsung melihat infaqnya dirasakan  oleh umat yang dhuafa.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.