Siaga Modal Utama Hadapi Bencana

Siaga Modal Utama Hadapi Bencana

GEMA JUMAT, 22 DESEMBER 2017

Nasir Nurdin  (Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh)

Ratusan ribu orang tewas dan luka-luka akibat tsunami yang menerjang Aceh pada akhir 2004 silam. Mereka bukan korban sia-sia, kita yang ditinggalnya mendapat dua pelajaran berharga bagi masa depan bersama, solidaritas sosial dan indahnya perdamaian.

Setelah 13 tahun gempa besar, tampaknya kita belum bisa menarik pelajaran untuk meminimalkan korban jiwa dan harta benda. Mengapa? Pertama, ketidak seriusan masyarakat yang sudah dan belum terkena bencana untuk melakukan upaya intelektual dan gaya hidup jika bencana serupa akan menimpa mereka; Kedua, instrumen regulasi yang ada baru sebatas aturan, belum membumi di tengah masyarakat; Ketiga, penciptaan budaya kesiap siagaan belum menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat, masih seputar brosur atau alat peraga lainnya yang dibaca kemudian dilupakan; Dan keempat, para ilmuwan belum berperan sebagai pemberi peringatan, melainkan dianggap hanya memberikan rasa takut pada masyarakat. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh, Nasir Nurdin.

Bagaimana cara mendidik masyarakat kita untuk sadar bencana?

Idealnya, sebagai masyarakat yang hidup di negeri yang ditakdirkan rawan bencana, kita dituntut untuk selalu siaga dan siap jika sewaktu-waktu bencana itu datang. Mitigasi bencana menjadi suatu keniscayaan di negeri ini.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyiapkan masyarakat sadar bencana, antara lain dengan membentuk komunitas berbasis masyarakat, di mana dengan komunitas itu masyarakat bisa secara rutin  berdiskusi, berlatih, dan terus mengasah kemampuan sehingga tahu apa yang harus mereka lakukan jika bencana benar-benar datang.

Apa hal yang paling utama menghadapi bencana?

Salah satu penyebab banyaknya korban saat bencana adalah akibat kurangnya pengetahuan atau ketidaksiagaan menghadapi bencana.  Karenanya, pengetahuan mengidentifikasi tanda-tanda suatu bencana harus terus ditingkatkan. Tentang apa saja yang harus disiapkan menghadapi bencana, tentu saja disesuaikan dengan tingkatan atau cakupan suatu bencana.

Sebagai contoh, jika berada di zona bencana banjir, tanah longsor, gunung api dan lain-lain, maka teruslah memantau unit-unit rescue atau badan penanggulangan bencana agar bisa secepatnya mendapat bantuan saat terjebak dalam situasi darurat.

Memantau dan mengupdate berita-berita dari BMKG juga penting, tentukan titik-titik aman untuk mengungsi, dan yang paling penting jangan terlalu panik. Lakukanlah sesuai kemampuan, tidak memaksakan sesuatu yang bisa berakibat lebih fatal terhadap diri sendiri maupun orang-orang yang akan diselamatkan.

Hikmah apa yang dipetik dari gempa dan tsunami 2004?

Betapa tak berdayanya kita menghadapi amuk prahara. Bencana tsunami 2004 telah membuka mata dunia betapa pentingnya pengetahuan tentang kebencanaan dan kebersamaan untuk upaya penanggulangan.

Pandangan Anda soal pembangunan Aceh pasca tsunami?

Dari segi pembangunan fisik secara kasatmata sudah cukup bagus, namun dalam hal kebijakan tata ruang masih banyak yang perlu dikritisi karena pembangunan sering mengabaikan pengurangan risiko bencana. Artinya, kebijakan pembangunan fisik belum sepenuhnya dilakukan dengan konsep pendekatan bencana.

Salah satu penyebabnya karena kita terlalu cepat melupakan sesuatu, termasuk bencana yang pernah menimpa. Ini baru 13 tahun pasca tsunami, sudah mulai muncul gejala pengabaian, bagaimana kalau puluhan atau ratusan tahun ke depan. Bisa-bisa anak cucu kita menganggap tsunami Aceh cuma dongeng.

 

Konsep pembangunan dalam pengurangan resiko bencana?

Pembangunan dengan pendekatan bencana antara lain harus menyesuaikan dengan kondisi negeri yang rawan bencana. Kalau rawan banjir, maka konsepnya harus menata bangunan agar tidak malah mempercepat datangnya banjir, atau kalau rawan gempa maka struktur bangunan harus disesuaikan dengan kerawanan gempa.

Harapan Anda di tahun ke 13 tsunami ini ?

Harapan saya agar  visi misi Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Irwandi-Nova, termasuk untuk mewujudkan masyarakat Aceh teuga dan tangguh bencana bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya program di atas kertas apalagi sebatas slogan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.