Aceh dan Dunia Internasional

Aceh dan Dunia Internasional

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004 adalah salah satu musibah terbesar dalam sejarah manusia modern. Maka, mau tidak mau Aceh yang merupakan epicentrum gempa, dan mengalami dampak terparah dibincangkan oleh masyarakat dunia saat itu. Beragam empati mengalir atas nama bantuan kemanusiaan. Headline

berita dunia saat itu tidak henti-hentinya memberitakan Aceh, dan perkembangan bantuan kemanusiaan.

Beberapa kantor-kantor internasional kemudian memuka perwakilannya di Aceh untuk bisa lebih intensif membantu Aceh, khususnya dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi. “Dari sini saja, sudah terlihat secara tidak langsung musibah tersebut, membuat nama Aceh lebih dikenal oleh masyarakat internasional,” ujar Prof Eka Srimulyani, Guru Besar Univesitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (28/12) di Banda Aceh.

Sebenarnya, bagi negara atau kawasan dunia yang telah lebih dulu memiliki ikatan kesejarahan tersendiri dengan Aceh, seperti Turki, Aceh bukanlah wilayah yang sama sekali asing bagi mereka.

Ia menjelaskan, apabila dikaitkan dengan musibah tsunami, maka hubungan yang perlu dibentuk, terlibat, dan diperkuat adalah jejaring dengan daerah, kawasan atau negara yang memiliki kontek kerentanan bencana yang sama dengan Aceh. Sehingga, transfer pengalaman dan pengetahuan serta sumber daya yang relevan melalui jejaring ini bisa terjadi. Bisa jadi kabupaten/kota yang ada di Aceh menjalin hubungan tersebut dalam bentuk “sister city”.

“Pihak dari luar mengetahui dan mengenal Aceh (dengan baik), setidaknya itu akan membuat dialog dan kerja sama yang dibangun memang akan lebih tepat sasaran,” pungkas Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry ini.

Ada sejumlah program yang bisa disusun dengan dunia internasional demi kemajuan Aceh. Caranya adalah melihat kembali ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh. Setidaknya, di sana ada program yang menjadi prioritas yang relevan untuk kesejahteraan dan kemajuan Aceh. Namun, rata-rata, daerah-daerah di Negara berkembang akan fokus ke pendidikan, di luar dari infrastruktur yang seolah memang merupakan prasyarat masyarakat menuju kemajuan. Relasi yang dibangun perlu memiliki sebuah perencanaan dan relevan dengan kebutuhan dan prioritas pembangunan Aceh. Tujuannya, energi dan sumber daya yang dikeluarkan tidak sia-sia.

Ia menambahkan, kalau berbicara sejarah, Aceh memiliki diplomasi yang dikenal dan tercatat dalam sejarah dengan

beberapa kawasan dunia. Surat-surat dari penguasa Aceh ke beberbagai penguasa di dunia setidaknya menunjukkan

kekuatan diplomasi atau hubungan diplomatik. Sesuatu yang mungkin sudah tidak menjadi fokus lagi pada masa sekarang. Kekuatan diplomasi sebenarnya adalah sebuah keahlian yang perlu dimiliki oleh para pihak, bahkan individu sekalipun dalam menjajaki sebuah hubungan dengan pihak luar.

“Kalau kekuatan ini bisa ditata kembali secara terencana, professional dan tepat sasaran, setidaknya akan berkontribusi membantu program-program pembangunan di Aceh,” terusnya.

Di masa sekarang, Aceh mampu menjalin hubungan dengan dunia internasional asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Perencanaan dan tujuannya harus jelas, bukan sesuatu yang ujug-ujug atau untuk tujuan-tujuan pragmatis tertentu.

Biasanya sebuah hubungan yang kuat, kalau saling memberi manfaat, artinya supaya hubungan itu terawat maka aspek “take and give” perlu dijaga keseimbangannya. Semua daerah pasti memiliki kelebihan-kelebihannya selain kekurangan-kekurangannya.

“Kelebihan ini, bisa jadi dalam bentuk pengalaman, pembelajaran, sumber daya alam dan manusia dan sebagainya. Perlu juga diperhatikan inovasi-inovasi dalam kerja sama dan relasi yang dibangun sehingga akan berkelanjutan, dan menyesuaikan dengan keadaan dan perubahan,” tutupnya. Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.