Belum Ada Kesadaran Politik Kolektif Membangun Aceh

Belum Ada Kesadaran Politik Kolektif Membangun Aceh

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Muslahuddin Daud, Alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Tsunami Aceh telah lewat 13 tahun. Sebenarnya, selain sebagai musibah, tsunami juga momentum untuk memperkenalkan dan membangun Aceh.  Sayangnya momentum itu hilang begitu saja. Lalu, bagaimana merawat kembali populeritas Aceh akibat tsunami, ikuti wancara wartawan Tabloid Gema Baiturrahman, Indra Kariadi, dengan Muslahuddin Daud:

Bagaimana memanfaatkan popularitas Aceh di tingkat internasional pasca tsunami?

Masyarakat dan pemeritah di Aceh perlu menjaga dan merawat situs tsunami dengan baik, melengkapi infrasrtuktur disekitarnya untuk dapat dijadikan sebagai knowledge manangement bagi masyarakat dunia. Produksi tertimoni dalam berbagai bentuk menjadi sangat penting sebagai bagian pembelajaran. Membuat expert exchange secara reguler hingga dikenal di berbagai belahan dunia, terutama masyarakat kampus dan wisatawan sejarah.

Bagaimana menjaga hubungan yang sudah terjalin dengan dunia internasional?

Legacy setiap negara sudah ada di Aceh. Legacy ini perlu diperbanyak, misalkan membuat cottage rumah singgah dilokasi wisata. Setiap tamu dari berbagai negara dapat menggunakan tempat tersebut untuk menginap, tentu saja lewat administrasi kedutaan. Rangkaian peringatan tsunami mestinya bukan hanya ritual keagamaan, tetapi penting dilakukan dalam bentuk disaster preparedness

Program kerjasama apa yang bisa kita tawarkan kepada dunia internasional?

Joint research salah satunya, karena Aceh tsunami terbesar tidak salah diajak Jepang dan Amerika terutama negara bagian Hawaii membangun pusat showroom (museum) dampak tsunami lengkap seluruh dunia, sehingga ketika pengunjung datang ke Aceh, mereka sudah mengetahui berbagai pembelajaran tsunami dari belahan dunia lain selain Aceh.

Apa yang harus dilakukan pemerintah Aceh untuk menarik NGO melanjutkan kerjasama ekonomi dan sosial?

Sekarang sudah terlambat, mestinya proses komununikasi jangan putus setelah BRR, sekarang sudah sulit mencari momentum dan milestone. Salah satu caranya pemerintah mendata ulang peninggalan NGO dan donor, membuat dalam bentuk pelaporan kemudian menyurati dan membuat audiensi untuk mecari peluang merawat legacy mereka.

Strategi dan kebijakan apa yang bisa diambil setelah penangangan pascabencana untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat?

Lagi-lagi pemerintah harus melakukan indept evaluation terhadap semua lesson learn penanganan pasca tsunami. Kemudian dipilah dan dipilih strategi yang tepat berdasarkan evidance lapangan yang proven. Kemudian dimodifikasi sesuai dengan peraturan dan sistem administrasi pemerintah kalau dikeloka secara on budgetting, kalau off budgetting tinggal dipromosikan ke berbagai lembaga swasta dan NGO untuk replikasi.

Apa harapan Anda setelah 13 tahun tsunami?

Secara emperis Aceh adalah provinsi yang gagal menggunakan momentum untuk kemajuan, sudah ada ratusan kesempatan emas berlalu tanpa ada hasil yang maksimal. Harapan saya kepada pemerintah sederhana saja, yaitu jeli dalam menggunakan kesempatan untuk membangun sesuatu yang prospektif, bukan menggunakan momen popularitas sesaat yang kemudian tanpa tersisa apapun setelah itu.

Sudah 13 tahun tsunami, saya belum melihat kesadaran politik kolektif untuk membangun, tarik menarik kepentingan terbaca hingga masyarakat awam sekalipun. Sehingga dampak jelas bahwa kita selama 13 tahun belum optimal dalam menggunakan sumberdaya manusia dan keuangan. Harapan saya, kalau bisa ada kekompakan politik secara kolektif untuk membangun, bukan secara vulgar mempraktekkan aji mumpung.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.