KAFIR DAN INGKAR

KAFIR DAN INGKAR

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka

sendiri, tentulah orang-orang kafi r itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).(Q.S. al-An’am ayat 7-8)

Allah menyatakan bahwa, jika kebenaran yang datang kepada manusia itu, khususnya orang-orang yang kafir, akan tetap mencari alasan apapun untuk menolak kebenaran. Dalam ayat ini Allah menjelaskan keragu-raguan orang-orang kafi r yang ingkar terhadap kebenaran wahyu dan kerasulan Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. sesungguhnya sudah mengetahui berdasarkan keterangan-keterangan Allah swt. pada ayat-ayat yang lalu bahwa sebab-sebab mereka mendustakan agama ialah berpalingnya mereka dari ayat-ayat Alquran dan tertutupnya

hati mereka untuk merenungkan dan memikirkan kejadian-kejadian dalam alam ini. Namun demikian orang-orang musyrikin itu tetap dalam kekafiran.

Penjelasan-penjelasan Alquran terhadap bukti Keesaan Allah dalam alam ini tidak merubah pendirian mereka. Seandainyapun wahyu itu diturunkan dari langit kepada Muhammad saw. tercetak di atas kertas dan mereka dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka, lalu ketika tiba di bumi mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang kafir itu masih akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. Kalimat tersebut disebabkan oleh kesombongan dan permusuhan yang mendalam. Mereka tetap memandang wahyu ilahi itu sebagai sihir dan merasa diri mereka kena sihir. Dengan demikian, mereka tetap tidak akan percaya dengan kebenaran yang diturunkan oleh Allah.

Kemudian Allah menerangkan lagi dalam ayat ini pikiran orang kafi r Mekah tentang kerasulan. Mereka berpendapat semestinya ada seorang malaikat mendampingi Muhammad saw. Yang turut memberi peringatan bersama dia dan memperkuat kerasulan beliau atau sama sekali Allah menurunkan Malaikat sebagai Rasul, bahkan mereka menghendaki dapat melihat Tuhan. Bangsa Arab meyakini tentang adanya hubungan antara Allah dengan

makhluk-Nya yang patut menjadi penghubung (Rasul) yaitu makhluk rohani (malaikat). Manusia, meskipun

dia memiliki kesempurnaan rohani yang tinggi, seperti akal, akhlak dan adab yang mulia, namun tidak mungkin

dia menjadi Rasul disebabkan dia masih bergaul dengan manusia dan terikat kepada kebutuhan jasmani, seperti makan minum dan berusaha.

 

Kaum musyrikin Mekah mempunyai dua pandangan mengenai kedudukan malaikat dalam kerasulan. Pandangan pertama ialah malaikat itu sendiri yang menjadi Rasul. Pandangan kedua ialah malaikat itu menyertai Nabi dan menjelaskan langsung kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah Nabi. Disinilah letak kekeliruan yang besar dari orang-orang kafir terhadap wahyu. Karena anggapan yang berlebihan terhadap diri sendiri, mereka menolak segala sesuatu yang tidak diperoleh mereka dengan langsung.

kemudian Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa kalau Allah menghadirkan malaikat di hadapan mereka menurut wujud bentuknya yang asli, tentulah selesai urusan itu dengan kehancuran mereka dan mereka tidak akan diberi kesempatan lagi untuk menyatakan iman, bahkan azab segera akan menimpa mereka. Kehancuran mereka dapat disebabkan kedahsyatan rupa dari malaikat itu di saat malaikat itu menampakkan diri kepada mereka atau dapat pula mereka dimusnahkan oleh malaikat karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah swt. Wallahu musta’aan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.