Memperkuat Jaringan Internasional AcehPascatsunami

Memperkuat Jaringan Internasional AcehPascatsunami

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Kejadian tsunami 26 Desember 2004 mengguncang dunia. Sebagian kawasan Aceh mengalami kerusakan

cukup parah. Sekitar 170 ribu masyarakat Aceh kehilangan nyawa. Bantuan pun terus mengalir, dari Non Government Organization (NGO) dan berbagai negara di belahan dunia.

Tsunami bukan hanya sebagai cobaan Allah, melainkan mendatangkan hikmah. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang 30 tahun berkonfl ik dengan Pemerintah Indonesia berdamai. Aceh semakin dikenal luas karenanya. Berbagai media massa mengangkat perkembangan kondisi Aceh kala itu. Juanda Djamal, yang aktif mengikuti forum internasional mengatakan, penjual hotdog di pinggir jalan di Inggris pun sudah tahu Aceh.

Berdasarkan sejarah, sudah sejak lama Aceh mampu membangun hubungan dengan masyarakat internasional. Hubungan dengan dunia internasional ini semakin erat pascatsunami.

Junda menjelaskan, karena konflik bersenjata sebelum tsunami, nama Aceh perlahan dikenal dunia. Hal ini disebabkan karena sejumlah perundingan perdamaian dilakukan di kawasan Asia maupun Eropa. “Akan tetapi, pada saat tsunami, membuka lembaran kemanusian, yang tadinya respek karena konflik, setelah tsunami, perhatian masyarakat dunia kepada Aceh semakin lebih,” pungkas Sekjen Konsorsium Aceh Baru ini.

Tidak dapat dipungkiri, rasa iba masyarakat dunia disebabkan peristiwa tsunami terjadi tepat sehari setelah natal. Umat Kristen, terutama di Australia, Amerika, Eropa, yang tengah bersuka cita ingin membagikan kebahagiaannya kepada korban tsunami. Mereka tidak memandang perbedaan agama ketika memberikan bantuannya, melainkan factor kemanusiaan.

Ia menuturkan, dampak tsunami mengundang perhatian masyarakat dunia memulihkan kondisi Aceh. Hikmah tsunami membuat hubungan Aceh dengan mereka, baik kelembagaan dan pemerintahan terjalin. Hubungan tersebut patut dijaga dengan merawat pemberian mereka dan membuktikan Aceh sudah mampu bangkit. “Aceh harus menjadi pusat peradaban dunia, terutama mengenai penyelesaian konflik, mitigasi bencana,” sambungnya.

Dari penilaiannya, hubungan Aceh dengan negara-negara dan lembaga internasional yang membantu pemulihan Aceh pascatsunami terkesan terputus. Seyogyanya, mahasiswa yang melanjutkan pendidikan keluar negeri membangun jaringannya di sana. Perkumpulan jaringan- jaringan yang dibangun akan menjadi sumber kekuatan kemajuan Aceh. Ketika Aceh dikenal luas, maka memudahkan NGO, universitas, dan pemerintahan di Aceh dengan NGO, universitas, maupun pemerintahan di luar negeri. Yang terpenting adalah bagaimana mewujudkan kerja sama

antara pengusaha di Aceh dengan yang di luar negeri. Misalnya pengusaha di sektor pertanian, mereka dapat bekerja sama demi kemajuan produksi hasil pertanian. Sekarang, hasil produksi Aceh terbilang baik. Sayangnya, tidak dapat

diolah sehingga memiliki nilai tambah. Dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang kekhususan Aceh, akan lebih mudah mewujudkan hal itu.

“Entrepreneurship merupakan skill yang sudah dimiliki oleh masyarakat Aceh sejak dulu. Namun, sempat terkenal perkembangannya karena konflik,” lanjut Ketua Pengurus Beng Mawah itu. Pemerintah sepatutnya memperkuat relasi luar negeri. Contohnya, Indonesia, Malaysia, and Thailand Growth Triangle (IMT GT), sampai saat ini belum membuahkan hasil nyata. Hal senada disampaikan oleh Saiful Mahdi, Direktur Eksekutif International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Menurutnya, tsunami berpengaruh besar sehingga Aceh lebih dikenal luas. Sebelumnya, Aceh hanya dikenal sebagian orang karena konflik. Tsunami juga ikut membuka isolasi Aceh baik karena posisinya yang menjadi “pinggiran” Indonesia, ataupun karena sempat diisolasi dari orang luar karena perang. “Banyak yang mulai lupa, Aceh itu sengaja ditutup dari orang luar oleh pemerintah pusat selama konfl ik meningkat. Dan tsunami membuka itu,” tandasnya.

Ia memaparkan, manfaat terkenalnya Aceh pascatsunami bisa dimanfaatkan demi membangun hubungan internasional. Kerja sama pendidikan dan kebudayaan adalah kuncinya. Katanya, saat seseorang baru mengenal kita, seringkali kita tidak bisa langsung mendapat kepercayaan. Dari saling belajar itu akan terbangun kepercayaan. Nah, barulah bicara bisnis. Jangan tiba-tiba kita mau bisnis sama orang padahal kita baru saling mengenal.

“Teman-teman baru kita perlu belajar dulu tentang kita dan kita belajar tentang sahabat baru kita. Karena itu, pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata bisa jadi jalan masuk dan media saling belajar,” imbuhnya.

Ketika Aceh dikenal luas sebagai daerah dengan muslimnya yang baik dan toleran, maka akan membawa lebih banyak sahabat untuk Aceh dalam berbagai bidang, termasuk investasi bisnis. Aceh yang dikenal luas juga akan membuat Aceh terbuka dan kosmopolit seperti di masa kejayaan kesultanan Aceh dulu. Dari dulu Aceh itu, sebagai salah satu pelabuhan utama yang menghubungkan Lautan Hindia dan Nusantara, adalah bangsa dan wilayah terbuka yang berteman dengan berbagai bangsa dari berbagai wilayah, ras, bangsa, dan agama.

“Aceh itu paling maju saat terbuka, dan paling mundur saat menutup diri. Kalau kita makin tertutup, makin sibuk ah kita dengan urusan sendiri sampai “meuklok-klok saree keudroe-droe”, sibuk saling sikut saling “peuphep”, saling merendahkan sesame sendiri,” tutupnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.