MUHASABAH AKHIR TAHUN

MUHASABAH AKHIR TAHUN

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Khutbah DR. Samsul Bahri, M. Ag, Pencaramah Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh

Marilah kita semua bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa; menjunjung tinggi segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sendiri sepi maupun dalam kondisi ramai bersama. Mari kita manfaatkan segala peluang dan potensi untuk meretas jalan menuju taqwa, dan mari kita tutup rapat segala kesempatan yang dapat menjauhkan kita darinya.

Di antara perintah Allah di dalam al-Qur’an yang disebutkan secara bersamaan dalam serentetan perintah bertaqwa adalah perintah bermuhasabah. Mari kita perhatikan ayat al-Qur’an berikut ini;

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Hasyr: 18).

Perintah bertaqwa diulang dua kali di dalam ayat ini, dan di antara pengulangan tersebut terdapat perintah untuk memperhatikan apa yang telah diperbuat oleh seseorang pada masa lalunya demi menyongsong masa depan. Upaya untuk memperhatikan masa lalu demi menyongsong masa depan diistilahkan dengan ungkapan muhasabah. Sebuah atsar yang disandarkan kepada Umar ibn Khattab sangat popular tentang muhasabah, yaitu hasibu anfusakum qabla an tuhasabu. Secara sederhana maksud dari ungkapan tersebut adalah; hitunglah diri sendiri sebelum dihitung di akhirat nanti. Makna serupa adalah bermuhasabahlah sebelum dihisab nanti.  Atau bisa juga dikatakan; lakukan evaluasi diri sebelum suatu sat nanti kamu akan dievaluasi.

Kita memang perlu melakukan evaluasi diri agar tahu apa kelebihan dan kekurangan kita. Dengan mengetahuinya, kita akan dapat berupaya lebih maksimal agar masa depan lebih baik daripada masa lalu. Bukankah kita sangat sering mendengar ungkapan; man kana yaumuhu khairan min amsihi fa huwa rabihun. Wa man kana yaummuhu mitsla amsihi fa huwa maghbunun. Wa man kana yaummuhu syarran min amsihi fa huwa mal’unun. Barang siapa yang keadaannya di hari ini lebih baik dariapada kemaren, ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang keadaannya di hari ini seperti hari-hari kemarin, ia termasuk orang yang terkecoh. Dan barang siapa yang keadaan hari ini lebih buruk daripada hari-hari yang lalu, maka ia merupakan orang yang terkutuk.

Secara potensial, kita adalah umat terbaik sebagaimana difirmankan oleh Allah di dalam kitab suci-Nya;

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q. S. Ali Imran: 110).

Umat Islam dengan demikian mesti sebagai umat terbaik. Namun, kedudukan sebagai umat terbaik bukan semata-mata karena seseorang berkebetulan sebagai beragama Islam. Keberislaman seseorang dalam konteks ini dapat disebut sebagai modal dasar atau potensi untuk menjadi umat terbaik. Seseorang dipersyaratkan kemampuan mengaktualisasi potensi tersebut untuk meraih prediket umat terbaik. Aktualisasi dimaksud terwujud dalam sejumlah aktivitas;  menyuruh kepada yang ma`ruf; mencegah dari yang munkar; dan beriman kepada Allah, sebagaimana lanjutan ayat al-Qur’an di atas.

Ibn Katsir sebagai seorang penafsir al-Qur’an ternama merangkum sejumlah riwayat terkait penafsiran makna khaira ummah (umat terbaik). Umat Islam kata beliau adalah umat terbaik karena membawa manfaat bagi manusia. Kebaikan dalam kaitan ini dihubungkan dengan nilai kegunaan, sehingga pengiringan ungkapan ta’muruna bi al-ma’ruf dan seterusnya adalah bagian yang menyatu dengan ungkapan khaira ummah. Artinya, umat Islam adalah umat terbaik karena membawa manfaat bagi manusia. Manfaat dimaksud terkait dengan tugas yang diemban umat Islam sebagai pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh penafsir lainnya, Imam Qurthubi. Beliau mengutip pendapat Mujahid, seorang mufassir dari kalangan tabi’in bahwa prediket umat terbaik baru akan diperoleh jika melaksanakan kegiatan amar ma’ruf dan nahi munkar. Tanpa upaya yang serius dalam aktivitas amar ma’ruf dan nahi mungkar, prediket umat terbaik tidak mungkin dapat diperoleh. Nah, kini satnya kita melakukan evaluasi dan muhasabah. Sudahkah kita kaum muslimin menjadi umat terbaik saat ini? Sudahkah kita menjadi orang-orang yang paling bermanfaat bagi umat manusia dewasa ini? Mari kita evaluasi. Mari kita bermuhasabah.

Selain tentang pencapaian kaum musllimin sebagai umat terbaik, apa lagi yang perlu kita muhasabahkan? Perlukah kita mengevaluasi sejauhmana kesuksesan kita dalam berkarir, memiliki kekayaan dan juga tentang pendidikan anak? Iya. Kita perlu menghitung semuanya. Kita harus mengevaluasi segalanya. Apa saja yang kita jalani dan lakoni, mesti kita evaluasi sebagai upaya mengaca diri. Tetapi patut pula kita ingat bahwa kesusksesan dalam karir itu tidak akan berlangsung selamanya. Kekayaan juga sangat sementara sifatnya. Semua itu sebentar saja. Karir, kekayaan dan pendidikan putera-puteri kita tidak lah lama berdampak terhadap kita. Dengan karir, kekayaan dan anak, kita hanya meraih kemegahan sementara; hatta zurtumul maqabir (sebatas sampai di mulut liang kubur). Untuk menuju ke sana, karir dan harta tak kita bawa. Terhadap anak-anak, juga harus kita ucapkan sayonara. Oleh karenanya, investasi karir, harta dan anak-anak kita mungkin berjangka waktu sangat singkat.

Ada cara agar karir, harta dan anak-anak kita membawa dampak dalam jangka waktu lebih lama. Karir dapat kita manfaatkan untuk memperjuangkan kebenaran. Harta kita investasikan dengan cara infaq, waqaf, shadaqah dan sebagainya. Akan halnya anak-anak kita berikan pendidikan yang berkualitas, bukan sekedar untuk mengantarnya ke gedung wakil rakyat..bukan pula ke kursi gubernur maupun direktur. Kita didik mereka setidaknya menjadi pengisi shaf shalat berjamaah di setiap waktu. Kita siapkan mereka menjadi pelafal secara tulus do’a; allahummaghfirli zunubi waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira…

Sekali lagi, masa depan kita bukan hanya untuk memperebutkan jabatan kepala dinas, nukan pula kursi legisatif. Kita membingkai masa depan tidak sebatas untuk  satu setengah tahun mendatang. Bukan juga sebatas pilkada ke depan. Bukan. Sama sekali bukan. Masa depan kita tidak hanya sepuluh atau seratus tahun..tetapi ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun mendatang di mana kita akan hidup dalam keabadian. Kita hitung apa saja yang sudah kita himpun untuk menyongsong kehidupan di seberang kematian. Sudahkan terhimpun modal dan bekal untuk hidup di sana?

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.