Ustad Somad

Ustad Somad

GEMA JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Oleh Murizal Hamzah

Sosok ini menjadi magnet di Aceh. Kupasan ceramahnya bikin jamaah tergiang-giang. Sebelum tampil pada mengenang tsunami ke-13 di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Selasa (26/12/2017) malam,  Ustaz  H Abdul Somad Lc MA (UAS) sudah ceramah di Lapangan Merdeka Langsa pada Jumat (1/12/2017) malam.  Tidak salah lagi bintang pada malam itu adalah Ustaz  H Abdul Somad.  Tausiyahnya menyentuh ke relung-relung hati  dengan bahasa yang mudah dipahami plus sedikit bumbu humor untuk mengendurkan urat syaraf.

Pendakwah dari Riau ini merupakan lulusan S1 Al-Azhar, Kairo dan S2 Dar al-Hadits al-Hassania Institute, Maroko dikenal publik setelah ceramah-ceramahnya viral di sosmed, seperti Youtube, Facebook, Instagram, dan lain-lain. Dari hari ke hari, isi khutbahnya yang jitu disukai oleh umat. Tak pelak, undangan berceramah di  seluruh Indonesia dan luar negeri seperti di Malaysia dan Brunai menyapa pria berusia 40 tahun. Pria bertubuh kecil ini gagal berceramah di Hong Kong. Padahal, dirinya sudah mendarat di negera bekas jajahan Inggris ini.  Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa.

Semua sepakat materi dakwah Ustaz Somad aktual, teknik  berbicara menawan dengan intonasi khas. Sisi lain yang memikat umat betah mendengarnya karena  isinya sesuai dengan yang dirasakan  oleh warga atau langsung menjawab pertanyaan umat. Dengan segala pengalamannya, isi khutbah menyelip pesan untuk kerja nyata kepada umat.  Ceramah yang berakar ke bumi dan melangit ke seluruh alam. Sebut saja ketika  tausiyah di Banda Aceh, ada ajakan kepada umat untuk membantu lembaga pendidikan atau kepada anggota dewan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang mendukung penerapa syariat Islam.

Sisi lain yang asyik diikuti dari dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau yakni penampilan sederhana. Berpeci hitam, baju koko dan berkain sarung. Ketika  di Banda Aceh,  dia mampu menguraikan untaian ulama-ulama Aceh yang berkiprah dalam menyiarkan Islam.  Seorang pendai yang cepat menyesuikan diri dengan lokasi berdakwah.  Di Lapangan Ratu Safiatuddin itu kita mendengar kata teungku-teungku, dayah dan sebagainya yang sangat familir di  Serambi Mekkah. Ada pendakatan sosial budaya untuk mengiring pendengar lebih meresap mendengar tausiyahnya.

Bagaimana dengan tarif atau jasanya? Ustaz Somad tidak menentukan tarif. Secara jenaka dia menjawabnya.  “Sampai sekarang, belum lagi. Sebelum saya tentukan (tarif) ini, undanglah. Tapi kalau saya sudah tentukan (tarif), payahlah yang ngundang,” katanya mengundang tawa jamaah.

Demikian juga apakah Ustaz Somad syaratkan harus pergi dengan tiket bisnis Garuda?  “Saya tidak. Mau aja orang mengundang kita menyampaikan ayat-ayat Allah ini, alhamdulillah. Mestinya kita yang datang. Lalu dia bawa kita. Mestinya saya datang ke rumah.”

Dalam setahun, Ustaz Somad adalah sosok fenomena di Indonesia. Diundang ke mana-mana dan para pengundang harus menunggu hingga berbulan-bulan dan jika sedang rezeki bagus, bisa dipenuhi dalam hitungan hari.

 

Setiap zaman ada masanya. Kita tidak tahu, sampai kapan umat mengundangnya dan menyimaknya petuah-petuahnya.  Umat butuh  Ustaz  Somad-Ustaz  Somad lain untuk melakukan syiar Islam yang rahmatan lil alamin.  Pesan dari mimba yang tidak menimbulkan keresahan warga, karena berbedanya pemahaman warga sehingga menghancurkan ukhuwwah Islamiyah. Jika sesama umat kita saling benci karena beda pemahaman yang bukan pada intinya, maka umat lain yang prok-prok jaroe.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.