Hidup Optimis

Hidup Optimis

GEMA JUMAT, 05 JANUARI 2018

oleh : Sayed Muhammad Husen

Kita sering dihadapkan pada kenyataan kontradiktif kehidupan. Pada satu sisi, kita diharuskan bersikap optimis dalam bersikap dan membangun harapan hidup, namun pada sisi lain kita juga “digoda” lingkungan sosial bersikap sebaliknya. Kita seakan digiring untuk pesimis merespon dinamika di sekitar kita.

Padahal, kalau kita pelajari, Islam mengajarkan dan mendorong ummat Islam supaya hidup optimis dan penuh harapan, tidak hanya di dunia, namun berharap kehidupan lebih baik di yaumil akhir. Kita berharap bahagia di dunia dan akhirat. Kita yakin, Allah Swt akan memenuhi harapan dan doa itu, sejauh kita patuh terhadap ajaran-Nya.

Sikap optimis dibutuhkan ummat Islam dimanapun di dunia ini. Sebab, hidup penuh dinamika, masalah dan tantangan yang harus dihadapi. Semua itu akan mampu kita hadapi dengan pikiran positif, salah satu bentuknya  dengan bersikap opimis. Semua itu dapat kita hadapi dengan baik. Allah membantu kita, di awal atau diujung kesulitan yang kita hadapi.

Dengan sikap optimis, kita bisa menyelesaikan atau memikul banyak beban berat. Mampu menghadapi masa sulit. Kita juga akan keluar dari situasi terburuk sekalipun. Hanya saja yang diperlukan prasangka baik terhadap Rabb, ikhtiar maksimal dan doa terus menerus.  Ini pula nilai yang diajarkan Rasulullah Saw.

Dalam konteks ini, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis.” Maka ditanyakanlah kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?” Beliau bersabda, “Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian.” (HR Ahmad).

Banyak kita dengar kisah optimistik Rasulullah Saw menghadapi tantangan dakwah. Beliau tak pernah menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan dakwah, cemoohan, bahkan pengkhianatan. Beliau tak pernah menyerah. Puncaknya, beliau merumuskan strategi pemenanghan dakwah dengan berhijrah. Semua itu bisa dilakukan karena prasangka baik, pikiran positif dan harapan kehidupan akan lebih baik.

Dalam kajian Islam, hidup optimis adalah bagian dari ajaran Islam dan sikap para nabi. Untuk itu, sepatutnya kita menggali dan mengaktualisasikan kembali sikap ini dalam kehidupan keluarga, karier dan bernegara. Saatnya kita membangun  harapan di Aceh ini; bahwa kita mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada dan membangun kehidupan masa depan lebih baik lagi.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.