Optimislah!

Optimislah!

GEMA JUM’AT, 29 DESEMBER

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Ayat di atas Allah menegaskan bahwa sebagai seorang muslim tidak boleh berputus asa. Seorang harus berjuang dalam hidupnya untuk menggapai lebih baik. Bila ditinjau dari ilmu psikologi, putus asa erat kaitannya dengan pesimis. Seseorang cenderung berpikir ke arah negatif terhadap sesuatu. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bersyukur dan bersikap optimis.

Ia menjelaskan, orang optimis akan berusaha untuk memperoleh keinginannya, seperti mahasiswa yang ingin memperoleh nilai akademik yang lebih baik. “Optimis memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupannya,” ujar Hanna Amalia MPsi Psi, Konsultan Anak Berkebutuhan Khusus Pendidikan Anak Usia Dini (ABK PAUD) Kasya kepada Gema Baiturrahman.

Sementara itu, sifat pesimis seseorang sangat dipengaruhi pola asuh sejak masa anak-anak. Sebagai orang tua, seyogyanya mendidik anak-anaknya agar bisa hidup mandiri. Jangan sampai hal kecil sekalipun orang tua membantu seorang anak mengerjakannya. Namun, orang tua berperan penting mendukung segala kegiatan positif anaknya. Pesimis bisa juga muncul trauma akibat kehilangan orang terdekat.

Agar sifat pesimis hilang, Hanna menganjurkan supaya bergaul dengan orang-orang yang berpikir optimis. Bacaan motivasi turut berpengaruh menumbuhkan optimis. Orang pesimis hidupnya cenderung biasa saja.

Hal senada disampaikan oleh Winda Putri Diah Restya SPsi MA, Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadyah Aceh (Unmuha). Optimisme seseorang sangat bergantung kepada seseorang. Dalam konteks keacehan, menurut Winda, masyarakat Aceh memiliki sifat optimis dan berpikir positif. Buktinya, masyarakat Aceh mampu bangkit dengan cepat akibat konflik dan tsunami.

Orang optimis memiliki ciri-ciri, sudut pandangnya baik, mampu mengubah pikiran negatif ke positif. Biasanya, orang optimis tidak mudah panik menghadapi kesulitan. “Orang optimis mudah move on dari kesulitannya,” terangnya.

Dua hal mengapa seseorang berpandangan negatif. Pertama, asa lalu yang kurang baik. Misalnya, seorang mahasiswa mendapat nilai C dari dosen tertentu, sehingga ia mengulang kembali mata kuliah itu. Apabila ke depan pada mata kuliah yang sama, ia memperoleh dosen yang sama pula, maka ia tidak berharap memperoleh nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Kedua, kecenderungan berpikir negatif bawaan kepribadian.

Ia menyebutkan, ada sebuah penelitian menunjukkan latihan berpikir positif mempengaruhi cara berpikir seseorang. Ketika dihadapkan pada posisi sulit, ia harus mencari sesuatu yang positif daripadanya. “Pelatihan berpikir positif, memang tidak otomatis menghilangkan (pesimis), tetapi mengurangi stres atau depresi,” terangnya.

Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis data yang menyebutkan Aceh provinsi termiskin keenam se-Indonesia. Sementara itu masyarakat mengharapkan kondisi kesejahteraan masyarakat membaik. Kata Winda, harapan yang tidak terpenuhi itu memungkinkan seseorang bersikap pesimis terhadap pemerintah. “Pesimis itu mungkin ada, wajar. Tapi yang tidak boleh adalah apatis,” terangnya.

Apabila seorang warga bersikap apatis, artinya ia tidak lagi mempedulikan kondisi Aceh. “Apabila masyarakat bersikap apatis, siapa lagi akan membangun Aceh,” imbuhnya lagi.

Ia mengakui sebagian pihak sudah bersikap pesimis terhadap pemerintah. Tapi, di sisi lain masih ada yang optimis.

Kepala Unit Psikologi Rumah Sakit Jiwa Aceh, Yulia Direzkia SPsi MSi, menyebutkan, orang pesimis tidak berani membayangkan tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Pesimisnya seseorang sangat dipengaruhi oleh pola asuh anak sejak kecil hingga usia 18 tahun. “Sulit untuk membentuk karakter seseorang yang optimis di atas umur 18 tahun,” ujarnya.

Untuk menumbuhkan optimisme pada anak, seyogyanya orang tua memberikan penghargaan kepada anaknya yang berprestasi. Penghargaan tersebut tidak mesti dalam bentuk benda, melainkan pujian. Orang tua jangan membanding-bandingkan anaknya dengan anak yang lain, meskipun tujuannya agar si anak berubah lebih baik. “Setiap anak berbeda-beda, mereka memiliki keunikan masing-masing,” ujarnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.