Perencanaan Hidup Seorang Muslim

Perencanaan Hidup Seorang Muslim

GEMA JUMAT, 05 JANUARI 2018

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

# … Inna Allāha lā yughayyiru mā biqawmin ḥattā yughayyirū mā bi’anfusihim… (Q13:11)

# …Walyakhsyā al-ladhīna law tarakū min khalfihim dhurriyyatan ḍi‘āfan khāfu ‘alayhim falyattaqū Allāha walyaqūlū qawlan sadīdā (Q4:9)

# … Ightanim kamsan qabla khamsin, farāghaka qabla syughlik, ḥayātaka qabla mawtik, ṣiḥḥataka qabla maraḍik, ghināka qabla faqrik, syabābaka qabla saqamik  (Hadis)

# … Man kāna yawmuhu khayra min amsihi fahuwa marbūhūn … (Hadis)

Allah maha pengasih penyayang, memberi kehidupan, memberi pendukung kehidupan, berupa akal, hati nurani, emosi, alam semesta yang kaya raya, dan pedoman yang sempurna Alquran. Kalau mau “bernasib baik” berbuatlah segala sesuatu yang menuju kepada kebaikan. Sebagai manusia yang waras tentu kebaikan itu tidak akan dapat diraih serta merta, tapi harus disesuaikan dengan lingkungan dan masa. Konon pula ketika kita berada pada abad ke 15 sesudah kehidupan Nabi Muhammad saw. Di mana manusia sudah berada dalam kehidupan yang saling terkait. Tidak ada yang akan mampu hidup sendiri, atau satu keluarga, satu gampong, bahkan satu negara sekalipun. Hidup saling mendukung adalah satu keniscayaan, demi merawat kehidupan kita. Untuk itu perlu rencana yang baik, yang matang, yang disepakati bersama. Rencana yang baik adalah yang mungkin dilaksanakan, dan sudah diperkirakan akan membawa manfaat, bukan kemelaratan dan kerugian, baik kepada pribadi apalagi masyarakat luas. Contoh sederhana adalah pertanian dan atau peternakan. Kalau mau panen 2 atau 3 kali setahun maka sejak awal-awal sudah disiapkan alat bajak yang cukup, pupuk yang memadai, anti hama, pengairan yang baik. Demikian juga berkaitan dengan binatang ternak, kalau mau sapi dan sejenisnya gemuk-gemuk, sehat dan bernilai tinggi harus cukup pakan, obat-obatan dan rawatan yang prima. Baiknya hasil panen, atau hasil peternakan ditentukan oleh usaha yang benar sesuai rencana semula yang ingin dicapai.

Bahwa keterlibatan pemerintah, baik aktif sebagai penggerak, pemodal, atau pengawas sangatlah diperlukan. Ekonomi masyarakat masa kini sangat tergantung kepada perencanaan negara, dan sebagian lagi permodalan dari negara, seperti Indonesia ini. Irigasi tidak sanggup diselesaikan oleh masyarakat. Penggundulan hutan tidak sanggup dihambat oleh anggota rakyat, pelanggaran hukum tidak sanggup ditangani oleh hanya Majelis Adat, dan seterusnya. Negara, pemerintah harus hadir pada tempat dan saatnya.

Negara dan pemerintah harus kuat, berwibawa, efektif, baik ke dalam maupun keluar. Yang melanggar aturan dan, apalagi merugikan, harus diberi hukuman, sebaliknya yang berprestasi, dan menghasilkan kebaikan patut diberi penghargaan.

Pemetaan masalah dan perencanaan

Masyarakat, baik sebagai individu, keluarga, kelompok, harus proaktif merencanakan apa yang akan dicapai, apa yang akan diraih, apa yang diinginkan dalam kehidupan ke depan ini. Masyarakat kita yang beraneka ragam ini ada yang suka petani, peternak, nelayan, pekerja birokrasi, pekerja pabrik, dan selanjutnya. Negara akan dapat memainkan perannya setelah jelas apa masalah yang dihadapi masyarakat, dan bagaimana mengatasinya. Untuk itu setiap unit kehidupan haruslah ada kesadaran kepada perencanaan yang matang dan jujur. Bahwa, misalnya,  masalah petani di Kabupaten A adalah pupuk, di Kabupaten B pengairan, di Kabupaten C hama, dan sebagainya. Demikian pula untuk bidang-bidang yang lain. Masyarakat yang sadar akan apa masalah yang dihadapinya, dan merencanakan untuk mengatasinya akan mudah dikomunikasikan kepada pihak lain, yang setara atau hierarki atas bawah. Mereka membuat rencana bersama untuk meraih kehidupan yang lebih baik, kemudian mereka perjuangkan ke manapun yang memungkinkan. Sedangkan yang tidak sadar akan masalahnya, tentu tidak ada rencana perbaikannya. Kalaupun satu saat nanti mungkin akan datang bantuan dan dukungan, boleh jadi akan salah sasarannya.

Makanya, kalau keadaan kita pada satu saat tidak baik, kacau balau, kocar-kacir, banyak pengangguran, konflik di sana sini, di antara kita, – jangan salahkan Tuhan. Salahkan diri sendiri, keluarga sendiri, partai sendiri, bahkan pemimpin sendiri. Bagaimana program untuk usaha perbaikan sudah dibuat selama ini, dan sejauh mana program itu sudah dilaksanakan. Atau memang tidak pernah terpikirkan masalahnya sama sekali.

Hidup hanya sekali. Makanya kalau mau hidup nyaman, aman, adil, makmur, damai. Rencanakan untuk meraihnya, dan perjuangkanlah dengan gigih, sesuai kesepakatan kita bersama. Kalau kualitas pendidikan kita masih di bawah rata-rata nasional, maka masalahnya apa? Guru? Anggaran? Fasilitas? Pengawasan? Atau apa? Bagaimana rencana perbaikan mutu pendidikan ke depan? Kalau angka kemiskinan masih tinggi, di atas rata-rata nasional. Padahal, anggaran sudah lumayan, apa masalahnya? Adakah kebocoran karena korupsi, atau ketidakmampuan Pemerintah melaksanakannya. Atau, jangan-jangan memang perencanaan yang salah, tidak disertai dengan tekad tulus ikhlas sejak awalnya. Kalau narkoba kian merajalela di masyarakat, dan menyasar anak-anak remaja kita, dimana salahnya? Apakah aparat hukum yang belum cukup banyak, atau, yang sudah adapun belum  melaksanakan tugasnya? Atau, jangan-jangan bahagian masyarakatnya yang sudah menjadi, secara tidak langsung, pendukung agen narkoba, dengan hanya berdiam saja ketika transaksi terjadi di sekitarnya. Makanya program penanggulangan wabah narkoba wajib diluncurkan dengan dukungan segala elemen masyarakat dimanapun berada. Kalau tidak, maka kita sedang menghadapi kehancuran generasi yang tidak akan mudah mengobatinya.

Kalau pengemis (dalam berbagai bentuknya) begitu banyak berkeliaran di masjid, warung-warung dan simpang jalan, termasuk anak yang masih usia sekolah, tidakkah itu pembiaran, dan ketidakpedulian? Sayangnya, di balik itu semua, para petinggi berteriak lantang, “Kita sedang tekun bersyariat dalam suasana gemilang?” Kalau keadaan itu berlangsung terus, di mana tanggung jawab pemimpin dalam menjaga martabat bangsa dan agama? Di mana harga diri bangsa, yang katanya berpancasila? Makanya, bagaimana program penertiban mereka?

Kalau penebangan liar di hutan masih terus berlangsung, di depan mata kita, tidakkah itu belum ada perencanaan untuk menghambatnya. Padahal itu sudah berlangsung begitu lama? Salahkah kalau rakyat menduga, bahwa “perampokan hutan” itu dilakukan atas kesepakatan bersama? Termasuk penguasa? Kalau tidak tentu sudah ada rencana dan usaha mencegahnya. Kalau ada aparatur pemerintahan/pegawai negeri/pegawai kontrak, atau siapa saja yang mendapat penghasilan dari negara, dalam semua tingkatan, masih ada yang tidak disiplin bekerja, atau bekerja serampangan dan tidak bertanggung jawab, dan itu juga sudah berlangsung bertahun-tahun, maka apa langkah ke depan agar mereka lebih disiplin? Lebih kompeten? Membiarkan mereka dalam keadaan seperti itu adalah satu kesalahan dan bahkan “pengkhianatan” kepada amanah yang diembankan kepada pemimpin yang seharusnya bertanggung jawab dalam mengelola negara.

Masih banyak orang-orang yang jujur dan rajin di sana (yang belum dapat kerja), tapi mengapa yang malas dan tidak becus yang dipekerjakan oleh Penguasa? Alasan apapun tidak dapat diterima. Pegawai malas, dan tidak kompeten adalah benalu Negara. Selanjutnya haruslah penerimaan pegawai dan karyawan di instansi manapun (di echelon, dan semua tingkatan) melalui penyaringan yang ketat dengan perencanaan yang matang. Merencanakan system penerimaan pegawai yang professional adalah kewajiban agama, nurani kemanusiaan dan tuntunan undang-undang Negara. (Idhā wusida al-amru ilā ghayri ahlihī fa’ntaẓirī al-sā‘ah = kalau ada tugas (apapun) yang diembankan kepada orang yang tidak mampu, tidak becus, tunggulah datangnya malapetaka.)

Kalau prilaku korupsi masih dilakukan oleh pejabat dan aparat kita, dan terasa, seolah terus saja merajalela, bahkan sejak dari perencanaan, tidakkah itu kita telah salah angkat aparatnya, atau telah salah pilih pemimpinnya, dari tingkat atas sampai bawah. Pejabat dan aparat yang melakukan korupsi adalah pengkhianat bangsa dan penjahat manusia. Berantas tuntas wajib hukumnya. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme wajib diberantas sampai ke akar-akarnya.

Kalau sebagian dari ceramah-ceramah, atau apapun namanya, masih menebarkan ungkapan kebencian dan angkara murka, tidak itu, kalau dibiarkan terus, sama dengan menyemai benih-benih penyakit permusuhan di antara sesama kita, yang ujung-ujungnya merongrong kedaulatan negara. Padahal, menjaga supaya kuatnya negara dan wibawa pemimpinnya adalah kewajiban agama. Negara yang kuat dengan pemimpin yang berwibawa akan mampu menangkal berbagai kejahatan yang menyengsarakan rakyat. Negara yang lemah dengan pemimpin yang (selalu) dihujat akan mudah dikuasai oleh konspirasi para penjahat. Kesengsaraan dan kekacauan akan mudah mendarat.

Peran pemerintah

Makanya, kalau sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara mau hidup lebih baik lagi ke depan, maka peran pemerintah akan sangat menentukan. Tugas utama adalah mengkaji kelemahan masa lalu dan memperbaiki untuk perencanaan lebih baik ke depan. Rencana yang dibuat dengan tulus ikhlas untuk kemaslahatan bersama (bukan hasil titipan kepentingan, apalagi konspirasi antar mereka), kemudian dilaksanakan sesuai aturan, akan sangat bermanfaat dalam menaikkan kualitas hidup masyarakat.

Pada tataran republik maka APBN adalah bentuk perencanaan yang telah disepakati dan diluncurkan ke daerah-daerah pada waktunya, sebelum tahun anggaran baru dimulai. Bagi daerah-daerah yang ingin segera perbaikan ke depan, maka pengesahan rencana bersama itu baik pada tingkat provinsi, ataupun kabupaten/kota disegerakan. Namun bagi daerah yang belum sadar pada tuntasnya perbaikan kualitas hidup masyarakat ke depan, tentu belum bersegera menyelesaikannya, apapun alasannya. Tentu ini akan berdampak pada terhambatnya perbaikan di masyarakat, akan lambat makmurnya. Kalau ini terjadi (lagi) apa bedanya dengan masa yang lalu yang juga lambat. Mungkinkah kita lebih baik? Kita sendiri menjawabnya. Kalau hanya sama saja dengan tahun yang lalu makanya nilainya “tertipu,” apalagi kalau lebih buruk, jadilah masyarakat/ pemerintah tersebut “mal‘ūnun” sebagai kita pahami dari hadis nabi di atas.

Bahwa segala perencanaan dan usaha harus diarahkan kepada kebaikan bersama. Bukan untuk sekelompok yang berkuasa dan kroni-kroninya. Sama halnya dengan sumber alam kita di atas bumi dan di dalamnya adalah untuk kemaslahatan bersama. Tugas rakyat dan masyarakat dimana? Tugas mereka adalah berjihad. Apa makna berjihad, yaitu dengan mengatakan (memberitahukan yang benar, bagaimana baiknya) kepada pemimpin (eksekutif, legislative, yudikatif) yang terlupa, yang lalai, yang terlambat. Afḍalu al-jihādi man qāla kalimata ḥaqqin ‘inda sulṭānin jā’irin. Ingatkan dengan santun. Bukan membuat huru hara yang menghabiskan tenaga dan dana. Yang begitu dilarang agama.

Bahwa dalam sistem kita, semua pemimpin itu dipilih oleh rakyat, langsung atau tidak langsung. Maka untuk selanjutnya rakyat pun tidak boleh melepas tangan kalau terjadi ketidak beresan. Rakyat juga harus bertanggung jawab. Tanggung jawab yang utama adalah mengawasi, dan memberitahukan kalau ada yang tidak benar dalam realisasi, kemudian di mana perlu merawatnya.

Sebagai kesimpulan maka, merencanakan masa depan yang lebih baik, agar tugas dan kewajiban yang akan dihadapi menjadi berhasil adalah sunah Nabi, yang wajib diikuti oleh muslimin dan muslimat di mana pun berada. Keberhasilan ghazwah Badar, ghazwah Khandaq, (yang sangat menentukan kehidupan beragama ke depan) adalah buah dari hasil perencanaan yang sangat matang dan mengakomodir pemikiran yang baik, dan disepakati bersama. Kemudian rencana tsb dilaksanakan dengan tulus, konsisten dan penuh tanggung jawab.

Pemimpin harus siap

Ketika Nabi sudah tiada maka para pemimpin, pakar/ulama/cendekiawan, dalam semua jajaran, di mana pun, harus pula mewarisi tradisi tersebut, kemudian melaksanakan dengan sepenuh hati. Rencana yang paling penting di sebuah Negara adalah RAPBN, RAPBD, RAPBK. Ia menyangkut kepentingan semua anak bangsa. Pengabaian, apalagi  ada kesalahan dalam proses perencanaan, adalah pengkhianatan kepada amanah umat dan Konstitusi bangsa. Ianya akan mempengaruhi kualitas kehidupan masyarakat, ke depan seharusnya lebih baik, atau sebaliknya.

Setiap unit kehidupan sampai pun pribadi harus menginginkan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian ia pun harus merencanakan akan berbuat apa ke depan, di mana, dengan siapa, bagaimana caranya, tentu dengan segala perhitungan dan akibatnya. Merencanakan adalah deskripsi dari “niat” dalam setiap ‘amalan, qaṣad ta‘raḍ, ta‘yīn). Rencana yang baik dan tulus akan mendapat fahala. (Innamā al-a‘mālu bi al-niyyah-Hadis)

Para pemimpin, mulai tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/kota, gampong, sampai kepada pemimpin keluarga, harus selalu waspada, hati-hati kalau generasi sesudahnya itu lemah (kurang gizi, buruk kesehatan, tidak cukup pendidikan, saling berseteru, tidak taat, suka maksiat, gemar narkoba, tidak mampu bekerja, dsb.). Oleh karena itu rencanakanlah agar masa depan mereka, kehidupan rakyat, dan anak-anak kita lebih baik dari sebelumnya. Kalau tidak demikian maka masyarakat dan bangsa kita akan dianggap bangsa yang “tertipu” ataupun, bahkan, na‘ūdhubillāh, “terkutuk” (sejalan dengan pesan hadis di atas), yang akan ditimpa derita atas derita.

Para pemuda, rencanakan masa mudamu mau jadi apa, akan ke mana, berbuat apa. Muda hanya satu kali, tidak akan pernah berulang. Tidak ada jaminan anda akan sempat tua. Jangan-jangan maut akan menjemput di separuh baya.

Orang yang sehat, atau yang merasa sehat, rencanakan masa sehatmu, manfaatkan kesehatanmu untuk yang berguna. Suatu saat anda akan sakit. Tidak ada jaminan sembuh, jangan-jangan itulah yang mengantarmu ke kematian. Boleh jadi “kuburan” pun tidak diketahui rimbanya.

Orang yang senggang, atau merasa senggang, rencanakan mau gunakan untuk apa hari-harimu. Satu masa engkau pasti akan “sibuk” apapun penyebabnya. Sibuk di rumah, sibuk di luar rumah, sibuk cari obat, dsb. Orang yang berkemudahan (kaya, setengah kaya, merasa kaya, berada) manfaatkan kekayaannya dengan baik. Tidak bisa yang mampu meramalkan ke depan. Bisa saja kebangkrutan dan kemiskinan akan menimpa, tidak diduga-duga, macam-macam saja penyebabnya.

Bagi siapa saja yang masih hidup, seperti kita ini, manfaatkan masa hidup ini dengan sebaik-baiknya. Kematian tidak selalu menyapa akan kedatangannya. Tiba-tiba saja ajal bisa datang menjemput, muda, tua, pejabat, wakil rakyat, orang melarat. Berkaitan dengan maut, porsi kita sama, tidak ada lebih kurangnya. Akhīrul kalām, membuat rencana yang baik adalah juga bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. Mensyukuri anugerah hidup di bumi Allah ini untuk “selama-lamanya” tanpa batas. Sesudah kita ini, akan ada lagi manusia yang meneruskan, sampai akhir. Kondisi hidup kita selama ini adalah hasil kreasi dari pendahulu kita, dengan segala program dan aktualisasinya. Inilah yang dimaksud dengan “hidup selama-lamanya,” bukan untuk kita saja, tapi rencana yang akan  memberi manfaat kepada anak-anak cucu kita, yang kita tidak tahu kapan batasnya. Wallāhu a‘lamu bil-ṣawāb.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.