Organisasi Islam Mampu Buka Perguruan Tinggi

Organisasi Islam Mampu Buka Perguruan Tinggi

GEMA JUMAT, 12 JANUARI 2018

Al-Jami’yatul Al-Washliyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, merupakan tiga organisasi besar Islam yang turut fokus terhadap dunia pendidikan. Organisasi-organisasi ini membuka perguruan tinggi swasta (PTS) di Aceh yang mampu berdiri sendiri.

Meskipun di bawah naungannya, mereka menyerahkan segala kebijakan pendidikan terhadap PTS bersangkutan. Sebut saja Sekolah Tinggi Perguruan Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al-Washliyah Banda Aceh, yang bernaung di bawah Al-Jami’yatul Wahsliyah atau lebih dikenal Al-Washliyah. Kemudian Universitas Muhammadiyah dalam bingkai Muhammadiyah. Ada juga Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STIS NU) Aceh berpayung kepada NU.

Dr A Mufakhir Muhammad, Ketua STKIP Al-Washliyah Banda Aceh, STKIP yang berdiri sejak 2002 adalah badan amal usaha Al-Washliyah. Secara organisasi tunduk kepada Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah Pusat di Jakarta. Ketua STKIP Al-Washliyah ditetapkan berdasarkan surat keputusan PB Al-Washliyah. Seluruh lembaga pendidikan Al-Washliyah diawasi dan terawasi oleh PB. Al-Washliyah sendiri memiliki misi mendirikan perguruan tinggi di kabupaten/kota, provinsi.

Di bidang pendidikan, STKIP Al-Washliyah Banda Aceh tunduk kepada Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristedikti).

Ia menyebutkan, sumber dana STKIP yang dipimpinnya ini berasal dari sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) mahasiswa. Di sisi lain, mahasiswa di PTS memperoleh beasiswa dari pemerintah karena prestasinya dan lemah ekonominya. Kepada STKIP, pemerintah tidak lagi memberikan bantuan operasional, melainkan dalam bentuk lain, seperti gedung.

“Sumber dana STKIP Al-Washliyah dari SPP mahasiswa, sekarang pemerintah kurang perhatian, PTS hidup sendiri,” paparnya.

Ia menjelaskan salah satu jurusan unggulan STKIP Al-Washliyah adalah Jurusan Geografi. Jurusan ini program yang pertama kali ada di Aceh serta memiliki lulusan terbanyak. Pada 2016, alumni jurusan tersebut dinobatkan sebagai alumni berprestasi. STKIP mengupayakan mahasiswanya berpandangan islami, jujur, berintegritas, dan teladan. Mahasiswa di STKIP terbilang mudah dikontrol karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak.

Ia menerangkan, awal mula berdirinya, peminat Al-Washliyah tergolong banyak. Kala itu Kemenristedikti masih membolehkan program seperti Kelas Jauh, diploma dua (D2) Pendidikan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) dan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak, dan kelas Sabtu-Minggu. Program-program itu merupakan program andalan PTS. Ketika program ini ditutup, PTS mengalami kekurangan mahasiswa.

“Orang-orang menyukai program ini karena masa studinya cepat, seperti PGMI dan PGTK, cuma dua tahun. Tapi kemudian (program itu) tidak diizinkan lagi,” ujarnya.

Di STKIP Al-Washliyah terdapat Himpunan Mahasiswa Al-Washliyah (HIMA). HIMA mengadakan pelatihan kepemimpinan yang diikuti mahasiswa STKIP Al-Washliyah maupun umum. Merekalah nantinya diharapkan menjadi kader Al-Washliyah. Pelatihan seperti ini juga merupakan salah satu cara menarik minat orang kuliah di STKIP Al-Washliyah. “Banyak sudah kader-kader Al-Washliyah menjadi orang berpengaruh di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Universitas Muhammadiyah

Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Ir M Zardan Araby MBA MT, menuturkan, Unmuha merupakan salah satu badan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Dana Organisasi Muhammadiyah berasal dari sejumlah AUM yang dimiliki. “Muhammadiyah ada dibantu pemerintah, tapi relatif. Tapi yang membantu pergerakan Muhammadiyah sehingga tetap independen karena dari AUM sendiri,” paparnya kepada Gema Baiturrahman.

Unmuha tidak didirikan untuk satu kelompok saja. Siapa pun berhak memperoleh pendidikan di sana. Ia mencontohkan Unmuha di Sorong, Papua Barat, 80-90 persen mahasiswanya nonmuslim. Sumber dana operasional Unmuha berasal dari SPP mahasiswa. Meskipun tidak banyak, ada beberapa gedung bantuan pemerintah.  Sementara itu, pemerintah banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.

Unmuha sudah melahirkan ribuan alumninya. Mereka sudah bekerja di berbagai tempat, seperti di pemerintahan. Ia mengharapkan, alumni Unmuha turut mendukung pergerakan-pergerakan dakwah Muhammadiyah, minimalnya tidak menghalangi. “Kita berupaya tidak ada alumni Unmuha menganggur,” terangnya.

Sementara itu, pencarian bibit kader Muhammadiyah melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Baik mahasiswa Unmuha atau bukan dipersilahkan mengikutinya, tidak ada pemaksaan. Kader-kader Muhammadiyah dapat muncul karena mengikuti orang tua, pengaruh lingkungan. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.