Sekolah Berkualitas untuk si Buah Hati

Sekolah Berkualitas untuk si Buah Hati

GEMA JUMAT, 12 JANUARI 2018

Tolok ukur dalam memilih lembaga pendidikan bagi anak sebaiknya memperhatikan, guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut, kualitas lulusan yang berhasil dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut.

Begitulah pendapat Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tgk Chik Pante Kulu, Dr Murni SPdI MPd, kepada Gema Baiturrahman. Menurut Murni, pendidikan yang berkualitas biasanya akan berbanding lurus dengan kemampuan seorang anak baik dari kemapuan intelektual, keterampilan dan kecakapan sosial.

Ia mengatakan, sekolah yang berkualitas punya visi dan misi yang jelas. Mayoritasnya,  sekolah belum mampu dan tidak diberdayakan untuk mengaktualisasikan visi dan misinya. Visi sebuah bsekolah adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit.

Selain itu, konsep iman dan taqwa (IMTAQ) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di sekolah selama ini kata Murni, sudah terlalu sering dipakai sehingga maknanya kian tidak jelas lagi, mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional. Misi adalah dua atau tiga pernyataan sebagai operasionalisasi visi, misalnya, membangun siswa yang kreatif dan disiplin.

Sekolah, menurutnya memiliki komitmen tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang mendidik untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum.

Lebih lanjut, kepemimpinan yang mumpuni dibutukan oleh sekolah. Kepala sekolah adalah pemimpin dari pemimpin, bukan pemimpin dari pengikut.”Artinya selain kepala sekolah ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan keputusan bersama. “Apabila tidak dikomunikasikan terus-menerus antara kepala sekolah dan guru, visi itu akan mati sendiri,” papar Dosen Program Studi Manajemen MPI FTK UIN Ar-Raniry.

Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas, seperti terampil menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian, bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, memecahkan masalah, sebagai mentor bagi koleganya, mengupayakan pembelajaran yang efisien, dan berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa.

Dijelaskan, kemajuan siswa dimonitor terus- menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performan siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus- menerus.

Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan siswa, tetapi juga siap mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi pihak lain untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu. Inilah makna akuntabilitas publik. Sekolah harus mengagendakan program rujukan mutu kepada sekolah lain, sehingga sadar akan kelebihan dan kekurangan sendiri.

Semenetara itu, Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Drs Abu Bakar MSi, menjelaskan, sekolah yang bermutu mampu membentuk karakter yang baik. Karakter tersebut tidak hanya dibentuk dengan pendidikan akademik, melainkan kegiatan kestrakurikuler. Setengah hari siswanya belajar akademik, setengah harinya lagi belajar keterampilan.

Sebelumnya, pada 2003 Menteri Pendidikan Nasional meluncurkan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Tujuannya meningkatkan kualitas pendidikan. Proses pembelajarannya berbahasa Inggris. Namun program tersebut telah ditiadakan. Sementara itu, Abu Bakar mendukung adanya RSBI karena sangat bermafaat meningkatkan daya saing siangnya.

Ia sangat mengapresiasi program diniyah di sekolah-sekolah Banda Aceh. siswa tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga penguatan keagamaan. “Orang tua sebaiknya memilih sekolah yang mambu mengembangkan karakter dan kepribadian anak,” lanjutnya.

Kesadaran yang paling ditumbuhkan kepada si anak, seperti kejujuran, kedisipilinan, saling menghargai. Sayangnya, begitu banyak orang tua hanya menilai kemampuan anak pada tingkat akademiknya. Padahal aspek kepribadian memegang peran penting 70 persen kesuksesan seseorang di masa depan. Zulfurqan

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.