CIRI MASYARAKAT YANG BERTAQWA

CIRI MASYARAKAT YANG BERTAQWA

GEMA JUMAT, 19 JANUARI 2018

Para ulama membagi perjuangan da’wah Nabi Muhammad saw kepada dua fase. Pertama dinamakan fase Makkah, dimana titik koordinat dakwah berada dalam pusaran pengukuhan akidah dan ketauhidan. Garis-garis pengajaran dasarnya berorientasi kepada ketuhanan, risalah, dan hari kebangkitan. Adapun fase kedua dinamakan fase Madinah, dengan konsep aplikatif terhadap amalan-amalan ibadah, hukum-hukum syari’at, dan dimensi akhlak secara luas dan menyeluruh, disamping pengayaan dan peyempurnaan terhadap dakwah pada fase Makkah. Dalam pengajaran dakwah pada fase akhir ini; terhimpun amaliah, hukum, dan akhlak yang tegak vertikal (hubungan dengan Allah swt) maupun amal, hukum, dan akhlak lurus sejajar bersifat horizontal  (internal antar masyarakat muslim yang beriman, serta hubungan eksternal masyarakat muslim dengan selain muslim, berikut tatanan  berinteraksi dengan alam dan sikap terhadap lingkungan). Kedua fase bertujuan untuk membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah swt.

Sebagaimana dimaklumi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling terkait dan membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Disadari atau tidak, setiap manusia  memiliki keinginan dalam hidupnya. Keinginan-keinginan ini dapat menguat dan melemah bahkan hilang sama sekali tergantung kepada faktor-faktor  yang beragam, baik faktor yang sama atau berbeda antar individu. Misalnya faktor kebodohan yang menutup imajinasi seseorang untuk kreatif menemukan konsep sederhana meraih keinginannya. Atau faktor kemiskinan yang membatasinya melahirkan ide-ide dan proyek pemikiran secara faktual. Bahkan dalam situasi tertentu, kebodohan dan kemiskinan dapat memicu seseorang melakukan hal-hal negatif diluar nalar akal sehat; mencuri, merampok, membunuh,dan lain sebagainya. Pada tatanan masyarakat yang lebih luas, keinginan-keinginan ini disebut dengan istilah; kepentingan, tujuan, target, cita-cita, atau dengan kosa kata “visi dan misi”. Dengan demikian, setiap masyarakat yang terintegrasi dalam padanan makna “tatanan” memiliki visi dan misi untuk diperjuangkan.

Dalam perspektif dakwah Islam, visi dan misi terbesar adalah membentuk masyarakat (umat) yang bertakwa. Masyarakat yang memiliki akidah untuk merealisir kesempurnaan ubudiyah kepada Allah swt. Masyarakat yang eksis, tertata dalam sistem yang baik (daulah; bernegara), mewujudkan kehidupan sosial, politik, hukum, keadilan, dan kemasyarakatan yang dinamis, menjadi panutan bagi semua lapisan komunitas dan bangsa-bangsa, sehingga dengan pertolongan Allah swt mereka berbondong-bondong ikut serta kedalam tatanan masyarakat yang bertakwa itu sebagaimana dijanjikan oleh Allah swt dalam firman-Nya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”(An-Nashr: 1-3).

Masyarakat yang bertakwa memiliki ciri-ciri yang sangat spesifik. Dan tanpa ciri khas ini, ketakwaan tidak akan terefleksi dalam komunitas mereka. Ciri-ciri mereka  praktis dapat digali dari Al- Qur’an maupun Sunnah Nabi saw serta terekam jejak dalam biografi sosok dan pribadi tercerahkan dari para pewaris Anbiya’. Ciri dimaksud dapat terangkum sebagai berikut:

Iman kepada yang Ghaib.

Iman kepada yang ghaib adalah pondasi yang merumuskan secara umum dasar dan tujuan kehidupan. Masyarakat yang memiliki iman, memiliki keyakinan yang dengannya tercipta kemuliaan yang diidam-idamkan disisi Allah swt.  Al-Hujurat ayat 13 menyebutkan: “Inna akramakum ‘indaLLahi atqaakum”.

Dengan keimanan ini pula hadirnya pondasi ubudiyah yang terbebas dari syirik dan terpimpin dengan keikhlasan. Az-Zumar ayat 2-3  menyebutkan: “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”. Iman kepada yang ghaib melahirkan sifat muraaqabah atau pengawasan dari Allah swt. “WakaanaLLahu ‘ala kulli syai-in Raqiiba”(Al-Ahzab:52). Pengawasan ini adalah kongklusi dari penjelasan Nabi saw saat ditanya tentang ihsan: “Bahwasanya engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila melihat-Nya tak memungkinkan, maka (yakinlah) Allah yang melihatmu” (Hadits Muttafaq ‘alaih). Sehingga sifat merasa diawasi ini menjauhkan masyarakat yang bertakwa dari prilaku tercela dan merugikan, baik kecil atau besar, serta mengisi waktu-waktu mereka dengan hal-hal yang konstruktif. Surat Qaaf ayat 17-18 tertera:”(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. Dari sini pula pilihan mereka mengikuti pilihan Allah swt dan Rasul-Nya, serta pandangan mereka berorientasi akhirat. Firman Allah swt pada ayat 203 surat Al-Baqarah: “…Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tiada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan pada-Nya”. Senada dengan makna diatas, orientasi akhirat dapat disimpulkan dalam ayat 32 surat Al-An’am: ”Waladdaarul akhiratu khairun lillazhiina yattaquun, afala ta’qiluun”.

Menegakkan Shalat

Bagi masyarakat yang bertakwa, shalat adalah karakter aplikatif yang menjadi pemisah antara keimanan dengan kekafiran. Shalat adalah tiang agama dan hubungan vertikal (mi’raj mukmin) dengan Pencipta-nya. Karenanya mesjid dan tempat ibadah sesak penuh berduyun-duyun menghidupkan jamaah. Seakan hidup tak bergulir bersama mereka bila tanpa shalat berjamaah. Lima waktu sehari semalam dilengkapi kewajiban jum’at,  shalat menjadi pemandangan sejuk dari travelling kesegaran masyarakat bertakwa. Dari Abu Hurairah ra, beliau mendengar Rasulullah saw bersabda: “bagaimana menurut pandangan kalian, sekiranya di depan pintu salah seorang dari kalian terdapat sungai dimana ia mandi sebanyak lima kali setiap hari. Apakah mungkin tersisa noda pada dirinya?”. Para sahabat menjawab: tentu sama sekali tidak tersisa padanya suatu nodapun. Rasulullah saw melanjutkan: “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghilangkan dengannya akan kesalahan dan dosa”(Hadits Muttafaq ‘alaih).

Terkait hubungan dengan Pencipta,  firman Allah swt pada surat Ali Imran ayat 102: “ IttaquLLaha haqqa tuqaatihi”, maknanya menurut penuturan Abu Ali Ad-daqqaq adalah mentaati Allah dengan tanpa lakukan maksiat, berzikir tanpa melupaiNya, dan bersyukur kepadaNya tanpa ada sedikitpun pengingkaran atas nikmatNya.

Masyarakat yang beriman memahami dengan keyakinan penuh akan kebersamaan mereka dengan Allah swt. Sehingga hakikat perwalian bagi mereka adalah Allah swt walaupun seluruh alam semesta memusuhi mereka. Firman Allah: “Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (Al-anfal: 40).

Keadaan yang sama terdapat pada ayat 62-64 surat Yunus: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (di dalam) kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemanangan yang besar”.

Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw seraya berkata: wahai nabi Allah, berikan aku akan wasiat. Maka Rasul saw bersabda: “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, karena takwa menghimpun setiap kebaikan (dunia-akherat), dan hendaklah engkau bersungguh-sungguh karena kesungguhan adalah rahbaniyyah (syiar ibadah), dan hendaklah engkau berzikir kepada Allah karena zikir adalah cahaya bagimu”(HR. Abu Ya’la dengan sanad yang lemah).

Mengharap Ampunan dan Amal Sosial.

Sifat takwa yang melekat pada masyarakat membimbing mereka melakukan amal sosial berupa infaq atau shadaqah dalam cakupan yang luas. Infaq ini dilakukan baik di waktu lapang hingga di waktu sempit. Harta materil bagi mereka berupa anugerah yang wajib disyukuri dengan berbagi. Bahkan lebih dari itu, mereka berbagi perbendaharaan immaterial berupa dukungan dan saling memaafkan serta tidak membenci antar sesama. Kesalahan yang terjadi menyadarkan mereka untuk mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas perbuatan keji dan bertekad tidak mengulanginya di hari mendatang (intisari pengajaran Ali Imran: 134-135). Mereka terbimbing di ranah domestik untuk memproteksi diri dan keluarga, sebagai komponen terkecil yang akan bermetamorfosis menjadi bangsa besar.

Masyarakat yang bertakwa bukanlah masyarakat yang was-was menghadapi kehidupan. Selaku manusia, rasa was-was yang dihembuskan oleh syetan membuat mereka jeli melihat kesalahan-kesalahan pada diri. Allah berfirman: ”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”(Al-A’raf: 201).

Masyarakat  Pelajar dan Memiliki Harapan

Banyak  perumpamaan yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an dan beragam variatif. Perumpamaan-perumpamaan ini dilatar-belakangi alam semesta dengan segala ornamen dari benda mati atau makhluk hidup. Dan tak sedikit pula perumpamaan dibentuk atas kaleideskop kehidupan masyarakat dari umat-umat terdahulu. Nah, disini masyarakat yang bertakwa akan dengan mudah menjadikan semua perumpamaan ini sebagai pelajaran. Mereka bersabar atas ujian-ujian hidup hingga batas perolehan kesuksesan dan kejayaan. Firman Allah swt: “Fashbir, innal ‘aqibata lil muttaqin” (Hud: 49). Masyarakat ini memiliki harapan yang bersifat pasti bahwa hanya amal dan karya orang bertakwa yang diterima disisi Allah swt; “Innama yataqabbalullahu minal muttaqiin”.

Dari Athiyah As-Sa’dy, Nabi saw bersabda: “Tidaklah seseorang termasuk dalam golongan orang–orang bertakwa, sehingga ia meninggalkan hal-hal sederhana (mubah) demi menghindari hal-hal yang akan menyulitkan (haram)” (HR. Turmuzi, Ibnu Majah, Al-Hakim).

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.