Jadilah Caleg

Jadilah Caleg

GEMA JUMAT, 19 JANUARI 2018

Oleh Murizal Hamzah

Tahun 2019, Indonesia akan gelar pemilihan presiden dan anggota dewan. Tahun ini, 2018, Indonesia menyelenggarakan pemilihan kepala daerah serentak di 171 daerah. Di Aceh, pilkada serentak yang dihelat pada 27 Juni atau setelah Idul Fitri diadakan di tiga wilayah yakni Pidie Jaya, Aceh Selatan, dan Kota Subulusalam. Satu kata yang mesti diingat oleh pemilih atau warga, pilkada itu pesta musiman lima tahun sekali. Jangan jadikan piasan donya ini untuk memutuskan silaturrahim atau bermusuhan sepanjang masa. Sementara calon bupati/wakil bupati atau wali kota/wakil wali kota yang berkompetisi itu sudah saling berjabat tangan sambil minum kopi. Untuk itu jadilah warga yang cerdas. Tidak fanatik pada kandidat yang kita jagokan.

Tahun 2018 ini sebagai babak awal pemanasan kepada calon-calong legislatif tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Kita saksikan bertebaran foto-foto kandidat peserta calon legislatif di media sosial atau spanduk di persimpangan jalan sebagai tahap awal sosialisasi.  Memilih pemimpin melalui suara terbanyak atau demokrasi bukanlah jalan menurut syariat.  Ukuran menjadi pemimpin karena semata-mata banyak mendapat dukungan yang sejalan dengan yang dipilih itu sangat berbahaya. Jika di suatu tempat banyak preman, maka kemungkinan besar yang jadi keuchik atau lurah adalah preman juga. Preman akan memilih preman sebagai pemimpinnya

Bagaimana Islam menempatkan pemimpin dalam umat? Kita mendengar kisah tentang pemimpin atau ulil amri yang bijak, melaksanakan amar makruf nahi mungkar akan duluan masuk surga daripada ulama. Pemimpin itu punya mandat atau kekuasaan untuk mencegah kemungkaran serta mengajak ke jalan surga. Sebut saja, keuchik, camat, bupati, gubernur, anggota dewan hingga presiden dengan wewenangnya  bisa meluncurkan peraturan yang menguntungkan umat atau warga. Mereka bisa melarang hal-hal yang berpotensi menjalar ke jurang neraka. Cegahlah kebatilan sebelum terjadi.

Kita sering mendengar bahwa politik itu kotor. Padahal politik  adalah bagian dari siyasah dalam Islam. Bila dewan masih kurang berpihak kepada umat, untuk masa selanjutnya, kita mesti memilih wakil rakyat dengan kriteria seperti rajin berderma, carong, atau rajin beribadah. Dengan kata lain, sejak awal kita sudah mengetahui karakter bahwa wakil rakyat itu adalah tipe dewan yang peduli kepada umat. Jika pun dia mendapat fasilitas sebagai anggota dewan, itu tidak lain atas usaha ribuan warga yang memberi kepercayaan kepadanya. Hal ini  mesti disadari oleh anggota dewan. Di atas tumpukan kertas coblosan itulah anggota dewan itu bisa duduk di gedung dewan.

Mengapa umat Islam mesti aktif menjadi caleg atau memilih orang bertaqwa ke gedung rakyat tersebut? kita mengutip pernyataan Ali bin Abi Thalib ra yakni Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.  tepat sekali pernyataan tersebut yaitu kita memilih tutup mulut karena yang dizalimi bukan kita. Padahal kita punya kekuasaan atau kebersamaan untuk melawan kezaliman. Kata Ali lagi, tunduk kepada pelaku kezaliman, maka kita adalah bagian dari pelaku tersebut.

Ada pendapat menarik dari intelektual Syaikh Yusuf Qardhawi yakni  paling kurang

tiga cara dalam mempertimbangkan sebelum menusuk foto caleg di lembara kertas yakni  jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya.  Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik dan  jika semua buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Jadi tidak ada alasan lagi boikot pemilu atau tidak memilih pada pilkada. Satu suara Anda ikut menentukan menang atau kalah kandidat yang baik. jika Anda boikot pemilu atau pilkada dengan alasan politik itu, maka seperti yang dikatakan oleh Ali yakni orang-orang fasik, sekuler, liberal, anti Islam dan lain-lain yang bersemangat ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai parlemen. Karena itu jika Anda punya kapasitas, integritas, dan lain-lain ikutlah jadi caleg. Siapa tahu garis tangannya ada di gedung rakyat.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.