Tradisi Wakaf Masa Lalu dan Zaman Now

Tradisi Wakaf Masa Lalu dan Zaman Now

GEMA JUMAT, 19 JANUARI 2018

Ust. Masrul Aidi, Lc

Ust. Masrul Aidi (41 tahun) ikut memberi komentar terhadap fenomena wakaf saat ini atau istilah kerennya Zaman Now. “Masa lalu, tradisi mewakafkan harta sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh, namun nilai mulia ini mulai bergeser seiring melemahnya spiritualitas dan semakin tingginya harga property,” sebut pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Cot Keueung Aceh Besar ini kepada Gema, Selasa lalu.

Da’i kondang kelahiran Labuhan Haji, Aceh Selatan, 5 Maret1977 ini menambahkan, generasi terdahulu mewakafkan tanah dan hartanya yang paling terbaik, sedangkan prilaku generasi sekarang sangat memprihatinkan, ada indikasi justru ingin menguasai tanah wakaf orangtuanya.  Ke depannya Masrul berharap kepada pemerintah, khususnya Badan Baitul Mal agar lebih proaktif untuk mendata kembali dan memberdayakan harta wakaf yang ada saat ini. “Sebab harta wakaf sangat potensial untuk pemberdayaan ekonomi umat dan pengentasan kemiskinan,” ujarnya. Oleh karena itu kepada warga masyarakat diimbau agar meningkatkan semangat wakaf seperti generasi terdahulu atau minimal tidak menggugat  aset wakaf yang ada.

Sehari-hari selain mengelola dayah, ayah tiga putra putri ini  juga rutin mengisi halaqah Maghrib/ pengajian di beberapa masjid dalam kota Banda Aceh dan Aceh Besar, bahkan sering menjadi khatib Jumat. Setiap tahun dalam bulan maulid, putra sulung ulama Aceh Drs Tgk. H Muhammad Ismy, Lc kerap mendapat undangan sebagai penceramah sampai ke luar daerah.

Pengalaman pendidikan agama Masrul Aidi tidak diragukan lagi. Pernah menjadi santri Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan setamat MAN 1 Banda Aceh, kemudian melanjutkan ke Pesantren Nurul Kasysyaf, Tambun Bekasi – Jawa Barat. Rasa haus terhadap ilmu agama membuat Masrul nyantri lagi di beberapa tempat seperti Dayah Budi Lamno (1998) dan Dayah Riyadhus Shalihin Lam Ateuk (2001). Gelar Lc diperoleh dari Universitas al Azhar Kairo,  Mesir (2005). Sepulang dari Timur Tengah, anggota MPD Aceh Besar ini mendirikan Dayah Babul Maghfirah yang saat ini memiliki sekitar 250 santri.

Di bidang organisasi, Masrul memulai sebagai Ketua OSIS SMP (1992), Ketua Majlis Syura Kekeluargaan Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir (2004), Wakil Ketua DPW NU Aceh,  Wakil Ketua Dewan Pengawas Baitul Mal Kota dan sejumlah organisasi lainnya. (baskar)

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.