Mewujudkan Masyarakat Islami

Mewujudkan Masyarakat Islami

GEMA JUMAT, 26 JANUARI 2018

Oleh. Dr. Tgk. Amir Khalis  ( Khatib Wakil Ketua Mahkamah Syariah Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dan  Alumni Universitas Zaitunah Tunisia)

Menurut Ali Syari’ati bahwa masyarakat islami berasal dari kata ummah yang dikaitkan dengan kata Imamah (kepemimpinan). Artinya, masyarakat dan kepemimpinan, tidak bisa dipisahkan. Dalam pengertian lain, bila ingin membangun dan membentuk masyarakat yang Islami, maka, tidak mungkin masyarakat itu sendiri yang membentuk dirinya sendiri, akan tetapi, Pemimpin juga wajib terlibat dan berperan didalamnya.

Dalam catatan sejarah, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Ada dua aktivitas yang sangat penting yang beliau lakukan pada awal tibanya di Madinah, untuk membangun masyarakat yang islami yaitu pendirian masjid Quba dan city state di Madinah. Dari dua peristiwa di atas, dapat disimpulkan, bahwa langkah pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW, dalam masyarakat adalah melaksanakan dua perintah Islam yang pokok yaitu membangun hubungan manusia dengan Allah SWT yaitu membangun masjid, yang merupakan tempat melaksanakan ibadah shalat dan merupakan pintu utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan hubungan manusia dengan manusia, dengan membangun sebuah Negara Madinah dalam rangka mensejahterakan masyarakat serta melindungi warganya secara hukum, melalui sebuah konstitusi Madinah. Kedua isitlah tersebut, dalam bahasa  al-Qur’an, disebut dengan hablun min allah wa hablun min al-nas. Menurut Prof. Dr. Ahmad Shalaby, bahwa masyarakat Islam yang dibentuk oleh Rasulullah SAW di Madinah, itulah masyarakat Islam yang pertama sekali.

Ciri Umum Masyarakat Islam

Walaupun al-Qur’an, tidak langsung menyatakan contoh tentang bentuk masyarakat yang ideal dalam pandangan Islam, akan tetapi, al-Qur’an memberikan gambaran secara umum atau ciri-ciri dan kualitas suatu masyarakat tertentu. Ada beberapa istilah yang digunakan oleh al-Qur’an, untuk menunjukkan tentang masyarakat islam yang ideal yaitu: ummatan wahidah, ummatan wasatha, ummatan muqtasidah dan khairu ummah.

Quraish Syihab menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ummatan wahidah adalah ummat yang satu, yaitu ummat yang mempunyai persamaan, saling berkaitan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain serta saling membutuhkan. Artinya ummat Islam yang ideal adalah ummat yang saling membantu satu sama lain dan saling peduli serta kasih sayang di antara mereka. Bukan ummat yang saling bermusuhan dan bukan ummat yang hanya berfikir untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya. Namun demikian, disisi lain, mereka juga berbeda dalam profesi dan kecenderungannya, dikarenakan sifat egoisme yang dapat muncul sewaktu-waktu, sehingga menimbulkan perselisihan dan juga diikuti dengan kepentingan begitu banyak, akan tetapi, dengan perbedaan tersebut, mereka juga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.

Untuk mewujudkan masyarakat yang Islami, tentu, tidak mudah, karena selain ada rintangan dan hambatan, juga, ada beberapa hal yang harus ada usaha dan kerja keras dalam mewujudkannya. Menurut Kuntowijoyo, ada tiga upaya untuk mewujudkan masyarakat yang Islami yaitu: Humanisasi: Upaya memanusiakan manusia, yaitu amar ma’ruf, memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan-kebaikan ditengah-tengah masyarakat.Liberasi: Membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kejahatan dan kemungkaran. Transendensi: Upaya mendekatkan diri kepada sang Pencipta, Allah SWT, melalui ibadah-ibadah yang dilakukan.

Amar Ma’ruf

Salah satu ciri masyarakat islam yang ideal adalah masyarakat yang saling mengajak kepada yang ma’ruf. Artinya masyarakat yang saling menasehati dan mengajak untuk melakukan kebaikan dan kebenaran serta kesabaran. Kata-kata ma’ruf, dalam al-Qur’an, disebutkan sebanyak 32 kali. Dalam setiap kali penyebutan, maknanya, diberi konteks tertentu. Banyak makna dari kata ma’ruf yang ditafsirkan oleh ulama. Al-Maraghi mengatakan bahwa ma’ruf adalah perkataan atau perbuatan yang sesuai dengan syara’ dan tidak diingkari oleh orang-orang yang mempunyai harga diri dan juga bukan termasuk pengkhianatan dan ketamakan.

Adapun perbuatan yang ma’ruf seperti mengajak orang lain untuk melaksanakan shalat berjamaah, bersedekah, saling membantu dalam kesusahan, dan menolong antar sesama, saling memaafkan serta saling menutup aib orang lain.

Selain itu, perkataan dan perbuatan ma’ruf baru dapat dikatakan bermakna dan bernilai, jika diiringi dengan cara yang baik, misalnya saja, sedekah itu, perbuatan ma’ruf (baik), akan tetapi, sedekah, tidak akan bernilai ketika si pemberi selalu mengungkit-ungkit tentang pemberiannya, yang menyebabkan sakit hati si penerima sedekah. Saling menyuruh untuk hal-hal yang baik inilah salah satu ciri masyarakat yang islami. Amar ma’ruf ini juga sering distilahkan dengan islam kultural artinya ajaran ajaran islam yang dapat berjalan dengan sendirinya, tanpa harus ada campur tangan pemerintah. Akan tetapi, keterlibatan pemimpin dalam menda’wahkannya dan membantu untuk mengajak kepada yang ma’ruf, tentu lebih utama.

Nahi Mungkar

Salah satu ciri masyarakat Islam yang ideal adalah masyarakat yang selalu mencegah kemungkaran agar tidak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Bila ditinjau dari segi bahasa, mungkar berarti segala sesuatu dipandang buruk, baik dari norma syari’at maupun norma akal sehat. Dalam al-Qur’an, makna munkar mempunyai banyak pengertian seperti dalam surat al-Maidah ayat 77 dan 78, munkar yang dimaksudkan disini kedurhakaan orang Yahudi dan Nasrani yang berlebih lebihan dalam beragama atau keyakinan. Akan tetapi, sebenarnya, yang dilarang dalam al-Qur’an, tidak hanya perbuatan munkar saja, juga perbuatan-perbuatan buruk lainnya juga dilarang.

Dengan kata lain, dari ayat al-Qur’an di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa, jika di sebuah masyarakat, kejahatan-kejahatan telah merajalela seperti: pembunuhan, zina, pencurian, perampokan, perjudian, minum khamar, korupsi, penipuan, homoseksual, lesbian dan kejahatan lainnnya. maka, bisa dipastikan, bahwa masyarakat tersebut belum dapat dikatakan masyarakat yang islami. Karena, salah satu masyarakat yang islami sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’an  adalah masyarakat yang jauh dari melakukan kejahatan. Dan perlu diketahui, dalam pencegahan kejahatan atau nahi munkar, tidak bisa dijalankan, kecuali dengan kekuatan kekuasaan yang sering disebut dengan Islam struktural. Artinya, tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan intervensi kekuasaan. Seperti pembunuhan yang sering terjadi akhir akhir ini, dalam islam, tidak dibenarkan masyarakat main hakim sendiri untuk membalas terhadap pelaku, akan tetapi, perlu tangan pemerintah untuk menyelesaikannya yaitu lewat proses peradilan.

Beriman

Rasulullah Saw dalam membentuk, membina dan memelihara iman masyarakat Madinah agar selalu dekat dengan Allah SWT, tidak hanya, lewat doktrin-doktrin ayat al-Qur’an saja, tetapi Rasulullah SAW memerintah dan mempraktekkan lewat ibadah-ibadah, khususnya ibadah shalat, terutama sekali praktek shalat berjamaah dalam kehidupan masyarakat Madinah.  Hal ini, pernah Rasulullah buktikan kepada para sahabatnya, dimana Rasulullah juga pernah memerintahkan dua orang datang memapah orang yang sakit ke rumahnya, kemudian setelah selesai shalat, diantar kembali ke rumahnya.

Ciri Khusus Masyarakat Islam

            Kejujuran adalah salah satu ciri khusus masyarakat yang islami, karena, kujujuran adalah jalan yang mengajak kepada kebaikan dan kebaikan adalah jalan menuju surga. Demikian juga berbohong adalah jalan menuju ke kepada kejahatan dan kejahatan adalah jalan menuju neraka. Tapi, akhir-akhir ini, kejujuran adalah sudah menjadi barang langka, karena sangat susah mencari orang-orang yang jujur. Bahkan, orang yang jujurpun, bisa tersingkir dalam pergaulan, karir dan percaturan politik saat ini. Bahkan, kepemimpinan juga sering tidak diberi kepercayaan kepada orang-orang yang jujur.

Selain kejujuran, nilai sebuah masyarakat islami juga sangat tergantung pada keadilan. Dari hadist tersebut di atas, Rasulullah SAW memberi penilaian, bahwa kebaikan serta kehancuran sebuah masyarakat salah satunya sangat tergantung pada keadilan dalam penegakan hukum. Jika hukum dan keadilan tegak di sebuah masyarakat, maka masyarakat tersebut, masih dikatakan masyarakat yang islami. Selain itu, mencegah yang mungkar lewat penegakan dan penerapan hukum, juga akan melahirkan keadilan dalam masyarakat. Maka, seorang hakim, harus adil, baik dengan dirinya sendiri yaitu dalam perbuatan (kesucian jiwanya), seorang hakim juga harus adil terhadap orang lain yaitu dengan tidak membeda-bedakan orang.

Disamping kejujuran dan keadilan, maka kasih sayang juga merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan masyarakat yang islami. Oleh karena itu, perdamaian, kasih sayang, saling memaafkan, sangat dianjurkan oleh Islam untuk selalu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah beberapa langkah di atas, untuk meujudkan masyarkat yang islami ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

                         

 

 

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.