Gerhana Bulan

Gerhana Bulan

GEMA JUMAT, 02 FEBRUARI 2018

Oleh H. Basri A. Bakar

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya

bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan

bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’ : 44)

 

Gerhana bulan total yang terjadi pada 31 Januari dua hari lalu disebut kejadian langka karena bertepatan dengan fenomena ‘supermoon’ dan ‘blue moon’, sehingga pihak Badan Antariksa AS (NASA) menamakan ‘Super Blue Blood Moon’.

Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut “khusuf”. Terjadinya gerhana bulan atau matahari merupakan bentuk kekuasaan dari sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Syariat Islam menganjurkan shalat sunat khusuf dua rakaat saat terjadi fenomena gerhana bulan. Ulama bersepakat bahwa shalat sunah ini hukumnya sunah muakkad baik bagi laki-laki atau perempuan.

Apa yang harus dilakukan oleh ummat selain shalat khusuf saat terjadnya gerhana? Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah, terjadinya gerhana bukan karena kematian seseorang, maka jika kalian melihat gerhana berdo’alah, bertakbirlah, dan bersedekahlah, lalu dirikanlah shalat”. (HR. Bukhari).

Dengan demikian detik-detik terjadnya gerhana bukan ditunggu dengan suka cita, bersorak ria apalagi membuat pesta menyambut gerhana, karena peristiwa gerhana bulan atau matahari tidak cukup dilihat sebagai sebuah fenomena alam, tetapi tanda-tanda (ayat) Allah yang jauh mendalam dari itu. Seyogianya peristiwa tersebut menjadi memontum untuk kita lebih mendekatkan diri kepadaNya dan tidak lupa bersyukur. Banyak isyarat Allah kepada kita hambaNya bahwa alam ini fana dan Allah yang Maha Berkehendak untuk mengatur segalanya termasuk kapan terjadinya kiamat dan Hari Berbangkit.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.