Semangat Islam Pengungsi Rohingya

Semangat Islam Pengungsi Rohingya

GEMA JUMAT, 02 FEBRUARI 2018

Tanggal 9 Januari merupakan waktu yang saya tunggu tunggu karena di hari tersebut merupakan hari keberangkatan kami, Tim 9 IHA ke Cox’s Bazar, Bangladesh. Sebenarnya saya sudah dijadwalkan berangkat pada tanggal 17

November 2017 akan tetapi batal karena berkaitan dengan pengurusan visa yang belum selesai. Tim IHA (Indonesian Humanitarian Alliance) merupakan gabungan dari berbagai lembaga yaitu MuhammadiyahAid,

Dompet Dhuafa, Darut Tauhid, Nahdatul Ulama, PKPU, Lazis Wahdah, dan Laznas LMI, yang mendapat dukungan dari Kementerian luar Negeri Indonesia. Aliansi ini bertujuan mengoptimalkan fungsi pemberian bantuan layanan

kemanusiaan. Untuk di Bangladesh, IHA berfokus pada kegiatan pemenuhan layanan korban terdampak konfl ik Myanmar. Untuk bidang kesehatan diketuai oleh seorang dokter yang berasal dari Muhammadiyah Aid.

Cox’s bazar, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Chittagong, Bangladesh. Berangkat menuju Cox’s Bazar membutuhkan waktu lebih kurang 12 jam. Tidak ada pesawat dari Jakarta yang langsung menuju Bandara Hazrat Shahjalal International Airport di Dhaka Bangladesh, akan tetapi harus transit dulu di Kuala Lumpur. Setelah sampai di Dhaka, juga harus naik pesawat lagi ke Cox’s Bazar yang membutuhkan waktu 1 jam.

Perjalanan kami dari penginapan setiap harinya membutuhkan waktu 1,5 jam kemudian berjalan kaki dengan jalanan yang mendaki dan juga menurun lebih kurang 500 meter jaraknya untuk mencapai IHA Medical Centre, pusat klinik kesehatan punyanya IHA, Indonesia. Di klinik ini kita hanya melayani pengobatan rawat jalan saja. Apabila ada pasien yang membutuhkan rawat inap maka akan kita rujuk ke Rumah Sakit lapangan yang berdekatan letaknya dengan klinik IHA. Pelayanan rawat jalan ini lebih kurang 5 jam setiap harinya dengan jumlah pasien berkisar 100 – 200 orang setiap harinya. Sebanyak 50-60% pasiennya adalah anak anak. IHA Medical Centre ini terletak di Kamp Jamtoli yang dihuni oleh sekitar 50 ribu pengungsi.

Penyakit yang paling banyak diderita oleh para pengungsi adalah infeksi saluran nafas, diare, dan masalah kulit. Wabah difteria juga sedang menyerang para pengungsi ini. Sudah dilakukan berbagai upaya dalam mengatasi penyebaran wabah termasuk sudah dilakukan vaksinasi difteri kepada semua pengungsi. Sambil memeriksa pasien dimana saya didampingi oleh seorang penerjemah yang bisa berbahasa Rohingya, sayapun menanyakan bagaimana kisah mereka bisa sampai ke pengungsian ini. Mereka semua lari (terusir) dari negaranya sendiri. Banyak dari keluarga mereka yang dibunuh, ditembak ataupun dibakar. Mereka terpaksa harus keluar dari tanah kelahirannya. Dengan melewati pegunungan yang berat medannya juga kemudian harus mengarungi lautan dengan menggunakan perahu. Ada juga sebagian yang meninggal dalam pelariannya, ada yang sedang hamil besar dan ada juga yang melahirkan di perjalanan tersebut. Sejak bulan Agustus gelombang pengungsian terus berdatangan ke Cox’s Bazar Bangladesh dan saat ini jumlahnya sudah mencapai 1,2 juta orang pengungsi. Selain pelayanan kesehatan kepada warga pengungsi, kami tim IHA juga memberikan penyuluhan kesehatan berupa bagaimana mencuci tangan, mengosok gigi yang benar dan juga penyuluhan kesehatan lainnya berupa anjuran mandi serta tidak meludah sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan. Mereka (anak anak) yang berada di sekitar klinik, setiap hari juga belajar berhitung, membaca dan pengetahuan umum lain yang diajarkan oleh relawan lokal.

Selain itu tepat di samping IHA Medical Centre terletak sebuah mesjid yang biasanya dipakai oleh para pengungsi untuk sholat Jumat dan juga sholat berjamaah setiap hari. Ada dua orang imam yang bergantian di mesjid ini. Mesjid ini terbuat dari bambu dan beratapkan terpal. Setiap hari setelah zuhur, diadakan pengajian yang diikuti oleh semua anak anak. Pengajian yang dimaksud adalah pengajian AL Quran yaitu dengan membaca secara bersamaan dan kemudian diarahkan oleh sang guru yang sekaligus merupakan imam di mesjid tersebut. Jadi walaupun mereka berada di pengungsian, Alhamdulillah kewajiban sebagai muslim/muslimah tetap mereka lakukan. Kita doakan mereka semua bisa istiqomah dalam Islam, bisa menjalankan setiap rukun Islam dengan aman dan nyaman dan tentu saja suatu hari bisa kembali ke negaranya yang merupakan tanah kelahiran mereka. Beribadah dengan bebas, hidup dengan nyaman tanpa gangguan dari pihak lain seperti yang selama ini mereka alami.

Penulis dr. Aslinar, SpA, M. Biomed Relawan Medis MuhammadiyahAid, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup & Penanggulangan Bencana PW Aisyiyah Aceh.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.