Waqaf Potensi Pembangunan

Waqaf Potensi Pembangunan

GEMA JUMAT, 02 FEBRUARI 2018

Wakaf merupakan ibadah maliyah yang memiliki potensi besar untuk dilakukan pengembangan. Harta benda yang diwakafkan, nilai dari wakafnya tetap, sedangkan hasil dari pengelolaan wakaf selalu memberikan mafaat dari hari ke hari. Ditinjau dari segi syari’ah wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan agama. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Wakaf merupakan ibadah maliyah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Harta benda yang diwakafkan, nilai dari wakafnya tetap, sedangkan hasil dari pengelolaan wakaf selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu. Dalam fungsinya sebagai ibadah, wakaf akan mengalirkan pahala terus-menerus selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Adapun fungsi sosialnya wakaf dapat menjadi jalan bagi pemerataan kesejahteraan di kalangan ummat dan penanggulangan kemiskinan di suatu negara apabila terkelola dengan baik.

Para ulama berpendapat bahwa hukum berwakaf itu merupakan anjuran agama, sebab wakaf merupakan salah satu bentuk kebajikan. Jadi, salah satu bentuk kebajikan melalui harta ialah dengan berwakaf. Terlebih, dengan ber-wakaf kebaikan akan terus mengalir bagi pemberi wakaf serta bagi penerima manfaat wakaf.

Wakil Ketua Dewan Pengawas Baitul Mal Kota Banda Aceh, Tgk. Masrul Aidi Lc, mengatakan, sejarah waqaf pertama kali terjadi pada sahabat Umar Ra. Umar Ra, memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk, umar berkata: “Hai Rasulullah SAW, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, Saya belum mendapat harta sebaik itu, Maka, Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah SAW bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Ibnu Umar berkata: “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah Ibnu sabil, dan tamu, dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf

makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.

“Kemudian berkembang dan diikut oleh sahabat lain, yang diwakafkan bukan hanya pada benda tetap, tapi mereka juga mewaqafkan kuda untuk berperang, mewaqafkan baju besinya untuk berperang, mewaqafkan perisai untuk berperang dan banyak benda lainnya yang diwaqafkan,” ujar Pimpinan Dayah Babul Maghfi rah, Aceh Besar.

Menurut Masrul, inti waqaf itu adalah untuk kemaslahatan umat islam, baik untuk fakir miskin maupun untuk umat islam itu sendiri. Bahkan sekarang lagi maraknya dengan waqaf al-Quran yang lagi dipratekkan di Arab Saudi, untuk jamaah haji.

Ia mengaku prihatin dengan masyarakat Aceh sekarang yang sudah hampir hilang budaya waqaf dimasyarakat Aceh itu sendiri. Dulu masyarakat Aceh sangat tinggi semangat waqafnya. Sehingga harta waqaf di Aceh itu luar biasa, bahkan satusatunya provinsi di Indonesia yang ada waqafnya di Arab Saudi adalah provinsi Aceh.

“Kita melihat bangunan masjid, dayah dan sekolah, hampir sebagian besarnya itu harta waqaf,” ungkap anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh ini.

Dulu, kata dia, dengan semangat orang tua untuk mewaqafkan harta di jalan Allah. Tetapi saat ini kita melihat semangat itu sudah berkurang, mungkin karena faktor harga propeti dan tanah lebih tinggi.

“Banyak kita melihat tanah waqaf yang tidak ada dokumentasi dan surat keterangan, mulai dikuasai oleh pihak-pihak tertentu untuk memiliki dan pemanfaatan yang memanfaatkan itu bukan oleh orang sepatutnya atau orang miskin dan buka untuk kemaslahatan umat orang banyak,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini juga, Masrul mengimbau kepada penerima waqaf agar mendata tanah waqaf dan mengurus sertifi kat. “Di Aceh banyak kita lihat tanah waqaf yang tidak terdata, maka ini harus didata untuk bisa dikelola dengan baik tanpa timbul permasalahan di kemudian hari,”paparnya.

Waqaf Habib Bugak Semnetara itu, Drs. H. Jamaluddin Affan menceritakan tentang sejarah harta waqaf Habib Bugak. Salah seorang hartawan dan dermawan Aceh Tgk H. Habib Bugak dan kawan-kawan mewaqafkan sebuah rumah di Qusyasyiah (waktu itu antara Marwah dan Masjidil Haram), sekarang sudah berada di dalam Masjidil Haram, dekat pintu Bab al-Falah.

Jamaluddin yang juga di tunjuk sebagai penghubung antara Pemerintah Aceh dengan Nazir waqaf Habib Bugak Asyi di Suadi Arabia pada tahun 2017 ini menjelaskan isi dari akta waqaf tersebut.

“Menurut akta ikrar waqaf yang disimpan dengan baik oleh nazhir, waqaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tahun 1224 Hijriah (sekitar tahun 1800 M) di depan Hakim Mahkamah Syariah Mekkah. Didalamnya disebutkan bahwa rumah tersebut diwaqafkan untuk penginapan orang Aceh yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah, sesuai dengan daya tamping rumah tersebut,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan tentang syarat menjadi nazhir dari harta waqaf Habib Bugak.

“Syarat untuk menjadi nazhir adalah seorang ulama asal aceh yang telah menetap di Mekkah, yang dapat di wariskan secara turun-temurun. Nazhir diberi hak untuk memilih siapa yang akan menempati rumah waqaf ini dan diberi hak untuk menyewakan sebagiannya untuk biaya pengelolaan dan perawatnya,” tuturnya.

Waktu perluasan masjidil haram tahun 50an rumah tersebut masuk kedalam proyek, diberi ganti rugi oleh pemerintah Arab Saudi. Nazhir membeli penggantinya dua buah rumah Jiyad bir Balilah dekat pintu masuk terowongan jiyad dan sebuah lagi di depan hotel syuhada, dan tetap ditempati jamaah haji asal Aceh serta mahasiswa asal Aceh di Mekah.

Pada tahun 1420 H (1999 M) Nazir syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani Asyi (generasi keempat pengelola waqaf) dapat pengukuhan sebagai nazir dari mahkamah syariah Mekkah. Sejak ini beliau berusaha agar jamaah haji Aceh mendapat manfaat dari rumah ini.

“Beliau juga mencari investor untuk mengembangkan tanah waqaf ini menjadi hotel yang representative,” ujaranya.

Namun beliau wafat tahun 1424 H (2004 M) sebelum usaha ini berhasil. Tugas nazhir dilanjutkan oleh sebuah tim dibawah pimpinan anak beliau Munir bin Abdul Ghani Asyi (generasi kelima) serta Dr. Abdul Lathif Baltho.

Dengan usaha yang gigih dari nazhir dan pemerintah provinsi Aceh sejak Gubernur Hadi Thayeb (yang melakukan hubungan formal pertama), sampai Gubernur Mustafa Abubakar sekarang (yang menerima kedatangan rombongan nazhir di Banda Aceh dan menanda tangani MoU), serta dukungan Menteri Agama Indonesia Maftuh Basyuni dan Menteri Haji Arab Saudi.

“Maka pada musim haji Tahun 1427 H ini, nazhir wakaf Habib Bugak Asyi akan mengganti uang sewa rumah jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah sebesar sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik rumah, yang besarnya berkisar antara SR 1.100 s/d SR 2.000,” tuturnya dengan rasa syukur.

Ia juga mengharapkan kepada jamaah haji Aceh yang telah mendapat manfaat dari wakaf ini bersyukur dengan tulus, menjaga silaturrahmi dengan nazhir, serta berdoa agar wakif mendapat pahala berlimpah atas amal jariah yang telah dia tanam sejak 200 tahun yang lalu. Sampai sekarang masih kita nikmati hasilnya, serta untuk nazhir agar tetap mampu mengelola dan mengembang wakaf ini sesuai dengan syarat wakif.

“Kita berdoa agar ada orang kaya Aceh sekarang yang bersedia menyisihkan hartanya sebagai wakaf, guna kesejahteraan generasi Aceh yang akan datang, baik ditanah Aceh ataupun ditempat lain,” tutupnya. Indra Kariadi

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.