Belajar Berceramah Sejak Kecil

Belajar Berceramah Sejak Kecil

GEMA JUMAT, 23 FEBRUARI 2018

Mursalin Basyah, Lc, M.Ag – Da’i Kondang

Ditemui Gema di Masjid Sabilil Jannah Gampong Doy Banda Aceh Ahad Subuh lalu, H. Mursalin Basyah (29 tahun) yang diundang sebagai penceramah Safari Subuh BBC menyempatkan diri berbicara tentang kiprahnya dalam berdakwah dan fenomena ummat saat ini.

Pria kelahiran Lhokseumawe, 21 Januari 1989 ini mengaku tidak ada pembinaan secara khusus dalam berceramah. Namun almarhum ayahnya Tgk. Muhammad Basyah Abbas punya kemampuan retorika yang baik dalam berkomunikasi sehingga sering menyampaikan tausiah atau ceramah di menasah atau masjid di samping juga seorang guru ngaji anak-anak di bale di kampungnya.  Bakat inilah yang kemudian secara genetik turun ke pemuda Mursalin waktu itu.

Masih beruntung, ibunya Ummi Kalsum yang juga sudah almarhum, seorang qariah yang sangat mahir membaca Al Quran. “Sering setiap subuh kami dibangunkan oleh suara lantunan Al Quran yang dibacakan oleh ibu, meski sehari-hari ibu bekerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah,” ujarnya mengenang.  Maka tak heran, sejak masih sekolah ‘aliyah di Dayah Ulumuddin, anak ketiga dari tiga bersaudara ini sesekali diminta naik khatib Jumat di masjid-masjid kampung di Punteut – Lhokseumawe.

Suami dari Emmy Syafriati ini menempuh jenjang pendidikan MIN (2001), MTs Dayah Ulumuddin Lhokseumawe (2004), melanjutkan ke MAS pada  Dayah yang sama (lulus 2007). Selanjutnya gelar Lc diperoleh dari Universitas Al Azhar, Cairo – Mesir jurusan Ilmu Bahasa Arab (2011), sedangkan jenjang S2 ditempuh di UIN Ar Raniry Banda Aceh jurusan Pendidikan Bahasa Arab (2017).

Saat ini Mursalin sudah menjadi da’i kondang yang kerap diundang berceramah atau sebagai khatib ke berbagai tempat. Topik ceramahnya tidak pernah habis dan sarat dengan nasehat. Meski usianya masih terbilang muda, dosen tetap STAI Tgk Chik Pante Kulu ini berwawasan luas, sehingga sering mengisi ceramah Subuh Keliling (Suling) Sabtu DKMA dan Safari Subuh Ahad. Jamaah mengaku puas dengan materi ceramahnya yang berbobot.

Selain berceramah, Mursalin aktif di berbagai organisasi, seperti Pengurus Ikatan Alumni Timur Tengah  (IKAT) Aceh,  Pengurus Badan Koordinasi Muballigh Indonesia (BAKOMUBIN) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh (DDA) dan Da’i Perkotaan Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh. Selain itu ia juga salah seorang staf NGO Qatar Charity Aceh 2013 – 2018.

Menanggapi tentang hoax atau berita fitnah dan bohong yang berkembang pesat di akhir zaman ini, ia mengatakan, dampak hoax lebih dahsyat dari bom atom. “Jika bom atom hanya membunuh manusia satu generasi, tapi hoax mampu merusak banyak generasi yang panjang berabad-abad lamanya,” ujarnya.

Oleh karena itu Mursalin mengingatkan agar ummat Islam mampu memilih dan memilah setiap berita, jangan sampai tertipu. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa yang penuh dengan kebohongan (hoax), orang yang jujur akan dianggap pembohong, pembohong akan dianggap orang jujur. Pengkhianat dianggap amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat “. (HR. Ahmad)

Di akhir wawancara dengan Gema, Mursalin menasehati kita memperkuat syariat di tanah titipan para aulia ini dengan menyemarakkan majelis ilmu dan majelis zikir di setiap masjid atau meunasah di seluruh pelosok negeri. (Baskar)

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.