Mengakuratkan Kiblat, Mengapa?

Mengakuratkan Kiblat, Mengapa?

 

GEMA JUMAT, 23 FEBRUARI 2018

Kiblat merupakan bentuk penyatuan umat Islam seluruh dunia. Kiblat Islam sendiri berpusat ke kiblat. Sedangkan

kiblat umat Islam pertama ialah Masjidil Aqsha yang terletak di Palestina. Sebelum diantar ke surge oleh malaikat Jibril, Nabi Muhammad saw singgah di Masjidil Aqsha. Hal itu menjadi salah satu sebab mengapa umat Islam di dunia merasa memiliki Masjidil Aqsha.

Bahkan, Masjidil Aqsha disebutkan dalam Alquran pada ayat pertama surat Al-Isra. Allah menjelaskan bahwa sekeliling Masjidil Aqsha diberkahi. Kemudian, atas perintah Allah, kiblat berpindah ke Masjidil Haram, Mekkah, tepatnya berpusat ke ka’bah.

Dr H Agustin Hanafi , MA, Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, menjelaskan bahwa ketika umat Islam berkiblat ke ka’bah, bukan berarti menyembahnya. Melainkan itu bentuk ketaatan umat Islam kepada Allah. Allah memerintahkan perpindahan kiblat ke ka’bah sesuai yang tercantum pada surat Al-Baqarah ayat 142-145.

“Kiblat menyatukan umat Islam di seluruh dunia,” ujarnya kepada Gema Baiturrahman.

Dunia semakin berkembang. Meskipun jarak Aceh dan Mekkah begitu jauh, penentuan arah kiblat semakin mudah menggunakan kecanggihan teknologi. Apalagi dengan kehadiran teknologi android, penentuan arah kiblat bisa menggunakan telepon genggam. Di Aceh sendiri, sudah banyak masjid dan meunasah diakuratkan kiblatnya. Karena ternyata, kiblat sebelumnya beberapa derajat tidak akurat.

Dr Agustin menyambut baik pengakuratan kiblat. Menurutnya, kita tidak bisa menyamakan dengan kondisi dulu. “Zaman semakin berkembang, kita harus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya. Maksud Dr Agustin adalah bahwa kita perlu mengakuratkan kiblat karena ada alatnya yang sudah canggih.

Pengurus masjid bisa meminta bantuan secara gratis kepada Kementrian Agama Aceh dan Badan Hisab Rukyat Aceh untuk mengakuratkan kiblat masjid dan meunasah. Hal itu sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Kementrian Agama Pasal 33 Ayat 4 bahwa Kementrian Agama Provinsi Aceh beserta instansi di bawahnya menjadi pelaksana pelayanan di Bidang Hisab Rukyat termasuk pengukuran dan penetapan arah kiblat di Aceh.

Kata Tgk Alfi rdaus Putra SHI MH, Tenaga Falakiyah, Hisab dan Rukyat di Kanwil Kementrian Agama Aceh, apabila terjadi sengketa pengukuran arah kiblat, Kementrian Agama menyediakan tim teknis hisab rukyat untuk pengukuran arah kiblat setelah selesai musyawarah dan mufakat. Sedangkan fatwa atau pendapat hukum tentang arah kiblat tetap menjadi wewenang Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI).

Pengukuran arah kiblat di rumah umat muslim secara sederhana dapat dilakukan dengan menunggu matahari berada di atas ka’bah atau sering disebut dengan rashdul kiblat, yaitu ketika bayang bayang matahari lurus dengan arah ka’bah Baitullah.

Rashdul qiblat ini terjadi 2 kali setahun yaitu pada tanggal 27-28 Mei pukul 17.18 WIB atau tanggal 15-16 Juli Pukul 16.27 WIB. Pada tanggal tersebut masyarakat dapat melihat arah kiblat hanya dengan melihat bayang bayang sebuah benda yang tegak lurus. Bayang bayang tersebut adalah arah kiblat.

“Kementrian Agama Aceh menghimbau agar mengukur arah kiblat di rumah masing-masing pada hari rashdul kiblat,” imbuhnya.

Jikalau Masyarakat ingin menggunakan kompas atau android untuk pengukuran kiblat sederhana di rumah, dapat juga dengan mengarahkan kompas ke arah 292 derajat, atau ke arah 22 derajat dari barat ke kanan.

Sedangkan untuk pengukuran masjid dan musala sebagaimana ketentuan Kepala Kanwil Kementrian Agama di atas setelah bermusyawarah dan bermufakat sesama jamaah masjid dan musala yang dituangkan dalam sebuah surat permohonan kepada Kementrian Agama.  Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.